Internasional
Ada Apa, Tuan Trump? Media Dunia Soroti Dampak Perang terhadap Iran

Ahlulbait Indonesia, 26 Juni 2026 — Sejak dimulainya agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, tujuan yang diumumkan kedua negara dinilai tidak tercapai. Bahkan, menurut berbagai laporan media Barat serta pernyataan sejumlah pejabat di negara-negara tersebut, perang justru memunculkan kebuntuan strategis, tekanan politik di dalam negeri Amerika Serikat, serta mengubah konstelasi geopolitik di Timur Tengah.
Berikut analisis yang disadur dan diolah dari laporan Kantor Berita Mehr, terbit pada 26 Juni 2026.
Konflik yang diawali dengan serangan militer berskala besar dan menewaskan warga sipil, termasuk pelajar, kemudian berkembang menjadi krisis kemanusiaan, keamanan, dan ekonomi yang berdampak luas. Perang tersebut juga memicu beragam respons dari media internasional. Dengan perspektif editorial masing-masing, media-media dunia membingkai jalannya konflik beserta konsekuensi politik, militer, dan diplomatik yang ditimbulkannya. Menelaah berbagai pemberitaan tersebut memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai dinamika perang serta arah perkembangan situasi pascakonflik.
Media Barat Soroti Tekanan Politik dan Biaya Perang
BBC melaporkan meningkatnya ketegangan antara Gedung Putih dan Kongres setelah pemerintahan Presiden Donald Trump mengajukan tambahan anggaran perang sebesar 87,6 miliar dolar AS. Sebanyak 67 miliar dolar AS di antaranya dialokasikan kepada Departemen Pertahanan, meliputi pengadaan amunisi, pembiayaan operasi militer, serta program-program rahasia.
Menurut BBC, usulan anggaran tersebut muncul ketika perang terhadap Iran semakin tidak populer menjelang pemilu sela Amerika Serikat. Gedung Putih menyatakan tambahan dana diperlukan untuk mengisi kembali cadangan persenjataan yang digunakan selama operasi militer. Di sisi lain, sejumlah anggota Kongres mempertanyakan efektivitas perang yang semula diproyeksikan berlangsung singkat namun terus berlarut tanpa mencapai sasaran awal.
Baca juga: Sekjen NATO Akui Anggota NATO Dukung Operasi Militer AS terhadap Iran
BBC juga menyoroti perdebatan antara Trump dan Senator Bill Cassidy. Dalam perdebatan tersebut, Cassidy mempertanyakan belum tercapainya tujuan utama perang meski konflik telah berlangsung selama beberapa bulan. Laporan itu menyebut biaya riil perang diperkirakan jauh melampaui estimasi awal Pentagon sebesar 29 miliar dolar AS.
Majalah Time mengulas hasil sejumlah survei yang menunjukkan meningkatnya keraguan masyarakat Amerika terhadap hasil perang. Survei Reuters/Ipsos mencatat hanya 24 persen responden yang menilai perang terhadap Iran sepadan dengan biaya yang dikeluarkan. Hanya 23 persen yang meyakini posisi Amerika Serikat kini lebih kuat dibanding sebelum perang, sedangkan 35 persen justru menilai posisi Washington melemah.
Survei CBS/YouGov juga menunjukkan 69 persen responden berpendapat Amerika Serikat belum mampu menghentikan program nuklir Iran secara permanen. Selain itu, mayoritas responden tidak percaya perang berhasil menghilangkan ancaman Iran terhadap negara lain maupun mengubah orientasi kepemimpinan Iran.
Time juga menyoroti penurunan tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Donald Trump yang dinilai berpotensi memengaruhi peluang Partai Republik pada pemilu sela mendatang.
Sementara itu, media daring MSN melalui artikel opini Anthony L. Fisher mengkritik kebijakan pemerintah Amerika Serikat terhadap tim nasional sepak bola Iran. Artikel tersebut menilai pembatasan visa, perubahan lokasi pemusatan latihan, serta pengaturan perjalanan tim Iran mencerminkan pendekatan politik yang tidak berkaitan dengan olahraga.
Penulis juga mengkritik tuduhan pemerintah Amerika Serikat yang mengaitkan Iran dengan ancaman keamanan tanpa menyertakan bukti, serta menilai kebijakan tersebut justru memperlihatkan tekanan politik Washington terhadap Iran setelah perang berlangsung.
