Internasional
Mantan Duta Besar Inggris: Trump Tak Memahami Sejarah Peradaban Iran

MEDIA ABI, 16 Oktober 2026 – Mantan Duta Besar Inggris untuk Iran, Nicholas Hopton, menilai ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menghancurkan peradaban Iran menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap sejarah negara tersebut dan pengaruhnya terhadap kebudayaan Barat. Dalam wawancara dengan program Nawafidh di jaringan Arab 21 yang diberitakan Kantor Berita Farsnews pada Jumat (16/10/26), Hopton juga menilai perang Amerika Serikat dan Israel keliru memperhitungkan ketahanan Iran serta berpotensi membawa dampak luas bagi geopolitik dan ekonomi dunia.
Baca juga: Tembakan Iran Lolos dari Jaringan Pengawasan Amerika Serikat
Menurut Hopton, pengalaman perang Iran-Irak turut membentuk cara pandang para pemimpin Iran terhadap keamanan dan ancaman asing. Banyak di antara mereka pernah terlibat dalam perang tersebut dan menyaksikan gugurnya banyak pemuda Iran. Latar belakang itu, ditambah kemampuan negara menghadapi tekanan dan sanksi selama bertahun-tahun, membuat anggapan bahwa serangan militer dapat mengubah sistem politik Iran dalam waktu singkat menjadi keliru.
Dia juga menyoroti perkiraan bahwa perang dapat diselesaikan dalam 100 jam. Meski menghadapi serangan berat, pembunuhan sejumlah pemimpin senior, dan pemboman berkelanjutan, pemerintah Iran tetap bertahan.
Hopton mengkritik ancaman Trump untuk mengembalikan Iran ke Zaman Batu. Menurutnya, penghancuran peradaban Iran tidak hanya akan merusak negara tersebut, tetapi juga sebagian warisan budaya yang memengaruhi peradaban lain.
“Menghancurkan sejarah dan peradaban Iran bukan hanya berarti menyerang negara itu, melainkan juga merusak sebagian akar peradaban kawasan, bahkan peradaban Barat,” ujarnya.
Dia mencontohkan tradisi taman Persia yang dikenal sejak zaman kuno. Tradisi tersebut menyebar ke Mesopotamia dan sebagian wilayah Arab, kemudian memengaruhi taman-taman di Andalusia dan Eropa Selatan. Jejaknya juga terlihat dalam taman Italia pada era Renaisans dan taman Inggris.
Hopton menilai hubungan historis tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan Iran merupakan bagian dari warisan peradaban yang lebih luas.
Pembunuhan pemimpin tak menjamin keruntuhan Iran
Hopton meragukan strategi Israel yang mengandalkan penyingkiran pemimpin dan komandan militer secara berulang untuk melemahkan pemerintahan Iran. Pendekatan yang dikenal sebagai mowing the grass itu, menurutnya, juga diikuti Amerika Serikat pada tahap awal perang.
Namun, strategi tersebut belum terbukti menghasilkan tujuan yang diharapkan. Para pemimpin dan komandan pengganti dinilai memiliki pengalaman serta kesiapan untuk melanjutkan tugas pendahulunya.
Hopton memperkirakan bahwa dukungan ideologis dari 15 hingga 20 persen penduduk Iran saja sudah mencakup jutaan orang. Dia juga mengklaim mayoritas warga Iran, terutama generasi muda, menginginkan kondisi berbeda. Namun, aspirasi tersebut tidak berarti sistem politik dapat diubah dengan cepat melalui pembunuhan pemimpin militer dan politik.
Baca juga: Pejabat Saudi Bantah Bertemu Netanyahu di Abu Dhabi
Atas dasar itu, dia menilai asumsi bahwa serangan militer dapat meruntuhkan atau melemahkan Republik Islam dalam waktu singkat sejak awal patut diragukan.
Mantan Dubes Inggris untuk Iran, Qatar, dan Yaman tersebut juga menyebut keputusan Amerika Serikat dan Israel memulai perang sebagai kesalahan. Sebelum konflik pecah, Menteri Luar Negeri Oman yang menjadi mediator antara Teheran dan Washington telah mendatangi Washington untuk mencegah serangan. Sejumlah negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk juga disebut menyampaikan peringatan serupa.
