Internasional
Jenderal Iran: Gencatan Senjata Trump Hanya Kedok Rebut Selat Hormuz

Ahlulbait Indonesia, 28 Juli 2026 – Brigadir Jenderal Rasoul Sanai-Rad, Wakil Bidang Politik Kantor Ideologi dan Politik Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Iran, menyatakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadikan gencatan senjata sebagai kedok untuk menguasai Selat Hormuz. Menurutnya, strategi tersebut gagal karena berhasil dipatahkan oleh perlawanan militer Iran.
Mengutip Mehr News, Senin (27/7), Sanai-Rad menjelaskan bahwa penguasaan Selat Hormuz semula bukan bagian dari rencana operasi militer Washington. Situasi berubah setelah jalur pelayaran strategis itu ditutup, sehingga Amerika Serikat menghadapi tekanan besar akibat terganggunya rantai pasok energi dan perdagangan global.
Baca juga: CENTCOM Buntu di Iran Selatan, Desak Operasi Dihentikan
Lonjakan harga energi, lanjutnya, tidak hanya membebani Amerika Serikat, tetapi juga Eropa serta negara-negara industri maupun berkembang. Selain menjadi jalur utama ekspor minyak, Selat Hormuz merupakan lintasan vital perdagangan produk petrokimia dan bahan baku pupuk yang menopang sektor pertanian dunia. Dalam pandangannya, blokade laut yang kemudian diberlakukan Washington terhadap Iran justru memperparah gangguan terhadap perdagangan internasional.
Sejak saat itu, Amerika disebut terus berupaya merebut kendali atas Selat Hormuz melalui berbagai cara, tetapi selalu menemui kegagalan. Sanai-Rad menegaskan bahwa Washington memanfaatkan gencatan senjata dan proses perundingan sebagai instrumen untuk mencapai tujuan tersebut. Selama masa gencatan senjata, Amerika beberapa kali melanggarnya dengan melancarkan serangan di kawasan Selat Hormuz, namun tidak berhasil mengubah keadaan.
Penutupan Selat Hormuz yang hingga kini masih berlangsung juga dinilai menjadi pukulan terhadap kredibilitas Donald Trump, yang sebelumnya berulang kali berjanji membuka kembali jalur pelayaran tersebut. Sanai-Rad menambahkan, setelah tercapai nota kesepahaman mengenai pembukaan jalur aman oleh Iran sebelum proses penyapuan ranjau, Washington turut berupaya menekan Oman agar membuka jalur alternatif di pesisir selatan. Upaya itu, menurutnya, kembali tidak membuahkan hasil.
Baca juga: Iran ke AS: Lupakan Mimpi Mengatur Kapan Perang dan Damai
Strategi Amerika, lanjut Sanai-Rad, kini berfokus pada penghancuran fasilitas pengawasan, pertahanan udara, serta kemampuan ofensif Iran yang menopang pengamanan Selat Hormuz, Teluk Persia, dan Laut Oman. Serangan terhadap infrastruktur juga disebut bertujuan menebar ketakutan di tengah masyarakat sekaligus meningkatkan tekanan psikologis terhadap Iran.
Di tengah situasi tersebut, pasukan Iran tetap mampu mempertahankan posisinya dan terus melancarkan operasi ofensif. Operasi itu berhasil menghancurkan sejumlah sasaran strategis yang berpotensi mendukung operasi militer Amerika pada masa mendatang.
Mengenai kerugian pihak lawan, Sanai-Rad mengatakan Amerika Serikat berupaya menutupi jumlah korban. Namun, pengumuman resmi mengenai 13 personel yang terluka, disusul laporan dua korban tewas dan satu orang hilang, menunjukkan bahwa serangan Iran menimbulkan dampak yang signifikan.
Baca juga: Militer Iran Siaga Penuh: Musuh Akan Dikubur di Luar Perbatasan
Serangan terbaru Iran, lanjutnya, juga menghancurkan sejumlah helikopter dan pesawat militer, serta menewaskan dan melukai personel Amerika. Selain itu, Iran turut menggempur kelompok-kelompok kontra-revolusi di wilayah tenggara dan barat laut negara tersebut yang disebut mendapat dukungan dari pihak asing.
Menutup keterangannya, Sanai-Rad menyebut gelombang serangan itu sebagai salah satu operasi terbesar dan paling merusak terhadap posisi lawan. Kobaran api di lokasi sasaran serta mobilisasi ambulans menuju pangkalan yang diserang menjadi indikator besarnya kerugian yang dialami Amerika Serikat beserta kelompok-kelompok yang bersekutu dengannya. []
Baca juga: The Atlantic: Trump Kehabisan Waktu Membuka Selat Hormuz






