Internasional
Gejolak Hormuz Mengguncang Wall Street

Media ABI, 23 Oktober 2026 – Pasar saham Amerika Serikat mengalami aksi jual besar-besaran pada perdagangan sehari sebelumnya. Di tengah tekanan tersebut, investor beralih ke obligasi pemerintah AS sebagai upaya menghindari risiko.
Menurut laporan Fars News Agency pada Jumat (23/10/2026), pelemahan tajam bursa saham AS terutama dipicu oleh kembali menguatnya kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan keuntungan investasi berskala besar di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta meningkatnya ketegangan geopolitik. Investor pun melepas saham dan mengalihkan dana ke aset yang dinilai lebih aman, terutama obligasi pemerintah.
Baca juga: Yaman: Arab Saudi Harus Menanggung Konsekuensi Militerisasi Laut Merah
Mengapa imbal hasil obligasi turun saat bursa saham anjlok?
Meningkatnya permintaan obligasi mendorong kenaikan harganya. Karena pembayaran bunga tetap tidak berubah, investor harus membayar lebih mahal untuk memperoleh pendapatan bunga yang sama sehingga imbal hasil yang diperoleh menjadi lebih rendah. Dalam jangka pendek, fenomena flight to safety, yakni peralihan dana ke aset yang dianggap lebih aman, dapat menekan imbal hasil obligasi.
Guncangan energi Selat Hormuz menjadi pemicu utama
Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dan transportasi energi melalui Selat Hormuz, jalur laut strategis bagi perdagangan energi dunia, telah mendorong kenaikan harga minyak dan ekspektasi inflasi. Pasar menghadapi dua ancaman sekaligus: inflasi yang sulit mereda akibat lonjakan biaya energi dan perlambatan ekonomi yang berpotensi berkembang menjadi resesi. Kombinasi kekhawatiran tersebut mendorong investor melepas saham dan untuk sementara beralih ke obligasi pemerintah.
Risiko yang mengancam pasar keuangan
Ancaman stagflasi: Guncangan energi dapat meningkatkan inflasi sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi. Kombinasi ini menjadi salah satu skenario terburuk bagi pasar keuangan dan bank sentral.
Penurunan imbal hasil obligasi berpotensi berbalik: Pelemahan imbal hasil saat ini mungkin hanya sementara. Jika guncangan energi berlanjut, ekspektasi inflasi dapat meningkat sehingga investor menuntut imbal hasil lebih tinggi. Akibatnya, imbal hasil obligasi berisiko kembali melonjak.
Risiko tekanan serentak pada berbagai aset (triple red): Memburuknya kekhawatiran terhadap inflasi dan kenaikan suku bunga dapat menekan saham, obligasi, bahkan dolar AS secara bersamaan. Kondisi ini berisiko merugikan portofolio investasi yang telah terdiversifikasi.
Baca juga: Maariv: Target Netanyahu terhadap Iran Mustahil Dicapai
Dilema Federal Reserve: Bank sentral AS menghadapi pilihan sulit. Penurunan suku bunga untuk menopang pasar saham berisiko memperburuk tekanan inflasi energi, sedangkan kenaikan suku bunga untuk mengendalikan inflasi dapat memperdalam kejatuhan bursa.
Tekanan terhadap perusahaan dan konsumen: Kenaikan biaya energi dan pinjaman dapat menggerus margin keuntungan perusahaan sekaligus menekan daya beli rumah tangga.
Risiko likuiditas dan penjualan paksa: Dalam kondisi pasar yang bergejolak, dana investasi dan lembaga keuangan dapat terpaksa menjual saham dan obligasi untuk memenuhi kewajiban margin. Aksi jual serentak ini berpotensi memperparah tekanan pasar.
Peralihan dana ke aset yang lebih aman saat ini mencerminkan respons jangka pendek investor terhadap ketidakpastian. Namun, di balik gejolak tersebut, ancaman yang lebih mendasar adalah guncangan energi serius yang berpusat di Selat Hormuz. Jika gangguan ini berlanjut, penurunan imbal hasil obligasi bisa kehilangan momentumnya. Pasar keuangan pun berisiko menghadapi periode inflasi tinggi dan volatilitas tajam, bahkan tekanan serentak terhadap pasar saham dan obligasi. []
Baca juga: Qalibaf Peringatkan AS tentang Mahalnya Biaya Perang dengan Iran







