Internasional
Hadapi Serangan Iran, AS Tembakkan 50 Rudal Patriot

Ahlulbait Indonesia, 12 Agustus 2026 — The New York Times mengungkap bahwa militer Amerika Serikat menembakkan sekitar 50 rudal pencegat Patriot dalam satu hari untuk menghadapi serangan Iran. Dengan harga sekitar 4 juta dolar AS per rudal, penggunaan dalam jumlah besar tersebut turut mempercepat penyusutan persediaan rudal pencegat Washington di tengah perubahan taktik Iran yang semakin membebani sistem pertahanan udara Amerika.
Menurut laporan The New York Times yang dikutip Tasnim pada Rabu (12/8/2026), Iran dalam serangkaian serangan terbaru terhadap pangkalan militer Amerika di Yordania mampu menembus sejumlah lapisan pertahanan udara AS.
Baca juga: Bentrokan Berdarah di Kapal Induk AS Abraham Lincoln, Tujuh Awak Tewas
Surat kabar tersebut melaporkan Iran melancarkan serangan berat selama lima hari terhadap pasukan Amerika yang ditempatkan di tiga pangkalan di Yordania. Gelombang drone dan rudal diluncurkan secara berturut-turut sehingga sistem pertahanan Amerika dipaksa mengerahkan rudal pencegat dalam jumlah besar.
“Iran menggunakan rudal-rudal canggih yang mampu mengubah arah secara tiba-tiba di tengah penerbangan. Serangan berturut-turut Iran memaksa sistem pertahanan Amerika menghabiskan sejumlah besar rudal pencegat Patriot,” tulis The New York Times.
Pada hari kelima serangan, sebuah rudal Iran berhasil menembus pertahanan udara dan menghantam lokasi pasukan Amerika di salah satu pangkalan pada 17 Juli. Serangan tersebut menewaskan tiga tentara Amerika dan melukai lebih dari 100 orang. Pejabat Pentagon kemudian menyatakan puluhan personel lainnya turut terluka dalam serangan sepanjang pekan tersebut. Sejumlah pesawat juga mengalami kerusakan.
Persediaan Patriot Amerika Menyusut Cepat
The New York Times mengutip dua sumber yang mengetahui kondisi persediaan persenjataan Amerika. Pentagon disebut telah menggunakan lebih dari 1.500 rudal pencegat Patriot sejak awal perang dan kini memiliki kurang dari 1.700 rudal tersebut.
Sebagai perbandingan, sepanjang 2025 Amerika Serikat memproduksi sekitar 600 rudal pencegat Patriot.
Dalam salah satu hari serangan Iran, militer Amerika menembakkan sekitar 50 rudal pencegat Patriot dengan nilai sekitar 4 juta dolar AS per rudal.
Menurut The New York Times, penyusutan cepat persediaan rudal pertahanan Amerika berlangsung bersamaan dengan perubahan taktik Iran. Kondisi tersebut meningkatkan tekanan terhadap kemampuan pertahanan udara Washington.
Baca juga: Washington Post: Sikap Serampangan Trump Bawa Perang Iran Tanpa Akhir
Set G. Jones, kepala bidang pertahanan dan keamanan di Center for Strategic and International Studies, mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa penggunaan rudal dan drone secara bersamaan membuat tugas pertahanan udara Amerika semakin sulit.
“Orang-orang Iran pada dasarnya menerapkan taktik Rusia untuk membuat perlindungan terhadap berbagai titik di seluruh kawasan Teluk Persia menjadi lebih sulit,” kata Jones.
Iran Mengubah Taktik Serangan
The New York Times juga menyoroti contoh lain perubahan taktik Iran. Pada April, sebuah jet tempur F-15 Amerika ditembak jatuh di wilayah udara Iran bagian selatan menggunakan rudal permukaan ke udara yang dapat diluncurkan dari bahu.
Menurut laporan tersebut, Iran memanfaatkan pengalaman dari perang di Ukraina dalam operasi itu. Sekelompok drone dikerahkan di wilayah yang telah dimasuki jet tempur Amerika.
Seorang pejabat senior militer Amerika mengatakan drone-drone tersebut memberikan informasi penting kepada komandan Iran, termasuk posisi, kecepatan, dan arah pergerakan pesawat tempur Amerika. Informasi tersebut membantu proses penargetan pesawat.
Menurut The New York Times, insiden tersebut membuat pejabat militer Amerika membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan taktik baru Iran.
Surat kabar tersebut menyimpulkan bahwa perubahan dan semakin kompleksnya taktik Iran, ditambah penyusutan cepat persediaan rudal pencegat Amerika, menjadi salah satu tantangan utama Washington dalam melanjutkan perang. []
Baca juga: Iran Hantam 20 Pangkalan AS di 8 Negara dengan 2.000 Serangan







