Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Ghalibaf: Kekuatan di Medan Perang Menentukan Posisi Tawar di Meja Perundingan

Published

on

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, berbincang dengan Wakil Presiden Yaman sekaligus anggota Dewan Politik Tertinggi Ansarullah, Mohammad al-Nuaimi, di sela-sela prosesi penghormatan bagi Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, berbincang dengan Wakil Presiden Yaman sekaligus anggota Dewan Politik Tertinggi Ansarullah, Mohammad al-Nuaimi, di sela-sela prosesi penghormatan bagi Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. (Foto; Press TV)

Ahlulbait Indonesia, 6Juli 2026 — Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa diplomasi yang kuat hanya dapat dibangun di atas kesiapan penuh menghadapi perang. Menurutnya, kemampuan mempertahankan diri merupakan prasyarat bagi lahirnya posisi tawar yang kuat dalam perundingan internasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Ghalibaf saat menerima Wakil Presiden Yaman sekaligus anggota Dewan Politik Tertinggi Ansarullah, Mohammad al-Nuaimi, di sela-sela prosesi penghormatan bagi Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, sebagaimana dilaporkan IRNA pada Senin (6/7/2026).

Ghalibaf mengatakan dunia Islam perlu memperkuat persatuan dan mempererat hubungan antarnegeri Muslim agar mampu melepaskan diri dari dominasi Amerika Serikat dan Israel. Menurutnya, hanya melalui persatuan, negara-negara Islam dapat membangun kemandirian politik, keamanan, dan ekonomi.

Baca juga: Pejabat Keamanan Iran: Jutaan Pelayat Tuntut Pembalasan atas Darah Ayatullah Khamenei

Ia menilai Ansarullah bersama rakyat Yaman telah menunjukkan keteguhan dalam menghadapi tindakan yang dinilainya bertentangan dengan hukum internasional serta kezaliman para penindas. Menurut Ghalibaf, sikap tersebut memperlihatkan kesatuan kekuatan Poros Perlawanan di bidang politik, militer, dan ekonomi.

Ghalibaf juga menilai nota kesepahaman terbaru antara Iran dan Amerika Serikat menjadi perkembangan penting karena, menurutnya, Amerika Serikat dan Israel pada akhirnya terpaksa mengakui keberadaan sekutu-sekutu Iran dalam Poros Perlawanan. Ia menyebut hal itu sebagai salah satu capaian strategis dari kesepakatan tersebut.

“Iran dan Poros Perlawanan berdiri bersama menghadapi Amerika Serikat dan Israel. Dari sisi politik maupun militer, nota kesepahaman itu merupakan kegagalan bagi Amerika Serikat dan keberhasilan bagi Poros Perlawanan,” ujarnya.

Menurut Ghalibaf, Amerika Serikat dan Israel akan memilih jalan konfrontasi apabila melihat adanya kelemahan atau menurunnya semangat perjuangan di pihak Iran dan sekutu-sekutunya.

“Mereka akan beralih kepada perang jika merasakan sedikit saja kelemahan atau berkurangnya semangat perjuangan di pihak kami,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa pada awal konflik Perang Ramadan, Amerika Serikat dan Israel menetapkan sembilan sasaran terhadap Republik Islam Iran yang ditargetkan tercapai hanya dalam beberapa hari. Namun, menurutnya, hingga berakhirnya konflik selama 40 hari, tidak satu pun sasaran tersebut berhasil diwujudkan. Sebaliknya, pihak lawan kemudian meminta gencatan senjata melalui para mediator.

Baca juga: Panglima Angkatan Darat Iran: Balas Dendam atas Syahidnya Ayatullah Khamenei Tak Pernah Berhenti

Ghalibaf menambahkan, konflik tersebut telah memberikan pelajaran bagi sejumlah negara Islam yang selama ini berada di bawah pengaruh Amerika Serikat dan menjalin hubungan dengan Israel. Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa Amerika Serikat dan Israel tidak mampu menjamin keamanan maupun kesejahteraan ekonomi negara-negara tersebut.

Lebih lanjut, Ghalibaf menekankan besarnya potensi strategis dunia Islam. Menurutnya, lebih dari 70 persen jalur perdagangan global melintasi Selat Hormuz, Terusan Suez, dan Selat Bab el-Mandeb yang berada di kawasan negara-negara Islam. Karena itu, setelah tercapainya nota kesepahaman, Iran berupaya membangun komunikasi yang lebih terbuka dan transparan dengan negara-negara kawasan.

Ghalibaf memuji konsistensi Ansarullah yang tetap berdiri bersama Poros Perlawanan serta memberikan dukungan kepada Gaza, Lebanon, dan Palestina di berbagai situasi.

“Kami meyakini bahwa selama belum siap menghadapi perang dan belum siap meraih kesyahidan, kami tidak akan memiliki diplomasi yang kuat,” tegasnya.

Konflik tersebut menurutnya menjadi pelajaran bagi negara-negara yang memilih mendekat kepada Amerika Serikat dan Israel. Pertarungan antara kebenaran dan kebatilan merupakan kenyataan historis yang akan terus berlangsung, dan Iran akan tetap berpihak pada apa yang diyakininya sebagai kebenaran.

Baca juga: Jutaan Pelayat Mensalati Jenazah Ayatullah Syahid Sayyid Ali Khamenei

Sementara itu, al-Nuaimi mengatakan Yaman dan Iran berada di garis perjuangan yang sama demi kepentingan umat Islam. Ia menyampaikan bahwa pemimpin Ansarullah menegaskan berdiri bersama Republik Islam Iran merupakan tanggung jawab seluruh kekuatan perlawanan.

Al-Nuaimi menilai pengalaman Iran selama konflik terakhir telah menjadi pelajaran bagi seluruh Poros Perlawanan, baik dalam menghadapi perang maupun di bidang diplomasi. Meski mendukung kerja sama antarnegara Islam, ia menyayangkan sikap sebagian negara yang dinilainya tidak menunjukkan dukungan yang memadai.

Menutup pertemuan, al-Nuaimi menegaskan Yaman siap memperluas kerja sama diplomatik. Namun, apabila upaya-upaya diplomasi tidak membuahkan hasil, negaranya juga siap mengambil langkah-langkah pertahanan. []

Baca juga: Konferensi Internasional di Qom Perkuat Ikhtiar Mengkaji Warisan Pemikiran Syahid Imam Ali Khamenei