Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Jenderal AS: Trump Tak Punya Opsi Militer Efektif untuk Buka Selat Hormuz

Published

on

Jenderal purnawirawan AS Barry McCaffrey mengakui Washington tidak memiliki opsi militer yang dapat menjamin pembukaan Selat Hormuz.
Jenderal purnawirawan AS Barry McCaffrey mengakui Washington tidak memiliki opsi militer yang dapat menjamin pembukaan Selat Hormuz.

Ahlulbait Indonesia, 11 Agustus 2026 — Jenderal bintang empat purnawirawan Angkatan Darat Amerika Serikat Barry McCaffrey mengakui Washington berada dalam kebuntuan menghadapi Iran. Menurutnya, Amerika Serikat tidak lagi memiliki opsi militer yang dapat menjamin pembukaan Selat Hormuz. Operasi untuk mencapai tujuan tersebut akan membutuhkan pengerahan pasukan darat dalam jumlah besar, operasi militer sekitar satu tahun, serta risiko korban yang signifikan di pihak Amerika.

Baca juga: Korea Utara: Poros Konfrontasi AS di Asia Harus Dibendung

Dilansir Fars News Agency pada Senin (10/8/2026), McCaffrey, veteran Perang Vietnam dan mantan komandan lapangan pasukan Amerika Serikat dalam Perang Teluk, menyampaikan penilaian tersebut dalam wawancara televisi dengan MS NOW mengenai perkembangan perang Amerika Serikat dan Iran.

McCaffrey menggambarkan posisi Washington terhadap Iran saat ini sebagai “jalan buntu total”. Menurutnya, “tidak ada lagi opsi militer bagi Amerika Serikat yang dapat menjamin pembukaan Selat Hormuz”, kecuali Washington mengerahkan pasukan darat dalam jumlah besar ke kawasan.

Namun, jenderal tersebut menilai opsi itu secara praktis tidak dapat dilaksanakan. Operasi tersebut akan membutuhkan upaya militer besar selama sekitar satu tahun dan dapat menimbulkan korban signifikan di kalangan pasukan Amerika Serikat. Karena itu, opsi tersebut telah disingkirkan.

McCaffrey mengatakan bahwa saat ini opsi diplomatik terhadap Iran menjadi pilihan yang tersedia.

“Orang Iran Membenci Kami”

McCaffrey juga mengatakan Washington kemungkinan telah meremehkan tingkat permusuhan Korps Garda Revolusi Islam Iran dan kepemimpinan Iran terhadap Amerika Serikat, terutama setelah serangan awal perang.

Menurutnya, Amerika Serikat dalam serangan tersebut menargetkan “sebagian besar pemimpin politik, ekonomi, dan militer Iran”. Karena itu, menurut McCaffrey, “mereka akan bersikap sangat keras terhadap kami”.

McCaffrey menegaskan bahwa mencegah kehadiran pasukan laut Amerika Serikat di Teluk Persia merupakan sesuatu yang “sepenuhnya tidak dapat diterima” bagi Washington. Namun, pada saat yang sama, penyerahan kendali Selat Hormuz kepada Iran dan Oman juga tidak dapat diterima Amerika Serikat.

Baca juga: Krisis di Puncak Militer Israel, Angkatan Bersenjata Tolak Perintah Menteri Pertahanan

Persoalan Iran Tidak Bisa Diselesaikan dengan Kekuatan

Mengenai laporan tentang kondisi persediaan persenjataan Amerika Serikat, McCaffrey mengatakan berkurangnya stok rudal canggih, termasuk rudal Tomahawk Angkatan Laut, rudal presisi Angkatan Darat, serta rudal pertahanan THAAD dan Patriot, merupakan persoalan penting bagi strategi global Amerika Serikat.

Menurutnya, persoalan tersebut menjadi semakin penting karena Amerika Serikat pada saat yang sama harus mempertahankan daya tangkal terhadap China dan Korea Utara.

Namun, McCaffrey menilai berkurangnya persediaan persenjataan bukan faktor penentu dalam menghadapi Iran secara langsung.

Jenderal tersebut mengatakan bahwa meskipun kekuatan militer Amerika Serikat masih lebih unggul daripada Iran, kekuatan tersebut tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi Washington dan mengakhiri kebuntuan terkait Selat Hormuz.

“Kekuatan militer Amerika Serikat masih unggul, tetapi tidak efektif untuk menyelesaikan persoalan ini,” kata McCaffrey. []

Baca juga: The Telegraph: Drone Bunuh Diri Paling Mematikan Iran Kirim Pesan untuk Trump