Media Arab Nilai Terjadi Pergeseran Keseimbangan Kawasan
Arabi21 menilai nota kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat yang dimediasi Pakistan dan Qatar, dengan dukungan sejumlah negara Arab dan Islam, membuka babak baru dalam dinamika politik Timur Tengah. Menurut media tersebut, perkembangan itu menunjukkan perubahan keseimbangan kekuatan regional sekaligus memperlihatkan kegagalan upaya sebelumnya untuk mengisolasi Iran.
Laporan itu juga menyebut munculnya kekhawatiran di Israel setelah negara tersebut tidak lagi menjadi aktor utama dalam proses perundingan mengenai isu nuklir Iran. Arabi21 menilai terbuka peluang terbentuknya konfigurasi strategis baru yang melibatkan Iran, Turki, Pakistan, Mesir, dan Arab Saudi sehingga dapat memengaruhi peta politik kawasan.
Al Jazeera menyoroti pernyataan Donald Trump mengenai pola hubungan keamanan Amerika Serikat dengan negara-negara Teluk. Menurut media tersebut, Trump memandang perlindungan keamanan sebagai layanan yang memiliki nilai ekonomi sehingga hubungan strategis Washington dengan para sekutunya berpotensi berubah menjadi hubungan yang lebih bersifat transaksional.
Laporan itu menyebut pendekatan tersebut menandai perubahan paradigma kebijakan luar negeri Amerika Serikat, yakni dari komitmen strategis menuju hubungan yang didasarkan pada pertimbangan biaya dan keuntungan.
Baca juga: Tantang Dominasi Starlink, Iran Bangun Jaringan Satelit Nasional Syahid Soleimani
Sementara itu, Al Mayadeen mengulas proses yang disebut membawa Amerika Serikat semakin terlibat dalam perang terhadap Iran. Media tersebut mengutip berbagai laporan mengenai pembahasan intensif di Gedung Putih terkait opsi operasi militer terhadap Iran, termasuk laporan yang menyebut adanya informasi dari pemerintah Israel yang mendorong keterlibatan Washington dalam konflik tersebut.
Media Rusia Soroti Diplomasi dan Stabilitas Energi
RT menggambarkan hubungan Iran dan Amerika Serikat masih berada di antara ketegangan dan diplomasi. Menurut laporan tersebut, kedua negara masih mempertahankan jalur komunikasi, namun tingkat kepercayaan yang rendah membuat peluang tercapainya kesepakatan jangka panjang tetap menghadapi tantangan.
RT juga menilai Selat Hormuz menjadi indikator utama hubungan kedua negara karena memiliki pengaruh langsung terhadap keamanan pelayaran internasional dan stabilitas pasar energi dunia. Laporan itu menyebut pembentukan kerangka sementara perundingan membuka ruang bagi kelanjutan dialog, meski keberhasilan kesepakatan tetap bergantung pada langkah konkret kedua belah pihak.
Harian Izvestia menyoroti perbedaan pandangan di dalam NATO mengenai perang terhadap Iran. Menurut laporan tersebut, sejumlah negara Eropa mengkhawatirkan dampak eskalasi konflik terhadap keamanan energi, stabilitas Timur Tengah, dan perekonomian kawasan.
Baca juga: Qalibaf: MoU Islamabad Berubah Menjadi Deklarasi Kekalahan Amerika
Izvestia menilai persoalan Iran menjadi salah satu agenda penting dalam pembahasan para pemimpin NATO, sekaligus memperlihatkan belum adanya kesepakatan penuh di antara negara-negara anggota mengenai cara menghadapi dinamika konflik di Timur Tengah.
Perang Berlanjut dalam Pertarungan Narasi Global
Pemberitaan berbagai media internasional menunjukkan bahwa perang terhadap Iran tidak hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga dalam ruang informasi global. Setiap media membingkai perkembangan konflik sesuai perspektif editorialnya masing-masing.
Media Barat lebih banyak menyoroti tekanan politik domestik, besarnya biaya perang, dan efektivitas operasi militer Amerika Serikat. Sebaliknya, media Arab menekankan perubahan keseimbangan geopolitik serta implikasinya terhadap kawasan, sementara media Rusia lebih menaruh perhatian pada diplomasi, keamanan energi, dan stabilitas internasional.
Perbedaan sudut pandang tersebut memperlihatkan bahwa dampak perang terhadap Iran tidak hanya diukur dari perkembangan di medan tempur, tetapi juga dari pertarungan narasi yang terus berlangsung di panggung media global. []







