Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Washington Selewengkan Kesepakatan MoU terkait Lebanon

Published

on

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan Nota Kesepahaman Iran-Amerika Serikat mengamanatkan penghentian operasi militer di seluruh kawasan dan menolak penafsiran Washington yang memisahkan isu Lebanon dari kesepakatan tersebut. (Foto: Press TV)
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan Nota Kesepahaman Iran-Amerika Serikat mengamanatkan penghentian operasi militer di seluruh kawasan dan menolak penafsiran Washington yang memisahkan isu Lebanon dari kesepakatan tersebut. (Foto: Press TV)

Ahlulbait Indonesia, 25 Juni 2026 — Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menolak pernyataan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio yang menafsirkan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) Iran-Amerika Serikat hanya berlaku bagi hubungan kedua negara. Menurut Baghaei, MoU secara tegas mewajibkan penghentian operasi militer di seluruh kawasan, termasuk Lebanon.

Pernyataan tersebut disampaikan Baghaei melalui akun X pada Rabu (24/6/2026), setelah Rubio menyatakan bahwa perundingan antara Amerika Serikat dan Iran merupakan jalur yang terpisah dari pembicaraan antara Israel dan Lebanon.

Baca juga: Sekjen NATO Akui Anggota NATO Dukung Operasi Militer AS terhadap Iran

Press TV melaporkan bahwa Rubio menyampaikan pernyataan tersebut setibanya di Abu Dhabi dalam lawatan ke tiga negara Teluk Persia untuk menjelaskan isi kesepakatan Iran-Amerika Serikat kepada para sekutu Washington di kawasan. Dalam kesempatan itu, Rubio mengatakan masa depan Lebanon harus ditentukan oleh pemerintah berdaulat negara tersebut dan Amerika Serikat akan berhubungan langsung dengan Beirut.

Namun, menurut pemerintah Iran, MoU yang ditandatangani pada 17 Juni 2026 dengan mediasi Pakistan memuat komitmen penghentian operasi militer secara segera dan permanen di seluruh front, termasuk Lebanon.

Rubio berpendapat penghentian permusuhan di seluruh kawasan tidak mungkin terwujud selama kelompok-kelompok perlawanan masih melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak. Pernyataan tersebut disampaikan setelah Menteri Urusan Militer Israel, Israel Katz, menyatakan pasukan Israel tidak akan ditarik dari Lebanon selatan meskipun diminta oleh Amerika Serikat.

Menanggapi pernyataan itu, Baghaei menilai Rubio telah menafsirkan isi MoU secara keliru.

“Tidak seorang pun akan tertipu oleh penafsiran seperti itu,” tulis Baghaei.

Menurut Baghaei, perdamaian di Asia Barat tidak akan terwujud selama kebijakan intervensi militer Amerika Serikat terus berlanjut dan Israel, yang disebutnya sebagai sekutu Washington, tetap melakukan operasi militer di kawasan.

Baca juga: IRGC Tolak Jalur Pelayaran Baru di Selat Hormuz, Kapal Wajib Gunakan Rute Resmi Iran

Teheran juga menegaskan bahwa tafsir Rubio bertentangan dengan pemahaman Iran maupun para mediator yang memandang MoU sebagai landasan penghentian permusuhan secara menyeluruh di kawasan.

Sebelumnya, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran, Mohammad Mokhber, memperingatkan bahwa kegagalan melaksanakan klausul pertama MoU yang mengatur penghentian perang di seluruh front dapat mengganggu arus energi di kawasan Asia Barat.

Laporan tersebut juga menyebut Iran kembali menutup Selat Hormuz pada 20 Juni setelah menilai Amerika Serikat gagal memastikan kepatuhan Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata di Lebanon selatan.

Menurut laporan itu, putaran pertama perundingan tingkat tinggi Iran dan Amerika Serikat di Swiss telah menempatkan MoU sebagai kerangka utama penyelesaian berbagai isu yang masih disengketakan, termasuk Lebanon. []

Baca juga: Qalibaf: Akar Krisis Kawasan adalah Israel, Dunia Islam Harus Bangun Tatanan Baru