Internasional
Ansarullah: Bola Kini Ada di Tangan Arab Saudi

Ahlulbait Indonesia, 27 Juli 2026 – Ansarullah Yaman menegaskan bahwa keputusan untuk meredakan eskalasi kini sepenuhnya berada di tangan Arab Saudi. Setelah mengumumkan kebijakan blokade maritim terhadap Riyadh sebagai respons atas blokade yang telah lama diberlakukan terhadap Yaman, kelompok itu menyatakan bahwa langkah selanjutnya bergantung pada kesediaan Arab Saudi mengakhiri kebijakan pengepungan.
Anggota Biro Politik Ansarullah, Abdullah al-Naami, dalam wawancara dengan stasiun televisi Al Mayadeen pada Minggu (26/7), mengatakan Arab Saudi hingga kini masih berusaha menghindari tanggung jawabnya dengan berlindung di balik berbagai dalih.
Baca juga: Yaman Balas Serangan Saudi, Aramco Digempur Puluhan Rudal Balistik dan Drone
“Komunikasi tidak pernah terputus, tetapi Arab Saudi terus menolak memikul tanggung jawab atas blokade yang diberlakukannya terhadap Yaman,” ujarnya.
Al-Naami menilai persoalan utama bukan terputusnya jalur komunikasi, melainkan tidak adanya kesungguhan Riyadh untuk mengakhiri tekanan terhadap rakyat Yaman. Karena itu, menurutnya, Sanaa kini menerapkan prinsip “eskalasi dibalas eskalasi” dan “blokade dibalas blokade.”
“Kini bola ada di tangan Arab Saudi. Solusi berada di tangan mereka,” tegasnya.
Ia menambahkan, Ansarullah siap menghadapi segala bentuk eskalasi dari Arab Saudi, baik dilakukan secara langsung maupun melalui kelompok-kelompok proksi yang didukungnya di dalam Yaman.
Sementara itu, juru bicara Ansarullah sekaligus Ketua Tim Perunding Yaman, Mohammed Abdulsalam, menyatakan bahwa serangan terhadap Bandara Internasional Sanaa menjadi bukti Arab Saudi masih mempertahankan blokade terhadap Yaman. Menurutnya, pembukaan kembali bandara tersebut sepenuhnya bergantung pada keputusan Kerajaan Arab Saudi, meskipun Riyadh di saat yang sama mengklaim mendukung kedaulatan Yaman.
Abdulsalam juga melontarkan kritik keras dengan menyamakan perilaku Arab Saudi dengan Israel.
Baca juga: Yaman Serang Balik Jizan Usai Hodeidah Diserang
“Israel juga bertindak dengan cara seperti ini dalam perang-perang agresinya. Betapa Arab Saudi menyerupai Israel dalam kebohongan, keangkuhan, kebencian, dan agresinya,” tulisnya di platform X.
Ia menambahkan, berbagai pernyataan politik maupun resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menurutnya dipengaruhi kepentingan Arab Saudi tidak dapat mengaburkan fakta bahwa rakyat Yaman masih hidup di bawah blokade yang tidak adil. Menurut Abdulsalam, setelah gagal mencapai tujuannya melalui perang selama bertahun-tahun, Riyadh kini berusaha mempertahankan tekanan terhadap Yaman melalui blokade ekonomi.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri dan Urusan Ekspatriat Yaman mengecam serangan udara Arab Saudi ke Provinsi Al Hudaydah pada Jumat malam. Dalam pernyataannya, kementerian menegaskan bahwa tindakan tersebut akan dijawab dengan penerapan prinsip “eskalasi dibalas eskalasi” pada tahap berikutnya.
Kementerian menilai, alih-alih memenuhi tuntutan yang sah untuk mencabut blokade terhadap Yaman, Arab Saudi justru memilih langkah yang disebutnya sebagai “kesalahan besar” dengan konsekuensi yang harus ditanggung sendiri. Pemerintah Yaman juga menegaskan bahwa Riyadh memikul tanggung jawab penuh atas seluruh dampak yang timbul akibat serangan tersebut.
Rangkaian pernyataan Ansarullah dan pemerintah di Sanaa menunjukkan bahwa Yaman memandang konfrontasi saat ini tidak lagi terbatas pada serangan militer, tetapi juga mencakup blokade ekonomi dan jalur pelayaran. Dengan menegaskan bahwa “bola kini berada di tangan Arab Saudi”, Ansarullah mengirimkan pesan bahwa kelanjutan maupun deeskalasi konflik bergantung pada pilihan yang diambil Riyadh terhadap kebijakan blokade atas Yaman. []
Baca juga: Yaman Unjuk Kekuatan: Seluruh Kapal Menuju Pelabuhan Saudi Dilarang Melintas