Negara-negara Eropa memilih menjaga jarak dari konflik, antara lain karena tidak dilibatkan dalam keputusan untuk memulai perang. Di kawasan Teluk, pengabaian Washington terhadap saran sekutunya memicu kekhawatiran karena mereka ikut menghadapi risiko keamanan dan ekonomi. Hopton menilai negara-negara Teluk termasuk pihak yang paling dirugikan oleh perang.
Perang dapat mengubah perhitungan nuklir dan geopolitik
Hopton memperingatkan bahwa perang justru dapat memperkuat argumen kelompok di Iran yang meyakini kepemilikan senjata nuklir dapat mencegah serangan terhadap negara tersebut. Meskipun Teheran menyatakan tidak berupaya mengembangkan senjata nuklir, serangan yang dialami Iran berpotensi melemahkan hambatan politik terhadap gagasan itu.
Menurutnya, konflik yang dimaksudkan untuk membatasi ancaman justru dapat meningkatkan dorongan Iran untuk memperoleh senjata nuklir. Dia juga menyoroti Selat Hormuz sebagai instrumen strategis yang penting bagi Teheran karena perannya dalam perekonomian dunia.
Dalam jangka panjang, Hopton memperkirakan perang akan mengubah keseimbangan kekuatan global. Dia menyebut konflik tersebut sebagai Perang Teluk ketiga yang dampaknya dapat melampaui Timur Tengah.
Sebelum perang, Amerika Serikat telah mengurangi kehadiran militernya secara bertahap di Eropa dan Timur Tengah untuk memusatkan perhatian pada Asia. Hopton memperkirakan kecenderungan itu akan berlanjut.
Konflik juga berpotensi menimbulkan konsekuensi politik bagi Trump di dalam negeri. Dia sebelumnya meraih kekuasaan dengan janji menghindari perang baru, tetapi kemudian membawa Amerika Serikat ke dalam konflik. Sejumlah pengkritik menilai kebijakan tersebut lebih mengutamakan kepentingan Israel.
Baca juga: IRGC Sebut Hormuz Jadi “Medan Perburuan” Drone Laut AS
Sebaliknya, China dan Rusia dinilai memperoleh keuntungan dari perkembangan tersebut. China tidak terlibat langsung dalam konflik, sedangkan Rusia diuntungkan oleh berkurangnya perhatian Washington terhadap perang Ukraina dan pelonggaran sementara pembatasan ekspor minyaknya. Menurut Hopton, perkembangan ini dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan dunia dalam jangka panjang.
Gangguan pasokan mengancam ekonomi dunia
Dampak ekonomi perang diperkirakan berlanjut meskipun pertempuran berskala besar tidak kembali terjadi. Hopton mengatakan negara-negara Asia yang bergantung pada impor energi sangat rentan terhadap gangguan pasokan. Di Eropa, kenaikan harga energi telah mendorong inflasi dan meningkatkan biaya hidup, termasuk di Inggris.
Dampaknya tidak terbatas pada minyak dan gas. Selat Hormuz juga menjadi jalur penting bagi pasokan pupuk kimia dan helium dunia. Gangguan pasokan dapat memengaruhi produksi pangan, rantai pasok industri, serta pengembangan teknologi maju. Hopton secara khusus menyoroti peran helium dalam pengembangan kecerdasan buatan yang menurutnya belum banyak mendapat perhatian.
Dia memperkirakan tekanan ekonomi dapat semakin terasa selama enam bulan mendatang karena gangguan rantai pasok dan jalur produksi biasanya membutuhkan waktu sebelum dampaknya terlihat secara luas.
Untuk beberapa bulan ke depan, Hopton memperkirakan perang berskala besar tidak segera berlanjut, tetapi bentrokan terbatas dan konflik berkepanjangan masih mungkin terjadi. Penyitaan kapal oleh Iran dan Amerika Serikat serta penurunan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz menjadi bagian dari situasi yang dapat terus menekan perekonomian global.
Hopton menilai kebuntuan tersebut membutuhkan inisiatif diplomatik yang serius. Pakistan, sejumlah negara Teluk, Turki, dan Mesir telah berupaya mendorong kemajuan perundingan, tetapi belum menghasilkan perkembangan berarti.
Menurutnya, perundingan hanya akan membawa hasil jika kedua pihak mencapai pemahaman bersama mengenai kerangka kesepakatan. Meski peluang tercapainya kesepakatan saat ini dinilainya belum kuat, kedua pihak pada akhirnya mungkin harus kembali ke meja perundingan. []
Baca juga: Perang Iran Kuras Rudal AS, Pengiriman ke Sekutu Molor Lima Tahun







