Internasional
Kata Pengamat Soal Indonesia “Hanya” Menugaskan Dubes RI Hadiri Prosesi Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei

Jakarta, 6 Juli 2026 — Keputusan Pemerintah Indonesia menugaskan Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran dan Turkmenistan, Rolliansyah Soemirat, sebagai perwakilan resmi dalam prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, menarik perhatian kalangan pengamat hubungan internasional. Di tengah kehadiran puluhan kepala negara, ketua parlemen, menteri luar negeri, dan utusan khusus dari berbagai belahan dunia, pilihan tingkat representasi Indonesia dinilai membuka ruang diskusi mengenai pesan politik yang hendak disampaikan Jakarta kepada Teheran.

Jutaan pelayat memadati Musala Imam Khomeini di Teheran untuk mengikuti salat jenazah dan prosesi penghormatan terakhir bagi Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.
Pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menegaskan bahwa penunjukan Duta Besar RI di Teheran telah merepresentasikan kehadiran resmi negara untuk memenuhi undangan Pemerintah Iran. Berdasarkan laporan CNN Indonesia pada Sabtu (4/7), Indonesia memastikan tetap mengirimkan perwakilan resmi untuk menghadiri rangkaian penghormatan terakhir kepada Ayatullah Ali Khamenei dengan menugaskan Rolliansyah Soemirat.
Baca juga: Ghalibaf: Kekuatan di Medan Perang Menentukan Posisi Tawar di Meja Perundingan
Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, menyampaikan bahwa pemerintah menghargai undangan Pemerintah Iran untuk menghadiri prosesi tersebut.
“Sehubungan dengan hal tersebut, Pemerintah RI telah menyampaikan bahwa Indonesia akan diwakili oleh Duta Besar RI di Tehran (Rolliansyah Soemirat),” terang Yvonne dalam rilis resmi yang diterima CNN Indonesia, Sabtu (4/7).
Yvonne menambahkan bahwa Pemerintah Iran mengapresiasi keputusan Indonesia yang menunjuk Duta Besar RI di Teheran sebagai wakil resmi negara dalam prosesi tersebut.
Dalam praktik hubungan antarnegara, tingkat representasi pada acara kenegaraan tidak hanya berkaitan dengan protokol, tetapi juga dipandang sebagai bahasa diplomasi yang mencerminkan penghormatan, perhatian politik, dan arti strategis hubungan bilateral. Hingga kini, pemerintah belum menjelaskan pertimbangan yang mendasari penetapan tingkat delegasi tersebut. Secara umum, penentuan level representasi dipengaruhi oleh pertimbangan protokol, hubungan bilateral, agenda pejabat negara, serta penilaian pemerintah terhadap konteks strategis yang melatarbelakanginya.
Meski demikian, Pakar Hubungan Internasional Dinna Prapto Raharja, Ph.D., menilai Indonesia semestinya dapat mengirim utusan dengan tingkat representasi yang lebih tinggi. Menurutnya, kehadiran pejabat setingkat menteri, wakil menteri, atau unsur pimpinan lembaga negara akan lebih mencerminkan penghormatan Indonesia terhadap momentum tersebut sekaligus memperkuat hubungan diplomatik maupun people-to-people relations antara kedua negara.
Pandangan tersebut pertama kali disampaikan Dinna dalam program Sapa Indonesia Malam Kompas TV yang tayang pada 4 Juli 2026 dengan tema “Kata Pengamat Soal Negara Sahabat Diundang Iran Hadiri Pemakaman Khamenei, Indonesia Kirim Dubes!”. Dalam diskusi itu, ia menilai pemerintah memiliki ruang untuk mengirim utusan dengan level yang lebih tinggi sebagai bentuk penghormatan diplomatik kepada Iran. Analisis tersebut kemudian kembali ia tegaskan melalui unggahan di akun Instagram resminya, @dinnapraptoraharja, dengan pembacaan yang lebih luas mengenai makna geopolitik di balik prosesi pemakaman tersebut.
Ia menulis: “Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei dan keluarganya yang turut wafat. Bersamaan dengan hari independence day di AS. Co-incidence? Tentu tidak. Yang diklaim kalah dalam live speech President Trump di AS langsung menyampaikan pesan: Iran masih ada, berduyun-duyun memuliakan pemimpinnya, dikunjungi sedemikian banyak utusan negara lain. Bahkan negara2 GCC. Yep, permusuhan dan permisuhan makin nyata.”
Baca juga: Jutaan Pelayat Mensalati Jenazah Ayatullah Syahid Sayyid Ali Khamenei
Melalui pandangan tersebut, Dinna melihat prosesi pemakaman tidak hanya sebagai seremoni kenegaraan, tetapi juga panggung diplomasi internasional yang sarat pesan politik. Kehadiran puluhan delegasi asing, menurutnya, menunjukkan bahwa momentum tersebut juga menjadi ruang penyampaian sikap politik dan diplomatik masing-masing negara kepada Iran maupun komunitas internasional.
Dalam unggahan yang sama, Dinna juga menyoroti keputusan Indonesia yang diwakili oleh Duta Besar RI di Teheran. Menurutnya, tingkat representasi tersebut masih dapat ditingkatkan apabila mempertimbangkan arti strategis momentum tersebut.
Ia menulis: “Ada negara2 yang tidak diundang. Indonesia diundang,tapi mengirim formalitas utusan p minimalist: Dubes RI di Teheran. Mengingat awal serangan, sepatutnya yang dikirim minimal wakil utusan rakyat seperti dari DPR/MPR atau Wakil Mentri Luar Negeri.”
Menurut Dinna, kehadiran pejabat dengan level representasi yang lebih tinggi akan memberikan pesan penghormatan yang lebih kuat sekaligus menunjukkan perhatian Indonesia terhadap hubungan bilateral dengan Iran yang selama ini telah terjalin dalam berbagai bidang.
Di bagian akhir unggahannya, Dinna juga mengajukan pertanyaan mengenai kemungkinan adanya faktor eksternal yang turut memengaruhi keputusan Indonesia dalam menentukan tingkat representasinya.
Baca juga: Melampaui Air Mata Duka: Ketika Kematian Menjelma Menjadi Roh Identitas Nasional
“Apakah Indonesia termasuk yang ditelpon AS untuk tidak hadir?”
Pertanyaan tersebut merupakan analisis yang disampaikan Dinna sebagai pengamat hubungan internasional.
Prosesi pemakaman Ayatullah Ali Khamenei menarik perhatian dunia dengan kehadiran delegasi dari berbagai negara. Selain menjadi penghormatan terakhir kepada sosok yang selama puluhan tahun memimpin Republik Islam Iran, prosesi tersebut juga memperlihatkan bagaimana pilihan tingkat representasi suatu negara kerap dibaca sebagai bagian dari komunikasi politik dan diplomatik di tengah dinamika geopolitik yang terus berkembang.
Karena itu, siapa yang diutus untuk mewakili suatu negara pada momentum diplomatik tidak jarang dipandang sebagai bagian dari komunikasi politik itu sendiri. Di balik sebuah kursi delegasi, tersimpan pesan mengenai cara sebuah negara memaknai hubungan bilateral, penghormatan diplomatik, serta posisi yang ingin ditampilkan di hadapan masyarakat internasional. []
Baca juga: Diplomasi Al-Qur’an: Membaca Pesan di Balik Pemilihan Ayat bagi Delegasi Asing







