Internasional
Laksamana Prancis: Trump Remehkan Harga Diri Iran dan Tumbang di Babak Pertama

Media ABI, 15 Agustus 2026 — Laksamana purnawirawan Prancis Pascal Ausseur menilai Iran telah meraih keunggulan taktis dalam konfrontasi dengan Amerika Serikat. Menurutnya, Presiden AS Donald Trump keliru meremehkan arti harga diri dan kebanggaan nasional di Timur Tengah dengan mengira tekanan dapat memaksa Teheran menerima kesepakatan, demikian menurut laporan Fars News Agency pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Ausseur, mantan laksamana Angkatan Bersenjata Prancis sekaligus Direktur Jenderal Foundation for Studies and Management of Strategic Issues, menyampaikan pandangan tersebut dalam wawancara dengan Radio France mengenai perkembangan terbaru di Asia Barat.
Baca juga: Dari Air Force One ke Truk Makanan, Gambaran Pahit Perang Trump dengan Iran
Membahas situasi di Selat Hormuz dan tuntutan Iran terkait pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut, Ausseur mengatakan Teheran merasa telah memenangkan adu kekuatan dengan Washington dan kini memegang posisi strategis atas salah satu jalur penting bagi kawasan dan perekonomian dunia.
“Iran menang secara taktis,” kata Ausseur.
Menurutnya, posisi tersebut membuat pemerintah Iran semakin percaya diri untuk memanfaatkan keunggulannya.
“Terlihat bahwa pemerintah Iran kini memiliki kepercayaan diri yang lebih besar dan ingin memanfaatkan keunggulannya semaksimal mungkin,” ujarnya.
Ausseur menilai kondisi tersebut mendorong Amerika Serikat mundur karena semakin besarnya tuntutan Iran dapat menimbulkan persoalan bagi negara-negara Arab di sekitar Teluk Persia, terutama Arab Saudi.
“Arab Saudi sangat memahami bahwa periode setelah perang akan menjadi sangat rumit bagi mereka,” katanya.
Skenario Trump Tidak Terwujud
Ketika ditanya apakah Trump kini berada dalam posisi lemah menghadapi Iran, Ausseur menjawab tegas.
“Ya. Donald Trump jelas berada dalam situasi ketika skenario yang dia bayangkan sama sekali tidak terwujud,” katanya.
Menurut Ausseur, Trump semula memperkirakan dapat memaksa pemerintah Iran menerima kesepakatan yang menyerupai kesepakatan dengan Venezuela, dengan masing-masing pihak memperoleh bagian dari hasilnya.
Dalam skenario tersebut, Amerika Serikat juga diperkirakan dapat menyingkirkan pengaruh China dari kawasan, sementara Iran tetap mempertahankan sebagian perannya sebagai kekuatan regional di bawah kendali Amerika.
“Itulah rencana Trump, tetapi sama sekali tidak terjadi,” ujar Ausseur.
Laksamana purnawirawan tersebut menilai Trump juga keliru memahami karakter politik dan sosial di kawasan.
Baca juga: Citra Satelit Perlihatkan Kerusakan Infrastruktur Militer AS akibat Serangan Iran
“Trump meremehkan satu hal. Konsep harga diri dan kebanggaan nasional memiliki arti besar di Timur Tengah dan Asia. Hal ini tampaknya memiliki arti lebih kecil di New York, dalam dunia bisnis, atau dalam hubungan dengan orang-orang Eropa,” katanya.
“Anda mungkin dapat memperlakukan seseorang dengan buruk lalu mengira bisa dengan mudah mencapai kesepakatan. Di Timur Tengah tidak demikian,” lanjutnya.
Ausseur mengatakan pemerintah Iran memilih bertahan. Menurutnya, Trump kini hanya memiliki pilihan untuk meningkatkan tekanan secara bertahap guna melemahkan Teheran dan mendorongnya menerima bentuk kompromi tertentu.
Namun, pengalaman Ausseur di kawasan Teluk Persia beberapa pekan sebelumnya menunjukkan persepsi regional yang berbeda.
“Yang kami lihat di tingkat regional adalah adanya anggapan bahwa Iran hampir dalam kondisi apa pun akan memenangkan permainan ini. Karena itulah mereka menaikkan tuntutan mereka,” ujarnya.
Iran Mengendalikan Selat Hormuz
Ausseur juga menegaskan bahwa menurut pandangannya kendali atas Selat Hormuz berada di tangan Iran, bertentangan dengan klaim Trump.
“Menutup sebuah selat adalah hal yang sangat sederhana. Selat ini sangat vital dan penting bagi Iran sehingga permainan ini juga rumit bagi Iran. Namun, Selat Hormuz jauh lebih penting bagi negara-negara Teluk lainnya,” katanya.
Ketergantungan negara-negara Teluk terhadap jalur tersebut membuat mereka sangat rentan terhadap gangguan berkepanjangan, menurut Ausseur.
“Mereka saat ini bersedia melakukan hampir apa pun demi mengembalikan stabilitas dan memulai kembali kegiatan ekonomi,” ujarnya.
Negara-negara Teluk, menurutnya, sangat bergantung pada ekspor hidrokarbon. Karena itu, negara-negara tersebut, terutama Oman yang berada di sisi lain Selat Hormuz, dinilai siap menerima berbagai bentuk kompromi agar kegiatan ekonomi dapat kembali berjalan.
Kesepakatan Makkah Bersifat Diplomatik
Ausseur juga membahas apa yang disebut sebagai “Kesepakatan Makkah”. Menurutnya, Arab Saudi telah membentuk aliansi baru bersama Turki dan Pakistan.
Untuk saat ini, kerja sama tersebut lebih bersifat diplomatik. Ausseur menilai sulit membayangkan Turki dan Pakistan akan terlibat langsung dalam perang dengan Iran jika terjadi serangan baru terhadap Arab Saudi.
Dia mengaitkan kerja sama tersebut dengan situasi di Laut Merah. Arab Saudi, menurutnya, secara bersamaan membentuk aliansi pertahanan maritim dengan 14 negara untuk menjamin lalu lintas perdagangan di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab.
Wilayah tersebut juga menjadi perhatian karena Ansarullah disebut berupaya memblokir jalur pelayaran di kawasan itu.
Baca juga: Indonesia Masuk Daftar Calon Pasukan Asing untuk Melucuti Senjata Hizbullah
Amerika Serikat Kalah di Babak Pertama
Ausseur menilai konfrontasi antara Iran dan Amerika Serikat masih berlangsung. Namun, menurutnya, Washington telah kalah dalam putaran pertama yang berlangsung di Teluk Persia dan Selat Hormuz.
“Amerika telah kalah dalam putaran pertama permainan ini yang berlangsung di Teluk Persia dan Selat Hormuz. Hal itu hampir pasti. Namun, kini ada pemain baru yang masuk, yaitu Arab Saudi,” katanya.
Menurut Ausseur, pesan yang hendak disampaikan Riyadh adalah bahwa Arab Saudi bersedia menerima sampai batas tertentu posisi Iran sebagai kekuatan baru di kawasan, tetapi tetap memiliki garis merah yang tidak dapat dilampaui.
“Menurut saya, pesan yang ingin disampaikan Arab Saudi adalah bahwa kami menerima sampai batas tertentu bahwa Anda adalah kekuatan baru di kawasan, tetapi ada garis merah. Demi bertahan hidup, kami terpaksa menanggung sebagian dari situasi ini, tetapi Anda sedang mencekik kami,” ujar Ausseur. []
Baca juga: CENTCOM Klaim Alihkan Rute 59 Kapal dalam Blokade Laut terhadap Iran







