Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Iran ke AS: Lupakan Mimpi Mengatur Kapan Perang dan Damai

Published

on

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyampaikan peringatan kepada Bulgaria terkait rencana penempatan pesawat militer AS.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyampaikan konferensi pers mingguan di Teheran. (Foto: Tasnim News)

Ahlulbait Indonesia, 27 Juli 2026 – Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan negaranya tidak akan membiarkan Amerika Serikat menentukan kapan perang maupun perdamaian harus terjadi. Menurutnya, keputusan terkait keamanan dan kepentingan nasional sepenuhnya berada di tangan Iran, yang akan terus membela diri selama keadaan mengharuskannya.

Dalam konferensi pers mingguan yang dikutip Tasnim News pada Senin (27/7/2026), Baghaei menanggapi berbagai isu, mulai dari wacana perundingan dengan Amerika Serikat, serangan Ukraina terhadap kapal Iran di Laut Kaspia, kerja sama nuklir Amerika Serikat dan Arab Saudi, hingga situasi di Selat Hormuz.

Baca juga: Pentagon Tak Lagi Bisa Menutupi Data Korban, Tentara AS Terluka Tembus 624 Orang

Menanggapi laporan mengenai usulan Pakistan dan Qatar untuk memediasi perundingan Iran dan Amerika Serikat, Baghaei mempertanyakan anggapan bahwa Washington dapat mengendalikan jalannya perang maupun perdamaian. Menurutnya, perang yang semula dimaksudkan untuk memaksa Iran menyerah justru telah berubah menjadi kegagalan bagi pihak-pihak yang memulainya.

“Yang menjadi prinsip bagi kami adalah kepentingan nasional. Keputusan mengenai keamanan dan kepentingan nasional diambil melalui mekanisme yang jelas. Kami tidak akan membiarkan Amerika menentukan waktu perang dan damai. Kami akan membela diri selama keadaan mengharuskannya,” tegas Baghaei.

Mengenai serangan Ukraina terhadap sebuah kapal Iran di Laut Kaspia, Baghaei menyebut tindakan itu sebagai “petualangan berbahaya” yang tidak akan dibiarkan tanpa respons. Ia menegaskan bahwa negara-negara yang mendukung Ukraina juga harus mempertanggungjawabkan tindakan tersebut.

Menurut Baghaei, sejak awal Iran tidak terlibat dalam konflik Rusia-Ukraina. Sebaliknya, ia menilai pemerintah Ukraina telah merendahkan posisinya menjadi alat dalam persaingan geopolitik negara-negara besar dan terus menyalahkan pihak lain, alih-alih berfokus pada kepentingan negaranya sendiri.

Baca juga: Iran Peringatkan Inggris akan Menjadi Sasaran Berikutnya jika Dukung AS

Terkait kerja sama nuklir Amerika Serikat dan Arab Saudi, Baghaei menegaskan bahwa pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai merupakan hak setiap negara. Ia juga menegaskan bahwa rezim Zionis secara konsisten berupaya menghalangi alih teknologi ke kawasan serta menyebut tekanan terhadap Iran sebagai bukti adanya standar ganda dalam penerapan hak tersebut.

Baghaei turut memperingatkan Bulgaria agar tidak lagi memberikan fasilitas kepada Amerika Serikat untuk mendukung tindakan militer terhadap Iran. Menurutnya, langkah itu bertentangan dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan, berdasarkan Resolusi 3314 Majelis Umum PBB, dapat dikategorikan sebagai bentuk agresi.

Dalam kesempatan yang sama, ia menegaskan Iran terus memperkuat kerja sama keamanan dengan Irak dan Pemerintah Daerah Kurdistan guna memastikan wilayah perbatasan kedua negara tetap aman dan terbebas dari aktivitas kelompok-kelompok teroris.

Baghaei juga meminta negara-negara kawasan tidak melanjutkan kerja sama dengan Amerika Serikat dalam agresi terhadap Iran. Menurutnya, meskipun Teheran menghendaki hubungan baik dengan seluruh negara tetangga, Iran tidak dapat mengabaikan keterlibatan sebagian negara dalam tindakan militer terhadap Republik Islam.

Selain itu, Baghaei mengungkapkan bahwa Duta Besar Prancis di Teheran telah dipanggil ke Kementerian Luar Negeri menyusul dugaan campur tangan dua diplomat Prancis dalam urusan dalam negeri Iran. Ia juga mengecam pengakuan Perdana Menteri Inggris mengenai dukungan London terhadap operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran, yang menurutnya merupakan pengakuan atas pelanggaran hukum internasional.

Baca juga: Reuters: Iran Akan Menghentikan Serangan jika AS Menghentikan Agresi

Mengenai Selat Hormuz, Baghaei menegaskan bahwa perundingan Iran dan Oman berlangsung secara bilateral dan tidak berkaitan dengan Amerika Serikat. Menurutnya, pembicaraan tersebut difokuskan pada penyusunan mekanisme pelayaran yang aman dengan tetap menghormati hak kedaulatan kedua negara dan kepentingan nasional Iran.

Mengakhiri konferensi persnya, Baghaei kembali menegaskan bahwa seluruh keputusan strategis Iran, baik terkait perang, perdamaian, maupun keamanan nasional, akan ditentukan secara mandiri berdasarkan kepentingan nasional Republik Islam. “Kami tidak akan membiarkan Amerika Serikat menentukan kapan perang dan damai terjadi. Selama keadaan mengharuskannya, Iran akan terus membela diri,” tegasnya. []

Baca juga: Invasi Darat ke Iran Akan Menenggelamkan AS dalam Rawa Perang