Daerah
Silaturahmi ABI–MUI Jepara: Dari Meja Makan ke Geopolitik Global
Jepara, 20 April 2026 — Minggu malam (19/4/2026) tidak ada agenda resmi. Tidak ada susunan acara. Rombongan Ahlulbait Indonesia (ABI) datang bersilaturahmi ke kediaman Ketua Umum MUI Jepara, KH Dr. Mashudi, sekadar berkunjung. Namun seperti sering terjadi, percakapan yang awalnya ringan berkembang ke arah yang tidak terduga, dari relasi internal umat hingga isu geopolitik yang jauh dari Jepara.
Rombongan ABI dipimpin oleh Ustadz Miqdad Turkan (Dewan Syura), didampingi Muhlisin Turkan (Humas, Media, dan Penerangan DPP), Abdul Nasir (Ketua DPD ABI Jepara), Mohammad Ali (Ketua Divisi Humas ABI Jepara), serta dua pengurus Pondok Pesantren Darut Taqrib Jepara, Jihad Mukmin Manu dan Haji Hassan.

Setibanya di kediaman, suasana langsung terasa hangat tanpa sekat formal. KH Mashudi mempersilakan para tamu untuk menikmati hidangan makan malam yang telah disiapkan. Sajian yang dihidangkan cukup khas, kepala kambing dan pindang serani kakap. Di sela jamuan, percakapan masih ringan dan mengalir. Setelah makan usai, tanpa arahan khusus, pembicaraan perlahan menemukan arahnya dan berkembang ke topik yang lebih substansial.
Ustadz Miqdad membuka percakapan yang mulai mengarah lebih serius dengan mengingat kembali masa ketika komunitas Syiah di Jepara diterima tanpa resistensi berarti. Anggota Dewan Syura ABI itu menyinggung sembilan poin kesepakatan yang pernah dibahas bersama para kiai dan pengurus MUI Jepara. Salah satu yang diingatnya adalah komitmen menjaga NKRI, sekaligus gagasan “Syiah Nusantara” yang diselaraskan dengan konteks Indonesia dan kearifan lokal.
Dari situ, pembicaraan bergerak perlahan ke arah yang lebih luas. Tidak meloncat, tetapi mengalir. Hingga akhirnya masuk ke isu Timur Tengah, ketegangan kawasan, dan posisi Iran dalam peta konflik saat ini.
Dalam konteks itulah, pembahasan kemudian mengerucut pada bagaimana Iran dipersepsikan di tengah dinamika tersebut. Menurut KH Mashudi, terjadi pergeseran paradigma dan pola pandang, baik di kalangan masyarakat umum, peneliti, akademisi, maupun ulama, dalam melihat Iran. Dukungan terhadap Iran, menurutnya, tidak lagi ditentukan oleh mazhab yang dianut, melainkan oleh faktor lain yang dinilai lebih relevan dalam konteks global saat ini.
KH Mashudi menyebut, banyak pihak, termasuk dari kalangan Sunni, mulai menunjukkan dukungan kepada Iran bukan karena kesamaan akidah, tetapi karena Iran dipandang sebagai kekuatan yang berani menghadapi hegemoni Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah.
Dalam pandangannya, Iran juga dilihat sebagai pihak yang membela kedaulatan negara-negara Muslim dari tekanan dan agresi asing, terutama dalam isu Palestina. Hal ini membuat perbedaan mazhab menjadi tidak relevan, bahkan cenderung dianggap sebagai isu sekunder yang kerap dimanfaatkan pihak luar untuk memecah belah umat Islam. “Sekarang ini, dunia tidak lagi melihat mazhab Syiah seperti sebelumnya. Perhatian bergeser pada keberanian Iran dalam menghadapi Amerika dan Zionisme,” ujarnya.
KH Mashudi juga menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Pemimpin Revolusi Iran dalam serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Ia menyebut peristiwa itu sebagai kehilangan besar bagi umat Islam.
“Kesyahidan Imam Ali Khamenei menjadi luka bagi umat Islam. Secara politik, sebagian pemimpin negara-negara Islam mungkin bersama Amerika, tetapi di tingkat rakyat, dukungan kepada Iran justru menguat,” ujarnya.
