Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

China Tembakkan “Rudal Obligasi” ke AS

Published

on

China memegang sekitar US$590 miliar surat utang AS, level terendah dalam 18 tahun, saat tekanan terhadap pasar Treasury meningkat.
China memegang sekitar US$590 miliar surat utang AS, level terendah dalam 18 tahun, saat tekanan terhadap pasar Treasury meningkat.

Media ABI, 6 November 2026 — Di tengah gejolak politik Amerika Serikat, China tengah mempertimbangkan penjualan surat utang pemerintah AS yang dimilikinya. Langkah tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap pasar obligasi Amerika yang dalam tiga bulan terakhir sudah tertekan akibat guncangan energi yang dipicu oleh situasi di Selat Hormuz.

Baca juga: Perang Iran Berbuah Pemakzulan, Menteri Perang Trump di Ujung Tanduk

Menurut laporan Bloomberg yang dikutip Kantor Berita Farsnews pada Jumat (6/11/26), China sedang mengkaji kemungkinan menjual surat utang pemerintah AS senilai miliaran dolar di pasar luar negeri mulai bulan ini. Jika terealisasi, pelepasan aset tersebut berpotensi memperbesar tekanan yang telah membayangi pasar obligasi AS.

Pasar surat utang pemerintah Amerika telah berada di bawah tekanan selama sekitar tiga bulan akibat guncangan energi yang berkaitan dengan Selat Hormuz. Dalam situasi tersebut, penjualan surat utang AS oleh China dapat menambah tekanan terhadap pasar obligasi dolar Amerika.

Berdasarkan data terbaru, kepemilikan China atas surat utang pemerintah Amerika tercatat sekitar 590 miliar dolar AS, angka terendah dalam 18 tahun terakhir. Namun, jumlah tersebut tetap menjadikan China sebagai salah satu pemegang penting surat utang pemerintah AS.

Baca juga: Iran Tegaskan Selat Hormuz Tak Dibuka sebelum Tujuh Syarat Dipenuhi AS

Reaksi pasar muncul segera setelah kabar mengenai kemungkinan penjualan tersebut beredar. Imbal hasil surat utang pemerintah Amerika meningkat, sementara pasar saham AS mengalami penurunan.

Dengan demikian, surat utang yang selama ini menjadi salah satu instrumen penting dalam hubungan finansial China dan Amerika kini kembali muncul sebagai alat tekanan ekonomi. Beijing tidak perlu mengirim kapal perang untuk mengirim sinyal ke Washington. Cukup dengan menggerakkan portofolio obligasinya, pasar keuangan Amerika sudah bisa ikut berdebar. []

Baca juga: Yaman kepada Al-Saud: Sekalipun Didukung Seluruh Barat, Kalian Tak Akan Aman