Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Ghalibaf Sebut Menkeu AS Pembohong, Singgung Utang dan Biaya Perang

Published

on

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. Dia menegaskan tekanan Washington tidak akan membuat Teheran memberikan konsesi di luar kesepahaman yang telah ada.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menanggapi klaim Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengenai Selat Hormuz dengan kritik keras terhadap kondisi ekonomi Amerika Serikat.

Media ABI, 30 Agustus 2026 – Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent sebagai pembohong saat menanggapi klaimnya mengenai minyak yang melintasi Selat Hormuz.

“Dasar pembohong! Lihat imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat yang sedang terbakar dan terus naik semakin tinggi,” tulis Ghalibaf, seperti dilaporkan Mehr News Agency pada Minggu, 30 Agustus 2026.

Baca juga: Arab Saudi Minta AS Pimpin Kampanye Militer Melawan Yaman

Pernyataan itu disampaikan setelah Ghalibaf membagikan ulang tulisan ekonom peraih Hadiah Nobel, Paul Krugman, yang mengkritik kebijakan Bessent dan pengelolaannya terhadap pasar.

Dalam tulisan tersebut, Krugman disebut menilai Bessent gagal mengendalikan pasar, sementara perkembangan pasar surat utang pemerintah Amerika Serikat menjadi salah satu bukti kegagalan kebijakan yang dikritiknya.

Ghalibaf juga menanggapi klaim Bessent mengenai 130 juta barel minyak yang disebut telah melintasi Selat Hormuz dalam waktu dua pekan.

Menurut Ghalibaf, angka 130 yang patut diperhatikan justru mencakup 130 miliar dolar biaya perang melawan Iran, berdasarkan data yang dikaitkannya dengan Moody’s Analytics.

Baca juga: Trump Murka setelah Fox News Ungkap Keinginannya Berunding dengan Iran

Ia juga menyinggung kerugian 130 juta dolar yang dialami sebuah perusahaan yang, menurutnya, secara diam-diam melakukan intervensi di pasar minyak berjangka atas nama pemerintah Amerika Serikat, sebelum aktivitas tersebut diketahui Iran.

Melalui pernyataan itu, Ghalibaf mempertentangkan klaim Bessent mengenai Selat Hormuz dengan biaya perang dan kondisi pasar keuangan Amerika Serikat yang menjadi sasaran kritiknya. []

Baca juga: Gedung Putih: Tak Ada Negosiasi dengan Iran