Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Trump Ancam Bom Oman, Pengaruh Iran di Hormuz Kembali Diuji

Published

on

Trump Ancam Bom Oman
Donald Trump dalam rapat kabinet di Washington mengancam akan membom Oman. (Foto ilustrasi: The Atlantic)

Ahlulbait Indonesia | 29 Mei 2025 — Ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Oman memunculkan ketegangan baru di kawasan Teluk dan membuka kembali pertanyaan tentang sejauh mana Iran mampu mempertahankan pengaruhnya di sekitar Selat Hormuz.

Baca juga: IRGC Tegaskan Selat Hormuz Kini Jadi ‘Bulan Sabit’ Operasional Strategis

Menurut laporan Reuters, pernyataan itu disampaikan Trump dalam rapat kabinet di Washington, Rabu, 27 Mei 2026. Saat ditanya mengenai kemungkinan Iran dan Oman bersama-sama mengelola lalu lintas perdagangan di Selat Hormuz, Trump menolak gagasan tersebut dengan nada keras.

“Tidak ada yang akan mengendalikannya. Itu adalah perairan internasional dan Oman harus bertindak seperti negara lain, atau kami akan mengebom mereka,” kata Trump.

Pernyataan itu sempat memunculkan spekulasi bahwa Trump salah menyebut nama negara dan sebenarnya merujuk pada Iran. Namun Departemen Luar Negeri Amerika Serikat kemudian mengunggah transkrip resmi pernyataan tersebut melalui media sosial mereka dan tetap mencantumkan nama Oman tanpa perubahan.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui lebih dari 20 persen distribusi minyak dunia. Posisi geografis Oman di sisi selatan selat itu menjadikannya salah satu aktor penting dalam stabilitas kawasan Teluk.

Bagi Iran, tekanan terhadap Oman dinilai tidak dapat dibaca sebagai isu bilateral biasa. Selama dua dekade terakhir, Teheran dikenal mempertahankan pengaruh regionalnya melalui strategi kesabaran politik dan jaringan aliansi jangka panjang di Timur Tengah.

Baca juga: F-35 AS Pancarkan Sinyal Darurat 7700 di Selat Hormuz, Tiga Insiden dalam Sepekan Guncang Kawasan

Pola itu terlihat dalam hubungan Iran dengan Suriah. Ketika Presiden Suriah Bashar al-Assad mulai memulihkan hubungan dengan negara-negara Arab Teluk, Iran tetap mempertahankan keberadaan penasihat militer dan jalur logistiknya di wilayah timur Suriah, terutama di Deir Ezzor dan Al-Bukamal.

Pendekatan serupa juga tampak dalam hubungan Iran dengan Hamas. Meski sempat mengalami ketegangan akibat konflik Suriah, Iran tetap membuka dukungan logistik dan persenjataan ketika Brigade Al-Qassam kembali membutuhkan bantuan.

Di sisi lain, Oman selama ini dipandang sebagai salah satu mitra regional yang menjaga hubungan seimbang dengan Teheran sekaligus Washington. Kehilangan posisi netral Oman dinilai dapat mempersempit ruang manuver diplomatik Iran di kawasan Teluk.

Dalam geopolitik Timur Tengah, pengaruh regional tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga kemampuan menjaga loyalitas sekutu dan mempertahankan kepercayaan mitra kawasan. Iran masih memiliki kemampuan perang asimetris, termasuk armada drone dan rudal jarak menengah, yang membuatnya tetap diperhitungkan dalam keseimbangan keamanan Teluk.

Baca juga: Iran Tegas Tolak Tekanan AS, Selat Hormuz Tak Akan Dibuka

Namun tekanan ekonomi akibat sanksi internasional, konflik berkepanjangan di Suriah, Gaza, dan Yaman, serta meningkatnya pengaruh negara-negara Teluk yang dekat dengan Washington menjadi tantangan serius bagi posisi Iran.

Ancaman Trump terhadap Oman pada akhirnya dipandang bukan hanya sebagai retorika diplomatik, melainkan bagian dari persaingan pengaruh yang lebih luas di sekitar Selat Hormuz. Bagi Iran, tantangan terbesar mungkin bukan ancaman militer langsung, melainkan kemampuan mempertahankan jaringan aliansi regional yang selama ini menopang pengaruhnya di Timur Tengah. []

Baca juga: Iran Buka Selat Hormuz untuk Kapal Komersial hingga Akhir Gencatan Senjata Lebanon