Internasional
Iran Peringatkan al-Jolani: Jangan Sentuh Hizbullah!

Ahlulbait Indonesia, 14 Agustus 2026 — Kantor berita Lebanon Uniones melaporkan bahwa Iran telah memperingatkan kelompok bersenjata Suriah yang dipimpin al-Jolani agar tidak melakukan tindakan militer terhadap Hizbullah di Lebanon. Sumber yang dikutip Uniones menyatakan Teheran mengancam akan menyerang lebih dari 100 target strategis di Suriah jika pasukan Suriah memasuki wilayah Lebanon.
Fars News Agency pada Jumat (14/8/2026) mengutip Uniones yang melaporkan bahwa Iran telah menggagalkan rencana intervensi kelompok al-Jolani di Lebanon. Rencana itu, menurut sumber yang sama, dipersiapkan atas permintaan Amerika Serikat. Teheran juga menyampaikan peringatan langsung kepada Damaskus bahwa pengerahan pasukan ke Lebanon akan dibalas dengan pembukaan sejumlah front di dalam Suriah dan di sepanjang perbatasannya.
Baca juga: AS Minta Al Jolani Kirim Pasukan ke Lebanon untuk Lucuti Hizbullah, Apa Tanggapan Damaskus?
Ancaman Iran mencakup pengaktifan perbatasan Suriah dan Irak, pembukaan jalur konflik di Homs, dukungan terhadap gerakan kelompok Alawi di pesisir Suriah, serta dorongan kepada kelompok Kurdi untuk kembali bergerak di sekitar Aleppo.
Peringatan itu juga dikirim kepada Ankara, Baghdad, Doha, dan Riyadh. Pesannya jelas, setiap serangan Suriah terhadap Hizbullah di Lebanon tidak akan berhenti di Lembah Bekaa. Konflik dapat meluas ke wilayah Suriah dan membuka konfrontasi regional yang lebih besar.
Uniones menilai tekanan Iran telah mengubah perhitungan atas rencana intervensi Suriah. Apa yang semula dipandang sebagai opsi militer yang dapat didorong Amerika Serikat kini berisiko berkembang menjadi konflik regional dengan biaya jauh lebih besar.
Rencana operasi yang dikaitkan dengan sejumlah pihak yang memiliki hubungan dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Lebanon mencakup pengerahan unit bersenjata Suriah melalui perlintasan Masnaa menuju Shtoura di Lembah Bekaa, lalu bergerak ke Kota Zahlé. Pada saat yang sama, pasukan dari kawasan pegunungan timur akan diarahkan menuju Baalbek.
Tripoli juga masuk dalam rancangan itu sebagai wilayah pengaruh Suriah. Pasukan dari sejumlah kota, terutama kawasan dengan mayoritas penduduk Sunni, akan digunakan untuk menjalankan operasi. Targetnya adalah infrastruktur rudal Hizbullah di Bekaa, sekaligus memberikan tekanan politik dan militer agar kelompok itu mundur dan menerima pengaturan keamanan baru.
Perkembangan ini mendorong sejumlah negara di kawasan menghitung kembali risiko operasi. Kondisi Suriah menjadi salah satu persoalan utama. Setelah mengalami perubahan politik dan militer yang besar, negara itu dinilai tidak memiliki kapasitas untuk menghadapi perang saudara baru.
Melalui Turki, Iran juga menyampaikan ancaman serangan rudal kepada Damaskus. Uniones melaporkan bahwa serangan akan diluncurkan dari wilayah Suriah dan pada gelombang pertama menyasar lebih dari 100 target strategis, termasuk istana kepresidenan.
Baca juga: Suriah Tanpa Iran: Negeri yang Kehilangan Tameng dan Harga Dirinya
Sementara itu, Kepala Dinas Intelijen Irak Hamid al-Shatri berkunjung ke Damaskus dan menyampaikan penolakan Baghdad terhadap perluasan operasi militer Suriah ke Lebanon. Dia memperingatkan bahwa jika Suriah menyerang Hizbullah, pasukan Irak, terutama sejumlah kelompok dalam al-Hashd al-Sha’bi, dapat memasuki wilayah Suriah.
Negara-negara Arab mengambil posisi berbeda. Uni Emirat Arab, menurut Uniones, bersedia membiayai operasi militer Suriah di Lebanon. Abu Dhabi bahkan siap membayar gaji pasukan dan menanggung biaya operasi tempur.
Qatar menolak intervensi Suriah di Lebanon. Arab Saudi mengambil sikap lebih terbuka. Riyadh tidak keberatan terhadap langkah yang dapat melemahkan Hizbullah selama operasi itu berada dalam kerangka pengaturan yang tidak memicu konflik besar di kawasan.
Hizbullah juga meningkatkan kewaspadaan. Uniones melaporkan bahwa kelompok itu telah mengambil langkah pencegahan di kawasan Bekaa untuk menghadapi kemungkinan operasi militer Suriah.
Hizbullah memandang ancaman itu bukan sebagai langkah Suriah yang berdiri sendiri. Menurut Uniones, kelompok tersebut melihatnya sebagai bagian dari tekanan Amerika Serikat, Israel, dan sejumlah pihak regional untuk meruntuhkan struktur perlawanan di Lebanon dari arah timur, terutama setelah Israel disebut gagal mencapai tujuannya di front selatan. []
Baca juga: Elegansi Kebisuan: Ketika Tragedi Suriah Dibungkus Kesalehan







