Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

WP: Trump Murka kepada Hegseth di Camp David akibat Salah Perhitungan Perang Iran

Published

on

Donald Trump memarahi Menteri Pertahanan Pete Hegseth setelah mengetahui krisis amunisi membatasi opsi militer Amerika terhadap Iran.
Perselisihan Trump dan Hegseth disebut dipicu informasi yang dinilai tidak akurat mengenai stok persenjataan Amerika di tengah perang dengan Iran.

Ahlulbait Indonesia, 6 Agustus 2026 – The Washington Post (WP) melaporkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluapkan kemarahan kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth setelah mengetahui persediaan amunisi militer Amerika menipis, kondisi yang disebut membatasi opsi Washington untuk memperluas serangan terhadap Iran.

Trump Pertanyakan Laporan Hegseth

Menurut laporan Tasnim News pada Kamis (6/8/2026) yang mengutip The Washington Post, kemarahan Trump dipicu oleh informasi yang dinilai tidak akurat mengenai kondisi stok persenjataan. Mengutip sejumlah sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, laporan itu menyebut perselisihan dengan Hegseth mencerminkan meningkatnya ketidakpuasan Trump terhadap pejabat yang sejak awal menjadi salah satu pendukung utama aksi militer terhadap Iran. Sejumlah pejabat Amerika juga mengatakan Hegseth sebelumnya meyakinkan Trump bahwa perang melawan Iran dapat dimenangkan dengan cepat dan relatif mudah.

Baca juga: Ansarullah Luncurkan Rudal Balistik, Ledakan Hebat Guncang Tanker Saudi di Teluk Aden

Laporan menyebut insiden itu terjadi di sela rapat kabinet di Camp David pada Jumat lalu. Dua sumber mengatakan Trump dengan nada marah menyampaikan bahwa dirinya mengira persoalan kekurangan amunisi telah diselesaikan. Seluruh narasumber meminta identitasnya dirahasiakan karena khawatir menghadapi tindakan balasan.

Keterbatasan persediaan rudal berpemandu jarak jauh dan rudal pencegat pertahanan udara disebut menjadi salah satu faktor utama yang membuat Trump dalam beberapa hari terakhir mengurungkan rencana serangan yang lebih luas terhadap Iran.

Trump sebelumnya mengklaim telah memerintahkan pelaksanaan “serangan terbesar sejak Perang Dunia Kedua”. Namun belakangan Trump menyatakan Iran dan sejumlah negara sekutu Amerika meminta Washington menghentikan serangan dan memberikan kesempatan baru bagi jalur diplomasi.

Krisis Amunisi Tekan Opsi Militer AS

The Washington Post juga melaporkan pemerintah Amerika telah mengumumkan kontrak baru untuk meningkatkan produksi sejumlah amunisi penting, termasuk rudal pertahanan udara Patriot. Namun proses produksi diperkirakan memerlukan waktu hingga dua tahun sehingga belum mampu mengatasi kekurangan persenjataan dalam waktu dekat.

Berdasarkan laporan sebelumnya, militer Amerika menggunakan lebih dari 850 rudal jelajah Tomahawk serta lebih dari 1.000 rudal dan sistem pencegat Patriot maupun THAAD hanya dalam bulan pertama perang. Seorang pejabat Amerika juga mengatakan lebih dari 1.300 rudal balistik taktis telah digunakan pada pekan-pekan awal konflik.

Laporan itu menambahkan stok rudal ATACMS juga menyusut drastis hingga hampir habis. Reuters pada awal pekan ini turut melaporkan kondisi tersebut.

Saat dimintai penjelasan mengenai menipisnya persediaan senjata di Camp David, Hegseth membantah bertanggung jawab dan menyalahkan Wakil Menteri Pertahanan Stephen Feinberg atas persoalan tersebut. Hegseth juga menilai Feinberg tidak memastikan Presiden memperoleh gambaran utuh mengenai kondisi persenjataan.

Baca juga: Peringatan Arbain Imam Husain di Samarinda Gaungkan Semangat Persatuan, Keadilan, dan Cinta Tanah Air

Gedung Putih Bantah, Kepercayaan Hegseth Tergerus

Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt membantah seluruh isi laporan The Washington Post. Menurutnya, laporan tersebut sepenuhnya tidak benar dan peristiwa yang digambarkan tidak pernah terjadi. Leavitt menegaskan Trump tetap memberikan kepercayaan penuh kepada Hegseth.

Juru Bicara Senior Pentagon Sean Parnell juga membantah tuduhan bahwa Hegseth menyesatkan Presiden mengenai kondisi stok amunisi atau menyalahkan Feinberg. Parnell menyebut seluruh klaim mengenai penurunan persediaan senjata, konflik internal, dan sikap Hegseth terhadap Iran sebagai informasi yang tidak benar.

Laporan itu juga mengungkap Hegseth menghadapi pertanyaan keras dari anggota Senat pada sidang Juli mengenai apakah Trump telah menerima penilaian yang jujur terkait perang Iran dan risiko operasi militer berkepanjangan terhadap kesiapan militer Amerika. Dalam sidang tersebut Hegseth menolak menjelaskan rekomendasinya kepada Presiden dan menyalahkan pemerintahan Joe Biden atas persoalan persediaan senjata.

Baca juga: Mantan Kepala Mossad Pimpin Divisi Global Perusahaan Militer AS

Menurut The Washington Post, Hegseth bersama Stephen Feinberg dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine meminta Kongres menyetujui tambahan anggaran pertahanan sebesar 67 miliar dolar AS untuk menutup biaya perang melawan Iran. Hegseth menyebut anggaran tersebut sebagai kebutuhan mendesak untuk memulihkan stok persenjataan militer. Hingga kini Partai Republik di Senat masih belum mencapai kesepakatan mengenai mekanisme pembahasannya.

Laporan itu juga menyinggung kembali kasus “Signalgate” ketika Hegseth membagikan informasi rahasia ke dalam grup percakapan yang turut diikuti seorang jurnalis. Peristiwa tersebut sempat memunculkan spekulasi mengenai masa depan Hegseth di lingkaran dekat Trump.

Meski selama ini Trump berkali-kali menyatakan dukungannya kepada Hegseth, salah seorang sumber mengatakan kebuntuan di Selat Hormuz, tingginya biaya perang, serta berkepanjangannya konflik dengan Iran mulai mengikis kepercayaan Presiden terhadap Menteri Pertahanannya. []

Baca juga: CNN: CENTCOM Kehabisan Ide Hadapi Iran, Cari Strategi Baru Tekan Teheran