Akidah
Ayatullah Rashad: Ghadir Khum Realitas Eksistensial yang Terus Hidup

Ahlulbait Indonesia | 31 Mei 2026 — Ketua Dewan Hauzah Ilmiah Provinsi Teheran, Ayatullah Ali Akbar Rashad, menegaskan bahwa pemahaman terhadap ma’rifat Wilayah dan Imamah merupakan taufik dari Allah SWT. Pernyataan itu disampaikan dalam program “Madrasah Ilmiah Musim Semi” bertema Imamah dalam Ajaran Razavi sebagaimana dilaporkan Mehr News Agency pada Minggu, 31 Mei 2026.
Baca juga: Ustadz Zahir Yahya: Perang Iran Hari Ini, dari Sabda Imam Ali ke Strategi Imam Ridha
Dalam ceramahnya, Ayatullah Rashad mengatakan hakikat wilayah tidak dapat dipahami hanya melalui pendekatan intelektual, melainkan memerlukan cahaya hidayah Ilahi dan keterhubungan spiritual dengan Ahlul Bait a.s.
“Taufik untuk memahami ma’rifat wilayah hanya berasal dari Allah. Kita harus memohon kepada hadirat suci Sayyidah Maksumah dan para Imam Ahlul Bait agar hati-hati ini diterangi,” ujarnya.
Pengasuh Komplek Hauzah Imam Ridha a.s. itu menekankan bahwa Ghadir Khum bukan hanya peristiwa sejarah dalam lintasan dakwah Islam, melainkan realitas ontologis yang terus hidup dan berkelanjutan dalam kehidupan umat.
“Sebagian orang mengira Ghadir hanya peristiwa sejarah, padahal ini merupakan realitas eksistensial yang terus hidup,” kata Ayatullah Rashad.
Ia menjelaskan bahwa Imamah dan Wilayah telah menjadi bagian mendasar dalam dakwah Rasulullah SAW sejak awal risalah hingga akhir hayat beliau. Karena itu, menurutnya, wilayah tidak dapat dipandang sebagai ajaran cabang atau isu sekunder dalam agama.
Baca juga: Ustadz Zahir Yahya: Panji Perjuangan Imam Ali Khamenei Tak Boleh Jatuh
“Wilayah bukan ajaran pinggiran. Wilayah merepresentasikan keseluruhan agama. Ghadir bukan hanya telaga, melainkan samudra,” ujarnya.
Dalam penjelasannya mengenai hubungan tauhid dan wilayah, Ayatullah Rashad menilai keduanya memiliki relasi yang tidak terpisahkan. Sebagaimana tauhid mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia, wilayah juga memiliki cakupan spiritual, intelektual, dan sosial yang menyeluruh.
Ia kemudian mengutip hadis Silsilah Emas dari Imam Ridha a.s. yang diriwayatkan di Nishapur. Dalam hadis tersebut, Imam Ridha menyampaikan sabda Ilahi, “La ilaha illallah adalah benteng-Ku. Siapa memasukinya akan aman dari azab-Ku,” lalu melanjutkan dengan kalimat, “dengan syarat-syaratnya, dan aku termasuk syarat itu.”
Menurut Ayatullah Rashad, hadis itu menunjukkan bahwa tauhid tidak dapat dipisahkan dari konsep wilayah dan Imamah.
Baca juga: Ustadz Zahir Yahya: Kesyahidan Imam Ali Khamenei Membuka Babak Baru Perlawanan Umat
“Tauhid tanpa wilayah bukanlah tauhid. Jika syaratnya hilang, maka yang disyaratkan juga gugur,” katanya.
Ayatullah Rashad juga menyebut hadis Silsilah Emas sebagai salah satu hadis Qudsi yang merangkum inti ajaran Ilahi. Ia membandingkannya dengan Khutbah Fadakiyah sebagai ringkasan Nahjul Balaghah dan Ziarah Jami’ah Kabirah sebagai intisari ma’rifat Ahlul Bait a.s.
Menutup ceramahnya, Ayatullah Rashad mengutip pandangan Ayatullah Jawadi Amuli yang menyatakan bahwa satu hadis dapat melahirkan puluhan makna mendalam. Karena itu, menurutnya, pemahaman terhadap hakikat wilayah memerlukan kesiapan ruhani dan pertolongan Allah SWT. []
Baca juga: Taslim sebagai Fondasi Wilayah dalam Ujian Membersamai Imam







