Kegiatan ABI
HIKDMAT Hadir Membawa Bantuan dan Harapan bagi Warga Terdampak Krisis Air di Srikandang

Bangsri, 17 Oktober 2026 — Krisis air bersih yang melanda Desa Srikandang, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara, mendorong Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) HIKDMAT menyalurkan bantuan air bersih pada Jumat (16/10/2026). Kegiatan ini merupakan tindak lanjut atas permintaan Pemerintah Desa Srikandang menyusul menurunnya debit sumber mata air yang selama ini menjadi andalan warga. Informasi tersebut disampaikan Humas HIKDMAT, Ali Ridho, kepada Media ABI pada Sabtu (17/10/2026).
Baca juga: Kerja Sama HIKDMAT dan BANSER Bedah Rumah Warga di Jepara
Sebanyak 10 personel diterjunkan untuk menyalurkan bantuan di RW 7 RT 3 dan RW 2 RT 1. Di RW 7 RT 3, sebanyak 3.000 liter air bersih disalurkan untuk membantu 57 kepala keluarga yang terdampak.
Arif, pengurus RT setempat, menjelaskan bahwa sumber mata air dari kawasan gunung hampir sepekan terakhir tidak mengalir normal. Kalaupun mengalir, debitnya sangat kecil sehingga tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Warga pun sepakat memprioritaskan kebutuhan air untuk musala sebelum membagikannya bagi keperluan rumah tangga.

Air Lebih Mendesak daripada Beras
Kesulitan warga tergambar dalam percakapan antara tim HIKDMAT dan Juwi, seorang warga berusia sekitar 55 tahun, saat koordinasi pembagian air berlangsung.
“Mangke wonten toyo?” tanyanya dalam bahasa Jawa, yang berarti, “Nanti ada air?”
Setelah mendapat kepastian bahwa bantuan air tersedia, Juwi spontan mengucapkan, “Alhamdulillah.” Ia bercerita bahwa selama dua hari terakhir rumahnya tidak memiliki persediaan air, bahkan untuk memenuhi kebutuhan kamar mandi.
Ia kemudian mengungkapkan kalimat yang menggambarkan beratnya kehidupan tanpa air bersih.
Baca juga: HIKDMAT Gelar Pelatihan Dasar SAR dan PPGD Bersama BPBD Jepara
“Wong ora duwe banyu kuwi luwih angel tinimbang ora duwe beras,” tuturnya, yang berarti, “Orang tidak punya air itu lebih susah daripada tidak punya beras.”
Ungkapan tersebut menggambarkan betapa mendasarnya kebutuhan air dalam kehidupan sehari-hari. Ketika pasokan terhenti, kebutuhan rumah tangga dan kebersihan pun sulit dipenuhi.

Memenuhi Kebutuhan Warga dan Tempat Ibadah
Setelah Isya, tim HIKDMAT melanjutkan penyaluran ke RW 2 RT 1 atas permintaan Gianto, pengurus Musala Nurul Falah. Menurutnya, kecilnya debit sumber mata air selama dua hari terakhir membuat pasokan tidak mencukupi kebutuhan musala, meskipun tempat ibadah tersebut diprioritaskan berdasarkan kesepakatan warga.
HIKDMAT kemudian membantu mengisi tandon musala berkapasitas 3.000 liter untuk menunjang kebutuhan air warga dalam menjalankan ibadah.
Baca juga: ABI Responsif-HIKDMAT Salurkan Makanan Bagi Warga Terdampak Banjir di Kalinyamatan
Kegiatan ini mencerminkan identitas HIKDMAT sebagai organisasi yang menghimpun anggota lintas mazhab untuk bersama-sama memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan. Perbedaan tidak menjadi penghalang untuk bersatu membantu masyarakat yang membutuhkan.
Sebagian anggota turut membawa anak-anak mereka agar dapat menyaksikan langsung kondisi warga sekaligus menumbuhkan empati dan kepedulian sosial sejak dini.
Bagi HIKDMAT, solidaritas tidak berhenti pada perbedaan pandangan, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata. Di tengah krisis air yang belum sepenuhnya teratasi, bantuan tersebut menegaskan bahwa kemanusiaan dapat menjadi titik temu untuk bekerja bersama, melampaui sekat perbedaan. []
Baca juga: LSM HIKDMAT dan Solidaritas Lintas Elemen Bangun Rumah Warga Rentan di Bangsri







