Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Profesor UEA Sebut Israel Rezim Paling Dibenci, Siapa Peringkat Kedua?

Published

on

Profesor UEA menyebut Israel sebagai rezim paling dibenci. Ironinya, Abu Dhabi tetap mempertahankan hubungan normalisasi dengan Tel Aviv.
Profesor UEA menyebut Israel sebagai rezim paling dibenci. Ironinya, Abu Dhabi tetap mempertahankan hubungan normalisasi dengan Tel Aviv.

Media ABI, 24 Oktober 2026 – Pernyataan Profesor Abdulkhaleq Abdullah, akademisi Uni Emirat Arab (UEA), yang menyebut Israel sebagai rezim paling dibenci di dunia menghadirkan ironi politik. Pasalnya, UEA justru mempertahankan hubungan normalisasi dengan Tel Aviv. Kontras ini menyoroti jurang antara penilaian yang disuarakan dan kebijakan yang dijalankan Abu Dhabi.

Baca juga: Upaya Terakhir Netanyahu untuk Bertahan di Panggung Politik

Melalui akun X-nya pada 22 Oktober 2026, Abdullah menyebut hasil survei menempatkan rezim Zionis sebagai rezim paling dibenci di dunia, dengan angka mencapai 98,75 persen.

Pernyataan tersebut diberitakan Arab21 pada 24 Oktober 2026 melalui artikel berjudul “Akademisi Emirat Picu Kontroversi: Israel Negara Paling Dibenci, Siapa Peringkat Kedua?”.

Unggahan Abdullah menuai beragam tanggapan di media sosial. Seorang netizen menyebut UEA berada di posisi kedua setelah Israel, sementara pengguna lain menyoroti ironi antara pengakuan atas kebencian terhadap Israel dan keputusan Abu Dhabi untuk tetap menormalisasi hubungan dengannya.

“Jadi, mereka tahu bahwa Israel adalah negara paling dibenci di dunia, tetapi tetap menormalisasi hubungan dengannya!” tulis pengguna tersebut.

Kritik itu bukan tanpa konteks. UEA dan Israel menandatangani perjanjian normalisasi hubungan pada 2020. Sejak itu, hubungan resmi keduanya terus dipertahankan. Pernyataan Abdullah pun memunculkan pertanyaan: jika Israel dipandang sedemikian buruk, mengapa Abu Dhabi tetap menjadikannya mitra?

Seorang akademisi tentu tidak otomatis berbicara atas nama pemerintahnya. Namun, kontradiksi antara pernyataan tentang citra Israel dan pilihan politik UEA tetap menyisakan persoalan. Sentimen dan kepentingan strategis boleh jadi berbeda, tetapi perbedaan itu tidak serta-merta menghapus pertanyaan tentang konsistensi sikap.

Baca juga: Iran Siapkan Dewan Perang Ekonomi untuk Menghadapi AS

Netizen Saeed Al Amiri turut mengkritik pihak-pihak yang, menurutnya, merangkul Israel, menjalankan kebijakannya, serta memberikan hal-hal yang bahkan tidak mampu diwujudkan sendiri oleh rezim tersebut.

“Adakah ketergantungan yang lebih menyakitkan daripada mengabdi pada sebuah proyek yang ditolak oleh lingkungan sekitarnya?” tulis Al Amiri.

Abu Dhabi rupanya tak keberatan mengetahui Israel dicap sebagai rezim paling dibenci, selama cap buruk itu tidak mengganggu kemitraan yang dipeliharanya. Di hadapan publik, kebencian terhadap Israel bisa menjadi bahan pernyataan; di meja politik, Tel Aviv tetap mendapat tempat sebagai mitra. Barangkali, bagi Abu Dhabi, prinsip memang punya dua wajah: satu untuk dikutip, satu lagi untuk dinegosiasikan. []

Baca juga: Washington Post: Iran Tidak Akan Tunduk pada Tekanan