Terkait keteguhan Iran, ia menilai posisi negara tersebut berada dalam tekanan yang tidak ringan. “Iran menghadapi Amerika, Israel, dan juga sejumlah negara Arab. Sementara sebagian negara Muslim justru mengambil posisi yang berseberangan, bahkan bersekutu dengan pihak yang dianggap sebagai lawan,” katanya.
Namun ia juga menyoroti hal lain, adanya jarak antara sikap resmi pemerintah di sejumlah negara Muslim, termasuk di Indonesia dengan perasaan rakyatnya. “Secara kebijakan, sebagian negara memang dekat dengan Amerika. Tetapi di tingkat masyarakat, simpati kepada Iran justru terasa,” katanya.
Pembicaraan kemudian beralih ke kondisi internal umat Islam sendiri. KH Mashudi tidak menutup kritik. Menurutnya, persoalan lama masih bertahan, yaitu perpecahan. Ia menilai dalam situasi tekanan global, perpecahan internal justru menjadi titik lemah.
Obrolan terus bergerak. Tidak lagi lurus, tapi tetap saling terhubung. Waktu berjalan tanpa terasa. Hampir dua jam berlalu.
Di tengah percakapan, KH. Mashudi menyinggung pengalamannya saat berkunjung ke Iran. Perjalanan itu membawanya ke sejumlah kota, termasuk Gurgan, wilayah dengan komunitas Sunni yang hidup berdampingan dengan Syiah.
Pengalaman lain juga disampaikan. Di berbagai masjid di Iran, salat tetap bisa dijalankan dengan cara Sunni tanpa rasa khawatir atau tekanan. Gambaran itu, menurutnya, tidak selalu sejalan dengan persepsi yang selama ini beredar, yang kerap menampilkan relasi Sunni–Syiah dalam ketegangan yang kaku.
Menjelang pamitan, KH Mashudi menyampaikan tiga pesan dan nasehat yang dianggap penting. “Kita harus mengesampingkan perbedaan Sunni Syiah. Kebersamaan ini adalah modal persatuan umat Islam melawan musuh-musuh Islam.”
“Kita harus semakin memperkokoh persatuan dan kebersamaan, bukan hanya di mulut, namun juga dalam muamalah.”
“Bagi saya, siapa pun yang mengucapkan La Ilaha Illallah adalah saudara, dan harus bersatu, bersaudara. Meskipun secara amaliah menjadi tanggung jawab masing-masing di hadapan Allah SWT.”
Di akhir percakapan, KH Mashudi menyinggung pengalamannya berinteraksi dengan berbagai komunitas di lingkungan MUI, sekaligus menyampaikan apresiasi terhadap Ahlulbait Indonesia (ABI) di Jepara. “Di Jepara, komunitas Syiah sangat besar, tapi di situlah kita merasakan suasana yang toleran.”
Ia juga menegaskan posisi MUI sebagai ruang bersama umat Islam, dan karena itu memasukkan unsur ABI dari Syiah, Muhammadiyah, dan Persis ke dalam kepengurusan MUI di Kabupaten Jepara. “Amanat MUI itu merangkul. Ini organisasi yang menjadi tenda besar umat Islam Indonesia. Ini kekuatan yang harus dibangun bersama.”
Menurutnya, jika Forum Kerukunan Umat Beragama mampu menjangkau lintas iman, maka MUI seharusnya lebih mampu merangkul sesama Muslim. “Kalau di FKUB bisa merangkul semua komponen lintas iman, apalagi di MUI yang semestinya lebih merangkul, apalagi sesama Muslim.”
KH Mashudi menutup pembicaraan dengan menekankan bahwa posisi Jepara sebagai contoh kongkrit praktik kerukunan dan keharmonisan di lapangan. “Jepara ini bisa menjadi pilot project yang menerapkan pluralisme haqiqi. Bukan hanya secara kuantitas, tetapi kualitas dan realitas di lapangan,” tandasnya.
Rombongan dipersilakan dan diberi izin untuk pulang, dan diantarnya hingga area parkir. Pertemuan itu menyisakan satu kesimpulan, bahwa persatuan umat bukan lagi wacana ideal, melainkan satu kebutuhan yang tak bisa lagi ditunda. []
