Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Langit Iran Tak Lagi Aman bagi Jet Tempur dan Drone AS

Published

on

Teheran mengembangkan jaringan pertahanan yang luas, tersebar, dan cerdas untuk memperkuat daya tangkal serta membuat lawan menghitung ulang risiko serangan.

Ahlulbait Indonesia, 9 Agustus 2026 – Iran ingin membangun sistem pertahanan udara yang membuat lawan menghadapi ancaman di setiap titik wilayah operasionalnya. Amir Shakouri, Kepala Kantor Studi dan Riset Pasukan Pertahanan Udara Angkatan Darat Iran, mengatakan pertahanan masa depan harus luas, lincah, tersebar, dan cerdas agar setiap upaya serangan menghadapi kemungkinan respons efektif.

Dalam wawancara dengan Mehr News pada Minggu (9/8/2026), Shakouri mengatakan daya tangkal yang nyata terbentuk ketika lawan mengetahui bahwa setiap tindakannya akan menghadapi respons efektif. Karena itu, pertahanan tidak boleh hanya bertumpu pada perlindungan sejumlah titik strategis.

“Kita harus bergerak menuju kondisi ketika musuh merasa bahwa di setiap titik negara ini terdapat kemungkinan menghadapi ancaman serius,” ujarnya.

Sistem pertahanan, lanjutnya, harus mampu mendeteksi ancaman dari berbagai wilayah, termasuk pegunungan, lembah, dan jalur yang berbeda, kemudian memberikan respons pada waktu yang tepat.

Shakouri mengatakan pengalaman perang terbaru menunjukkan bahwa ketika lawan menghadapi ancaman di sejumlah jalur dan wilayah, perilaku operasionalnya ikut berubah. Pergerakan dilakukan dengan lebih hati-hati dan sejumlah rencana bahkan dibatalkan.

“Tujuan kita adalah agar musuh tidak pernah merasa aman di ruang operasional negara kita,” katanya.

Menurut Shakouri, kondisi tersebut merupakan bentuk nyata daya tangkal. Efektivitas pertahanan tidak hanya diukur dari kemampuan menghancurkan sasaran, tetapi juga dari kemampuannya memengaruhi perhitungan lawan sebelum serangan dilakukan.

Pertahanan Tersebar untuk Memperluas Daya Tangkal

Konsep tersebut menuntut perubahan dalam cara pertahanan udara dibangun. Jika kekuatan pertahanan hanya terkonsentrasi pada sejumlah fasilitas penting, serangan terhadap titik-titik tersebut berpotensi mengganggu keseluruhan sistem.

Karena itu, pertahanan masa depan harus memiliki jangkauan luas, mobilitas tinggi, kemampuan tersebar, serta kecerdasan yang memungkinkan sistem merespons ancaman dengan cepat.

Pertahanan juga harus mampu beroperasi dalam berbagai kondisi geografis. Sistem yang ditempatkan di wilayah pegunungan, lembah, dan jalur berbeda harus dapat mendeteksi ancaman serta memberikan respons pada waktu yang tepat.

Tujuannya bukan hanya menghancurkan sasaran, tetapi menciptakan ketidakpastian yang memengaruhi perhitungan lawan sebelum sebuah operasi dijalankan.

Iran Dorong Pertahanan Berbasis Rakyat

Pengalaman perang terbaru juga mendorong Iran memperluas pembahasan mengenai keterlibatan masyarakat dalam pertahanan.

Shakouri mengatakan salah satu pelajaran dari perang tersebut adalah kebutuhan bergerak menuju konsep pertahanan berbasis rakyat.

Iran, menurutnya, memiliki kapasitas besar berupa masyarakat, generasi muda, pasukan Basij, dan berbagai kelompok lain yang dapat memainkan peran dalam sejumlah aspek pertahanan.

Namun, pemanfaatan kapasitas tersebut membutuhkan organisasi, pelatihan, mekanisme yang tepat, serta peralatan yang memadai.

Keterlibatan masyarakat dan pasukan Basij dalam sejumlah bagian perang terbaru, menurut Shakouri, menunjukkan bahwa kapasitas tersebut dapat memainkan peran penting apabila diorganisasi secara sistematis.

Perang Tidak Berhenti di Medan Militer

Shakouri juga menempatkan perang kognitif sebagai bagian dari tantangan pertahanan masa depan.

Menurutnya, konflik modern tidak lagi berlangsung hanya melalui instrumen militer. Pertarungan berjalan secara bersamaan di bidang militer, media, psikologis, ekonomi, dan kognitif.

Dalam perang kognitif, pihak lawan berusaha memanfaatkan media untuk menciptakan keputusasaan, melemahkan kohesi sosial, mengecilkan kekuatan negara, serta membentuk persepsi yang keliru mengenai kemampuan suatu negara.

Karena itu, Shakouri menilai media memiliki tanggung jawab penting dalam menghadapi perang hibrida.

“Media harus dengan kesadaran, ketelitian dan pemahaman yang benar terhadap kondisi membantu memperkuat harapan, meningkatkan kesadaran masyarakat, dan menghadapi operasi psikologis musuh,” katanya.

Menurutnya, medan militer dan medan kognitif saling melengkapi. Angkatan bersenjata menjalankan pertahanan di medan fisik, sementara media berperan dalam menghadapi tantangan di ruang kognitif.

Pengetahuan, Kepercayaan Diri, dan Pengalaman

Shakouri merangkum masa depan pertahanan udara Iran dalam tiga prinsip, yaitu pengetahuan, kepercayaan diri, dan pengalaman.

Iran, menurutnya, telah menempuh perjalanan panjang dari struktur yang bergantung pada pihak asing sebelum Revolusi Islam menuju sistem yang memiliki pengetahuan, teknologi, tenaga ahli, serta kemampuan merancang dan memproduksi peralatan sendiri.

Namun, perjalanan tersebut belum berakhir. Lawan terus mengembangkan teknologi sehingga Iran juga harus terus belajar, melakukan penelitian, berinovasi, dan bertransformasi.

“Pengalaman perang terbaru, dengan seluruh kesulitan dan biaya yang ditimbulkannya, merupakan modal berharga bagi masa depan,” ujar Shakouri.

Pengalaman tersebut, lanjutnya, harus digunakan untuk memperkuat teknologi baru, mengembangkan sistem cerdas, serta memanfaatkan kapasitas universitas, perusahaan berbasis pengetahuan, dan generasi muda.

Dengan fondasi tersebut, Iran ingin membangun pertahanan udara yang lebih kuat, lincah, tersebar, dan cerdas untuk menghadapi perubahan karakter perang.

Pada akhirnya, konsep yang digariskan Shakouri bertumpu pada satu prinsip utama: membangun daya tangkal melalui pertahanan yang mampu hadir di berbagai ruang, beradaptasi terhadap perubahan ancaman, dan mempersempit ruang gerak lawan.

Bagi Iran, keberhasilan pertahanan bukan hanya ketika serangan dapat dihentikan, tetapi ketika kemampuan pertahanan tersebut sejak awal mampu membuat lawan menghitung ulang risiko sebelum mengambil tindakan. []

Baca juga: Kepemimpinan Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei Mengubah Peta Perang Iran