Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Dari Safir ke Simorgh, Dua Dekade Program Antariksa Iran

Published

on

Peluncur Simorgh menjadi salah satu tonggak perkembangan program antariksa Iran setelah generasi awal Safir berhasil membawa satelit Omid ke orbit pada 2009.
Peluncur Simorgh menjadi salah satu tonggak perkembangan program antariksa Iran setelah generasi awal Safir berhasil membawa satelit Omid ke orbit pada 2009.

Media ABI, 25 Agustus 2026 — Pada 3 Februari 2009, Iran berhasil menempatkan satelit Omid ke orbit menggunakan peluncur Safir-1. Keberhasilan itu menandai masuknya Iran ke dalam kelompok negara yang mampu mengirim satelit ke orbit menggunakan peluncur buatan sendiri.

Hampir dua dekade berlalu. Safir kini telah pensiun, sementara Iran mengembangkan peluncur dengan kemampuan yang jauh lebih besar. Di antara generasi tersebut terdapat Simorgh, yang menjadi salah satu tonggak penting dalam peralihan Iran dari peluncur ringan menuju kelas menengah.

Baca juga: Panglima Iran: Kesalahan Perhitungan dan Ancaman Baru Akan Dibalas Menghancurkan

Perkembangan ini tidak hanya menyangkut ukuran roket. Kemampuan mengirim muatan secara mandiri ke orbit merupakan bagian penting dari rantai industri antariksa. Tanpa peluncur sendiri, pembangunan satelit tetap bergantung pada negara lain dan rentan terhadap tekanan politik, pembatasan teknologi, maupun keterbatasan akses ke layanan peluncuran internasional.

Laporan kantor berita Tasnim pada Senin (24/8/26), menyebut program antariksa Iran kini bergerak dari tahap pembuktian teknologi menuju pematangan operasional. Keterangan Kepala Badan Antariksa Iran Hassan Salarieh dalam konferensi pers pada 2026 memperlihatkan arah tersebut, terutama melalui upaya memantapkan kinerja Simorgh dan mengembangkan kemampuan peluncuran beberapa satelit dalam satu misi.

Safir membuka pintu

Safir-1 merupakan peluncur dua tahap dengan daya dorong awal sekitar 32 ton, diameter 1,25 meter, dan kemampuan membawa muatan hingga 50 kilogram ke orbit rendah Bumi atau LEO.

Peluncur tersebut menggunakan mesin yang berakar dari teknologi rudal balistik jarak menengah. Pengembangannya menjadi pijakan bagi program yang lebih besar.

Pada 3 Februari 2009, Safir-1 berhasil membawa satelit Omid ke orbit. Keberhasilan tersebut menjadikan Iran sebagai negara kesembilan di dunia yang memiliki kemampuan meluncurkan satelit.

Baca juga: Pakar CSIS: Kekuatan Siber Iran Menjadi “Selat Kedua”

Setelah beberapa tahun digunakan dalam pengembangan kemampuan awal, Safir kemudian dipensiunkan dan tugasnya dialihkan kepada generasi berikutnya.

Salah satu penerus pentingnya adalah Simorgh.

Simorgh dan persoalan mencapai orbit

Simorgh dirancang untuk membawa satelit yang lebih berat ke orbit yang lebih tinggi. Peluncur ini memiliki tinggi 27 meter, diameter 2,5 meter, dan berat lepas landas sekitar 87 ton.

Tahap pertama Simorgh menggunakan empat mesin yang menghasilkan daya dorong awal sekitar 1.300 kilonewton atau sekitar 142 ton. Sistem tersebut menggunakan kombinasi dimetilhidrazin tidak simetris atau UDMH dan asam nitrat berasap merah atau IRFNA.

Namun, pengembangan Simorgh tidak berjalan tanpa hambatan.

Salah satu persoalan utama adalah mencapai kecepatan yang dibutuhkan untuk memasukkan muatan ke orbit rendah Bumi. Agar dapat mencapai orbit LEO, peluncur harus mencapai kecepatan akhir sekitar 7.600 hingga 7.800 meter per detik.

Dalam pengujian awal, Simorgh mencapai sekitar 6.800 dan 7.300 meter per detik. Keterbatasan fasilitas simulasi kondisi vakum di laboratorium darat juga menyebabkan adanya ketidakpastian mengenai perilaku mesin tahap akhir.

Persoalan tersebut kemudian mendorong serangkaian perbaikan teknik.

Pada Februari 2024, Simorgh berhasil membawa tiga satelit sekaligus ke orbit, yakni Mahda yang dikembangkan Institut Penelitian Antariksa Iran, serta Keyhan 2 dan Hatif 1 yang dikembangkan SaIran.

Keberhasilan itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Simorgh dari tahap pengujian menuju kemampuan operasional.

Versi yang ditingkatkan, Simorgh Optimal, diproyeksikan mampu membawa muatan hingga 500 kilogram ke orbit setinggi 500 kilometer.

Baca juga: Perang dengan AS Uji Doktrin dan Teknologi Pertahanan Udara Iran

Iran juga mengembangkan peluncur Phoenix yang menurut keterangan Salarieh akan menambah kapasitas peluncuran nasional.

Dari satu satelit menuju konstelasi

Perubahan penting dalam program Iran tidak berhenti pada peningkatan kapasitas angkut. Negara tersebut juga mengejar kemampuan menempatkan beberapa satelit dalam satu misi.

Salarieh menyebut peluncuran multisatellit sebagai salah satu agenda penting pada 2026. Targetnya adalah kemampuan melepaskan tiga atau lebih satelit ke orbit LEO dalam satu peluncuran.

Kemampuan ini berkaitan langsung dengan rencana pembangunan Konstelasi Syahid Soleimani. Sistem tersebut dirancang terdiri atas 24 satelit, dengan 18 satelit utama dan enam satelit cadangan. Fungsinya mencakup komunikasi dalam kondisi krisis dan kebutuhan Internet of Things atau IoT.

Untuk mewujudkan sistem tersebut, peluncur saja tidak cukup. Satelit harus dapat ditempatkan pada posisi orbit yang berbeda.

Karena itu, Iran juga mengembangkan blok transfer orbit yang memungkinkan satelit dipindahkan dan didistribusikan setelah mencapai orbit awal.

Dalam konteks inilah perkembangan Simorgh menjadi penting. Peluncur tersebut tidak lagi diposisikan hanya sebagai alat untuk membuktikan kemampuan mencapai orbit, tetapi sebagai bagian dari sistem yang lebih besar untuk membangun layanan dan konstelasi satelit.

Perjalanan dari Safir menuju Simorgh dengan demikian menunjukkan perubahan skala dalam program antariksa Iran. Jika Safir membuktikan bahwa Iran mampu mencapai orbit dengan teknologi domestik, Simorgh diarahkan untuk membawa muatan yang lebih besar dan membuka jalan menuju misi yang lebih kompleks.

Tahap berikutnya akan membawa program tersebut ke teknologi bahan bakar padat dan peluncur yang lebih berat. Di sanalah jalur Zoljanah dan keluarga Qaem mulai memainkan peran penting. []

Baca juga: Iran Ubah Doktrin Pertahanan Udara, Tinggalkan Doktrin Lama