Ikuti Kami Di Medsos

Daerah

Seminar Maulid Nabi dan Ikhtiar Merawat Dialog Antarmazhab Dibuka Ustadz Miqdad Turkan

Published

on

Semarang, 5 September 2026 – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW biasanya menjadi momentum untuk mengenang perjalanan hidup Rasulullah, meneladani akhlaknya, dan menghidupkan kembali kecintaan kepada beliau. Di Semarang, peringatan Maulid kali ini juga dihubungkan dengan persoalan yang masih dihadapi umat hingga sekarang, yakni bagaimana menjaga persaudaraan di tengah perbedaan mazhab, pandangan, dan keyakinan.

Seminar Nasional Pendekatan Antarmazhab Islam yang digelar di Astina Hall, Hotel Grasia, Semarang, Sabtu (5/9), mempertemukan tokoh-tokoh Islam, akademisi, serta pemuka agama. Persatuan antarmazhab menjadi tema utama seminar, namun peserta dan pembicara yang hadir tidak hanya berasal dari kalangan Muslim.

Prof. Dr. H. Abu Hapsin, MA, PhD, Wakil Ketua MUI Jawa Tengah, hadir sebagai keynote speaker. Sejumlah tokoh lain turut menjadi pembicara, di antaranya Prof. Sumanto Al Qurtuby, PhD, dari Center for the Study of Religion and Christian-Muslim Relations UKSW Salatiga; Ustadz Zahir Yahya, M.A., Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (DPP ABI); Prof. Dr. Rozihan, S.H., M.Ag, Wakil Ketua PWI Muhammadiyah Jawa Tengah; serta Pdt. Aryanto Nugroho, Ketua Badan Pimpinan Pusat Gereja JAGI.

Diskusi dipandu oleh K.H. Drs. Taslim Syahlan, Sekretaris Jenderal Asosiasi Forum Kerukunan Umat Beragama Indonesia.

Dalam sambutan pembukaan, Ustadz Miqdad Turkan menyinggung pertanyaan yang mungkin muncul ketika melihat peserta yang hadir. Mengapa sebuah peringatan Maulid Nabi yang mengangkat tema persatuan antarmazhab juga menghadirkan tokoh dari agama lain?

Menurutnya, pertanyaan itu berkaitan dengan cara memandang Nabi Muhammad SAW dan risalah yang dibawanya.

“Kenapa Maulid Nabi kemudian dikaitkan dengan persatuan antarmazhab, tetapi yang hadir bukan hanya umat Islam? Karena Nabi Muhammad dihormati oleh banyak orang dan dakwah Nabi juga ditujukan kepada manusia,” katanya.

Bagi Ustadz Miqdad, pembicaraan mengenai persatuan tidak hanya penting ketika berhadapan dengan perbedaan mazhab atau kelompok yang besar. Dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan dan pertentangan bahkan bisa muncul di lingkungan yang paling dekat, termasuk di dalam organisasi dan komunitas yang sama.

Karena itu, ia mengaku prihatin melihat perselisihan yang masih terjadi di antara sesama Muslim. Baginya, keadaan tersebut sulit dilepaskan dari ajaran Nabi Muhammad SAW yang menempatkan persatuan sebagai bagian penting dalam kehidupan umat.

“Secara pribadi saya merasa malu ketika sesama Muslim berseteru. Nabi mengajarkan persatuan, tetapi di lapangan kita masih jauh dari apa yang diajarkan Rasulullah,” ujarnya.

Bagi Ustadz Miqdad, menjaga persatuan bukan hanya persoalan hubungan di dalam tubuh umat Islam. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam, kebersamaan harus terus dirawat. Perbedaan akan selalu ada, tetapi cara menyikapinya menentukan apakah perbedaan itu menjadi sumber pertentangan atau justru menjadi jalan untuk saling mengenal dan memahami.

Dari situ, peringatan Maulid Nabi tidak berhenti pada mengenang sosok Rasulullah. Keteladanan beliau juga dapat menjadi pengingat bagi umat untuk melihat kembali cara mereka memperlakukan sesama, terutama ketika berhadapan dengan perbedaan. []

Continue Reading