Internasional
Angkatan Laut AS Hadapi Krisis Logistik di Timur Tengah

Media ABI, 4 September 2026 – Angkatan Laut Amerika Serikat menghadapi persoalan logistik serius di Timur Tengah setelah serangan Iran menghancurkan pangkalan logistik utama armada AS di Bahrain. Kehilangan fasilitas tersebut memaksa perubahan jalur pasokan sekaligus meningkatkan tekanan terhadap pelabuhan lain di kawasan.
The New York Times dalam laporannya pada Jumat (4/9/2026) menyebut sekitar 20 kapal yang membawa hampir 20.000 personel Angkatan Laut dan Marinir AS membutuhkan lebih dari 420.000 porsi makanan serta sekitar delapan juta galon bahan bakar setiap pekan. Kebutuhan dalam jumlah besar itu kini harus dipenuhi setelah pangkalan logistik utama di Bahrain tidak lagi dapat digunakan.
Baca juga: Israel Khawatir Iran Lancarkan Serangan Rudal
Menurut laporan tersebut, kehancuran fasilitas di Bahrain juga meningkatkan ancaman terhadap pelabuhan-pelabuhan lain di sekitarnya hingga penggunaannya dihentikan. Situasi itu memaksa kapal-kapal pendukung menempuh perjalanan sekitar 2.200 mil menuju Pulau Diego Garcia. Sebagian kapal bahkan harus mengambil rute yang lebih jauh hingga Singapura sebelum kembali bergabung dengan armada Amerika Serikat.

RGC Hantam Target Vital di Pangkalan Sheikh Isa Bahrain
Perubahan tersebut memperpanjang waktu dan jarak yang diperlukan untuk memasok armada AS yang beroperasi di Timur Tengah. Dengan puluhan kapal dan hampir 20.000 personel yang membutuhkan pasokan makanan dan bahan bakar secara berkelanjutan, gangguan terhadap jaringan logistik menjadi persoalan yang semakin membebani operasi Angkatan Laut Amerika Serikat di kawasan. []
Baca juga: Pengamat: Serangan AS dan Israel Justru Satukan Rakyat Iran






