Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Donald Trump Bersih-Bersih Jenderal di Pentagon

Published

on

Jenderal Christopher Todd Donahoe meninggalkan Pentagon di tengah gelombang pergantian pejabat tinggi militer pada pemerintahan kedua Donald Trump. (Foto: US Army)
Jenderal Christopher Todd Donahoe meninggalkan Pentagon di tengah gelombang pergantian pejabat tinggi militer pada pemerintahan kedua Donald Trump. (Foto: US Army)

Ahlulbait Indonesia, 26 Juni 2026 — Gelombang pergantian pejabat tinggi militer kembali mewarnai Pentagon pada masa pemerintahan kedua Presiden Donald Trump. Menurut laporan Fars News Agency yang dimuat Kamis (25/6/2026), sedikitnya 24 perwira tinggi telah meninggalkan Pentagon sejak Trump kembali menjabat, termasuk Jenderal Christopher Todd Donahoe yang dijadwalkan menyerahkan komando pada 2 Juli dan pensiun pada Agustus mendatang.

Donahoe dikenal sebagai prajurit Amerika Serikat terakhir yang meninggalkan Afghanistan pada Agustus 2021 dengan pesawat angkut C-17 terakhir dari Kabul. Masa tugasnya sebagai Komandan Angkatan Darat Amerika Serikat untuk Eropa dan Afrika berakhir setelah sekitar 18 bulan.

Baca juga: Washington Selewengkan Kesepakatan MoU terkait Lebanon

“Pembersihan” di bawah Hegseth

Menurut laporan tersebut, sejak Januari 2025 puluhan pejabat tinggi militer diberhentikan atau dipensiunkan. Menteri Pertahanan Pete Hegseth disebut memerintahkan pengurangan sedikitnya 20 persen jumlah jenderal bintang empat karena menilai sebagian komandan tidak sejalan dengan pemerintahan Trump atau dianggap mendukung kebijakan keberagaman (diversity) yang oleh kalangan konservatif diberi label “woke”.

Laporan itu mencantumkan sejumlah pejabat yang telah meninggalkan jabatan, antara lain mantan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Charles Brown, Kepala Operasi Angkatan Laut Laksamana Lisa Franchetti, Direktur Badan Keamanan Nasional Jenderal Timothy Haugh, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Randy George, Komandan Penjaga Pantai Laksamana Linda Fagan, Menteri Angkatan Laut John Phelan, serta Direktur Badan Intelijen Pertahanan Jenderal Jeffrey Kruse.

Donahoe dan Ketegangan dengan Hegseth

Mengutip CNN, laporan tersebut menyebut hubungan antara kantor Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Donahoe diwarnai ketegangan. Seorang sumber mengatakan berbagai publikasi mengenai keberhasilan Angkatan Darat Amerika Serikat di Eropa tidak mendapat sambutan positif dari jajaran pimpinan Pentagon.

Laporan itu juga menyebut sebagian kalangan mengaitkan Donahoe dengan mantan Ketua Kepala Staf Gabungan Mark Milley yang selama ini dikenal memiliki hubungan buruk dengan Trump dan Hegseth. Ada pula yang menilai Donahoe menjadi sasaran kritik karena keterlibatannya dalam penarikan pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan, meskipun sumber lain menyamakan tuduhan tersebut dengan “menyalahkan petugas pemadam kebakaran karena berada di lokasi kebakaran.”

The New York Times melaporkan Hegseth memaksa Donahoe memasuki masa pensiun. Menurut surat kabar tersebut, keputusan itu dinilai sebagai kemunduran bagi upaya modernisasi Angkatan Darat Amerika Serikat menuju medan perang yang semakin didominasi pesawat nirawak dan kecerdasan buatan.

Baca juga: Sekjen NATO Akui Anggota NATO Dukung Operasi Militer AS terhadap Iran

Mantan Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Koalisi Global Melawan ISIS, Brett McGurk, mengatakan kepada CBS bahwa hanya sedikit komandan yang memiliki kontribusi sebesar Donahoe dalam mengalahkan ISIS. Ia menyebut Donahoe sebagai salah satu komandan paling berpengaruh di generasinya.

Muncul Kekhawatiran

Menurut laporan tersebut, keputusan itu memicu kritik dari sejumlah kalangan. Senator Partai Republik Thom Tillis menyebut pencopotan Donahoe sebagai “langkah lain di jalan yang berbahaya.”

Seorang mantan perwira yang dikutip The Atlantic mengatakan ironi muncul ketika pemerintahan yang mengaku ingin mengembalikan budaya tempur justru menyingkirkan para komandan yang memiliki pengalaman tempur.

Sementara itu, sejumlah mantan pejabat militer yang diwawancarai Financial Times menilai suasana di Pentagon kini dipenuhi rasa takut dan tekanan. Mereka mengkhawatirkan gelombang pergantian pimpinan militer di tengah meningkatnya ketegangan internasional dapat memengaruhi kepercayaan negara-negara anggota NATO terhadap kepemimpinan militer Amerika Serikat.

Ironi “Regime Change”

Sebagai penutup, Farnews menyoroti ironi ketika Presiden Donald Trump menyerukan perubahan rezim di Iran, sementara Pentagon justru mengalami gelombang pergantian besar di tingkat kepemimpinan.

Menurut analisis tersebut, pemberhentian puluhan komandan senior, termasuk Donahoe, mencerminkan perubahan besar dalam struktur komando militer Amerika Serikat. Penulis juga berpendapat bahwa kebijakan Hegseth mengirimkan pesan bahwa loyalitas kepada pemerintahan lebih diutamakan daripada pengalaman dan rekam jejak militer dalam menentukan kepemimpinan di Pentagon. []

Baca juga: Iran Desak NATO Bertanggung Jawab atas Dukungan Serangan ke Iran