Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

IRGC Peringatkan Respons Lebih Keras jika AS dan Israel Langgar Kesepahaman

Published

on

Ahlulbait Indonesia, 29 Juni 2026 — Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperingatkan bahwa Iran akan memberikan respons yang lebih kuat terhadap setiap pelanggaran kesepahaman maupun gencatan senjata yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel. Peringatan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan militer dan upaya diplomatik antara Teheran dan Washington.

Menurut laporan Press TV pada Senin, Juru Bicara IRGC Hossein Mohebi menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran telah merespons setiap aksi permusuhan pada masa lalu dan akan terus melakukannya apabila kesepahaman atau gencatan senjata kembali dilanggar.

“Setiap kali musuh melanggar kesepakatan atau gencatan senjata, mereka akan menerima respons yang lebih keras daripada sebelumnya,” kata Mohebi pada Minggu (28/6).

Mohebi menilai Amerika Serikat kembali menunjukkan bahwa negara tersebut tidak dapat dipercaya dalam menjalankan komitmen yang telah disepakati. Menurutnya, Washington berpotensi tetap melakukan tindakan yang dapat memperburuk situasi keamanan meskipun proses perundingan dengan Teheran masih berlangsung.

Meski demikian, Mohebi menegaskan angkatan bersenjata Iran tetap berada dalam kondisi siaga penuh. Ia menyatakan setiap tindakan yang dianggap mengancam Iran akan dihadapi dengan respons yang “tegas dan menentukan”.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Angkatan Bersenjata Iran melancarkan operasi rudal dan pesawat nirawak yang, menurut klaim IRGC, menargetkan delapan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan pada Sabtu malam. Operasi itu disebut sebagai balasan atas serangan terbaru Amerika Serikat terhadap wilayah Iran.

Sebelumnya, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan telah melancarkan serangan baru ke Iran sebagai respons atas dugaan penargetan sebuah kapal tanker minyak komersial di Teluk Persia.

Di sisi lain, Angkatan Laut IRGC menyatakan telah melepaskan tembakan peringatan ke arah sebuah kapal yang disebut mengabaikan instruksi untuk tidak melintasi jalur pelayaran yang tidak diizinkan di Selat Hormuz.

Perkembangan tersebut berlangsung di tengah implementasi nota kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat. Menurut Press TV, kesepakatan itu mencakup pencabutan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz, dengan syarat Amerika Serikat beserta sekutunya menghentikan seluruh operasi militer terhadap Iran dan para sekutunya di kawasan, termasuk Lebanon.

Pernyataan terbaru IRGC mengindikasikan bahwa meskipun jalur diplomasi tetap dibuka, Teheran menegaskan kesiapan militernya untuk merespons setiap tindakan yang dinilai melanggar kesepahaman atau mengancam keamanan nasional Iran. []

Continue Reading