Internasional
The Guardian: Israel Gunakan Taser Buatan AS untuk Menyiksa Tahanan Palestina

Media ABI, 24 Oktober 2026 – Investigasi media Inggris, The Guardian, mengungkap penggunaan senjata kejut listrik (taser) buatan perusahaan Amerika Serikat, Axon, untuk menyiksa tahanan Palestina di penjara-penjara Israel. Menurut laporan tersebut, penyiksaan menggunakan perangkat itu menimbulkan dampak kesehatan berkepanjangan, mulai dari gangguan saraf, kejang otot parah, dan gangguan penglihatan hingga kehilangan kesadaran berulang, bahkan setelah para korban dibebaskan.
Baca juga: Iran Siapkan Dewan Perang Ekonomi untuk Menghadapi AS

Menurut Farsnews Agency pada Sabtu (24/10/2026), investigasi The Guardian menyingkap dugaan praktik penyiksaan terhadap tahanan Palestina sekaligus menyoroti rantai pasokan peralatan keamanan asal Amerika Serikat. Laporan yang disusun bekerja sama dengan Jaringan Jurnalis Investigasi Arab itu menghimpun wawancara dengan empat mantan tahanan Palestina, pemeriksaan jejak fisik penyiksaan, serta dokumentasi visual yang dirilis sejumlah organisasi hak asasi manusia.
Dalam sejumlah kesaksian, para korban mengungkapkan bahwa tubuh mereka dibasahi sebelum disetrum, sebuah praktik yang menurut mereka memperberat rasa sakit. The Guardian juga melaporkan bahwa para eksekutif Axon mengetahui produk perusahaan digunakan terhadap warga Palestina, tetapi Axon tetap berkepentingan melanjutkan pasokan peralatan kepada lembaga keamanan Israel. Temuan ini turut menyoroti peran Amerika Serikat sebagai pemasok peralatan keamanan yang digunakan Israel.
Penyiksaan di “Sayap Setan” Penjara Ofer
Salah satu kesaksian paling konkret dalam investigasi tersebut datang dari Issa, pria berusia 43 tahun yang ditangkap di Kamp Pengungsi Jabalia pada Januari 2024. Ia kehilangan kedua kakinya akibat serangan rudal Israel dan tinggal di kamp pengungsi setelahnya. Seusai penangkapan, Issa dipindahkan ke Penjara Ofer dan dibebaskan pada Oktober 2025. Kepada wartawan The Guardian, ia menuturkan bahwa tentara Israel membawanya ke bagian penjara yang dikenal sebagai “Sayap Setan”, sebutan yang merujuk pada kekerasan ekstrem terhadap tahanan Palestina di lokasi tersebut.
Issa menceritakan bahwa dirinya dilemparkan secara kasar ke sudut ruangan sebelum ditembak dengan dua peluru plastik. Tentara kemudian mengikat tangannya dan bagian kakinya yang tersisa. Dalam keadaan tidak berdaya, ia dipukuli dan berulang kali disetrum menggunakan senjata kejut listrik yang ditempelkan ke sejumlah bagian tubuhnya.
Baca juga: Meidas News Bongkar Kerusakan Pangkalan AS, Personel Mengaku Ditelantarkan
Penderitaan Issa tidak berakhir ketika ia meninggalkan penjara. Lebih dari satu setengah tahun setelah penyiksaan tersebut, bekas sengatan listrik masih terlihat pada tubuhnya. Dewan Rehabilitasi Korban Penyiksaan Internasional, sebagaimana dikutip dalam laporan itu, menilai kedekatan dua bekas luka pada tubuh Issa konsisten dengan kesaksian bahwa ia berulang kali disetrum dalam keadaan terikat erat.
Kesaksian Issa diperkuat oleh keterangan tiga mantan tahanan Palestina lainnya yang mengaku kepada The Guardian bahwa mereka mengalami penyiksaan menggunakan perangkat buatan Axon pada 2024 dan 2025. Salah seorang korban mengatakan tubuhnya terlebih dahulu dibasahi sebelum disetrum. Para penyintas tersebut melaporkan gangguan penglihatan berat, kejang otot, gangguan saraf, serta kehilangan kesadaran berulang.
Kesaksian-kesaksian tersebut memperlihatkan dampak penyiksaan yang melampaui masa penahanan. Namun, dugaan kekerasan terhadap tahanan Palestina tidak terbatas pada penggunaan sengatan listrik. Laporan mengenai kekerasan seksual di fasilitas penahanan Israel memperluas persoalan ini sekaligus mempertegas urgensi penyelidikan atas perlakuan terhadap para tahanan.
Sengatan Listrik dan Kekerasan Seksual terhadap Tahanan
Penggunaan sengatan listrik terhadap tahanan Palestina juga dilaporkan terjadi di luar Penjara Ofer. Pada Agustus 2025, Komisi Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan Palestina mengumumkan bahwa para tahanan di Penjara Gilboa mengalami penyiksaan menggunakan sengatan listrik. Menurut laporan tersebut, para tahanan diseret secara paksa ke tempat pancuran di halaman penjara, tubuh mereka dibasahi, kemudian kembali disetrum. Komisi itu tidak menyebutkan model senjata yang digunakan.
Sorotan terhadap praktik tersebut semakin serius ketika penggunaan taser turut muncul dalam laporan mengenai kekerasan seksual. The Guardian menyoroti kasus lima tentara Israel yang didakwa melakukan pelecehan seksual terhadap seorang tahanan Palestina di fasilitas penahanan Sde Teiman pada Juli 2024. Investigasi yang dilakukan Itai Ofir, Jaksa Militer Israel, menunjukkan bahwa para tentara tersebut menggunakan senjata taser saat menyiksa tahanan itu. Korban dilaporkan mengalami luka hingga harus dirawat di rumah sakit.
Kasus tersebut menggambarkan dugaan persinggungan antara kekerasan fisik dan kekerasan seksual terhadap tahanan Palestina. Pada November 2025, Komite PBB Menentang Penyiksaan menyatakan bahwa laporan penyiksaan dan pemerkosaan di fasilitas penahanan Israel meningkat tajam sejak 7 Oktober 2023. Komite itu menyampaikan keprihatinan serius atas laporan meluas mengenai pelecehan seksual terhadap tahanan Palestina, termasuk pemerkosaan, penyiksaan bernuansa seksual, dan penggunaan sengatan listrik pada bagian tubuh yang sensitif.
Baca juga: Gejolak Hormuz Mengguncang Wall Street
Berbagai laporan tersebut membawa persoalan melampaui tindakan aparat di ruang penahanan. Asal-usul peralatan, jalur distribusi, dan pengetahuan pihak pemasok mengenai risiko penyalahgunaan menjadi aspek penting yang perlu ditelusuri. Dalam konteks inilah hubungan bisnis antara produsen senjata kejut listrik dan lembaga keamanan Israel mendapat sorotan.

