Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

IRGC Tegaskan Selat Hormuz Kini Jadi ‘Bulan Sabit’ Operasional Strategis

Published

on

Angkatan Laut Garda Revolusi Iran memperluas cakupan operasi Selat Hormuz hingga 500 kilometer di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik kawasan. (Foto: Press TV)

Ahlulbait Indonesia | Selasa, 12 Mei 2026 — Angkatan Laut Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC Navy menyatakan Selat Hormuz kini telah berubah menjadi kawasan operasi strategis sepanjang 500 kilometer. Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya konfrontasi Iran dengan Amerika Serikat dan Israel serta berlanjutnya pembatasan pelayaran di salah satu jalur energi paling vital dunia.

Menurut laporan Press TV pada Selasa (12/5/26), Wakil Politik Angkatan Laut IRGC Mohammad Akbarzadeh mengatakan Iran telah mendefinisikan ulang cakupan operasional Selat Hormuz secara mendasar.

“Dulu Selat Hormuz hanya dipahami sebagai kawasan terbatas di sekitar Pulau Hormuz dan Hengam. Sekarang situasinya sudah berubah,” kata Akbarzadeh, Selasa (12/5/2026).

Baca juga: Trump Akui Kirim Senjata ke Iran untuk Kerusuhan dan Terorisme

Menurutnya, wilayah yang kini masuk dalam cakupan strategis Selat Hormuz membentang dari pesisir Jask dan Sirik hingga melewati Pulau Tunb Besar. Kawasan itu disebut telah berubah menjadi zona operasi pertahanan terpadu Iran.

“Selat Hormuz kini jauh lebih luas dan telah berubah menjadi area operasi besar. Jika sebelumnya lebarnya hanya sekitar 20 hingga 30 mil, sekarang mencapai lebih dari 200 sampai 300 mil atau sekitar 500 kilometer. Ini adalah bulan sabit pertahanan penuh,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan perubahan besar dalam pendekatan pertahanan Iran terhadap Selat Hormuz, jalur laut yang selama ini menjadi titik paling sensitif dalam perdagangan energi global. Sekitar seperlima distribusi minyak dan gas dunia melintasi kawasan tersebut.

Yang mengemuka dari pernyataan IRGC bukan hanya perluasan definisi geografis kawasan operasi Iran. Teheran kini memperlakukan Selat Hormuz sebagai ruang kendali militer strategis yang diawasi langsung oleh angkatan bersenjata Iran, bukan lagi hanya jalur pelayaran internasional.

Baca juga: Jubir Kemenlu Iran Skakmat Jurnalis, “Kami Juga Adidaya”

Akbarzadeh menegaskan seluruh aktivitas di kawasan itu berada dalam pemantauan penuh Iran. “Republik Islam Iran memantau seluruh pergerakan regional dengan cermat dan tegas. Kami tidak akan membiarkan pelanggaran terhadap perairan dan kepentingan nasional kami,” katanya.

Ia juga menegaskan angkatan bersenjata Iran siap mempertahankan kedaulatan negara dalam kondisi apa pun. “Kami akan menumpahkan darah, tetapi tidak akan menyerahkan satu inci wilayah pun. Angkatan bersenjata akan mempertahankan integritas teritorial dan perairan Iran dengan seluruh kemampuan yang dimiliki,” ujarnya.

IRGC sebelumnya telah menyatakan satu-satunya jalur aman bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz adalah koridor pelayaran yang ditetapkan Iran. Setiap kapal yang keluar dari jalur tersebut diperingatkan akan menghadapi respons tegas.

Iran mulai memperketat pembatasan terhadap kapal yang dianggap bermusuhan sejak awal Maret, beberapa hari setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran. Pembatasan diperluas bulan lalu setelah Washington mengumumkan blokade terhadap kapal dan pelabuhan Iran, langkah yang oleh Teheran disebut sebagai pembajakan maritim dan pelanggaran hukum internasional.

Baca juga: Kapal-Kapal Kecil Iran yang Mengubah Logika Perang Laut Modern

Pengetatan kontrol Iran di Selat Hormuz telah memicu gangguan besar terhadap distribusi energi global dan menyebabkan volatilitas tajam harga minyak serta gas dunia.

Dalam beberapa pekan terakhir, kapal perang Amerika Serikat yang mendekati perairan Iran dilaporkan beberapa kali dipukul mundur oleh tembakan langsung pasukan Iran ketika mencoba memasuki kawasan strategis tersebut.

Situasi itu menunjukkan Selat Hormuz kini telah berubah menjadi garis depan konfrontasi geopolitik Iran dan Barat, dengan dampak langsung terhadap stabilitas energi dan keamanan maritim internasional. []

Baca juga: Subuh Berdarah di Mahyar, Isfahan: Kisah Pasukan Khusus Iran Melumpuhkan MC-130J Commando II AS