Perusahaan Amerika dan Pasokan Peralatan ke Israel
Investigasi The Guardian menelusuri hubungan bisnis Axon dengan Israel yang disebut telah berlangsung sejak 1995. Pada 2016, melalui distributor Israel-nya, perusahaan tersebut menandatangani kontrak senilai 13 juta shekel untuk memasok senjata taser model X26P beserta perlengkapannya kepada lembaga keamanan Israel.
Pada 2025, Axon menunjuk perusahaan Israel, Goren Kidon, sebagai distributor produknya di negara tersebut. Klien perusahaan itu mencakup Kepolisian Israel, Kementerian Keamanan Nasional, Kementerian Pertahanan, dan Layanan Penjara Israel. Pada Juni 2025, Goren Kidon memperkenalkan model terbaru senjata kejut listrik Axon kepada perwakilan lembaga keamanan Israel dalam sebuah konferensi di Israel.
Kerja sama komersial tersebut berlangsung di tengah desakan Amnesty International agar ekspor peralatan semacam itu dibatasi. Senjata Axon diproduksi di Amerika Serikat dan ekspornya berada di bawah pengawasan Departemen Perdagangan AS. Dalam proses perizinan, otoritas terkait diwajibkan mempertimbangkan bukti pelanggaran hak asasi manusia di negara tujuan ekspor.
Jejak bisnis ini mengangkat persoalan tanggung jawab korporasi dalam rantai pasokan peralatan keamanan. Pertanyaan mendasarnya bukan hanya siapa yang menggunakan senjata untuk menyiksa tahanan, tetapi juga sejauh mana produsen dan distributor mengetahui, atau semestinya memperhitungkan, risiko penyalahgunaan produknya. Meski demikian, hubungan dagang dan dugaan penyalahgunaan produk harus dibedakan dari pembuktian tanggung jawab hukum perusahaan dalam kasus tertentu.
Pasokan Amerika dan Pertanggungjawaban atas Penyiksaan
Persoalan pasokan peralatan keamanan tidak berhenti pada satu perusahaan. Amani Al-Sarahneh dari Klub Tahanan Palestina mengatakan kepada The Guardian bahwa sengatan listrik mungkin hanya satu dari puluhan jenis senjata yang digunakan terhadap tahanan Palestina. Identitas pemasok berbagai peralatan lainnya, menurutnya, masih belum diketahui. Namun, ia menyebut sebagian besar peralatan impor yang digunakan Israel berasal dari Amerika Serikat.
Baca juga: Gelombang Evakuasi Meluas ke Fasilitas Aramco Lainnya
Skala persoalan perlakuan terhadap tahanan juga tercermin dalam angka kematian selama penahanan. The Guardian mengutip laporan sejumlah organisasi nonpemerintah Israel yang menyebut sedikitnya 92 warga Palestina meninggal dalam tahanan sejak Oktober 2023. Angka tersebut menambah bobot kekhawatiran mengenai kondisi penahanan, meskipun penyebab kematian setiap korban perlu ditentukan berdasarkan dokumentasi dan hasil penyelidikan masing-masing kasus.

Kesaksian para penyintas, bukti fisik penyiksaan, serta laporan penggunaan senjata kejut listrik memperkuat desakan agar dugaan pelanggaran terhadap tahanan Palestina diselidiki secara independen dan dipertanggungjawabkan melalui mekanisme hukum yang relevan. Penelusuran rantai pasokan juga menegaskan pentingnya pengawasan ekspor dan pemeriksaan atas peran perusahaan, terutama ketika terdapat indikasi bahwa produk komersial digunakan dalam tindakan penyiksaan.
The Guardian menyatakan telah menghubungi Axon dan Layanan Penjara Israel untuk meminta keterangan mengenai temuan investigasi tersebut. Namun, menurut laporan itu, keduanya tidak memberikan tanggapan.
Ketiadaan tanggapan tersebut menyisakan pertanyaan mengenai penggunaan perangkat, pengawasan distribusinya, dan pertanggungjawaban atas dugaan penyiksaan. Pada akhirnya, persoalan ini bukan hanya tentang senjata yang digunakan untuk menyakiti tahanan, melainkan juga tentang rantai tanggung jawab di baliknya: dari aparat yang diduga melakukan penyiksaan hingga pihak-pihak yang memasok peralatan, serta mekanisme pengawasan yang seharusnya mencegah penyalahgunaannya. []
Baca juga: Jerman Peringatkan Krisis Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb Bisa Picu Kelaparan







