Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Serangan Iran Lumpuhkan ‘Mata dan Tangan’ Operasi Amerika Serikat

Published

on

Drone MQ-9 Reaper merupakan salah satu aset utama intelijen, pengintaian, dan serangan presisi militer Amerika Serikat.
Drone MQ-9 Reaper merupakan salah satu aset utama intelijen, pengintaian, dan serangan presisi militer Amerika Serikat.

Ahlulbait Indonesia, 20 Juli 2026 – Media Iran melaporkan bahwa serangan pada gelombang ke-22 Operasi Nasr 2 menghantam hanggar penyimpanan drone MQ-9 Reaper milik Amerika Serikat di Pangkalan Udara Ali Al Salem, Kuwait. Menurut laporan Kantor Berita Farsnews Agency pada Senin (20/7/26), drone-drone yang berada di dalam hanggar terbakar hangus dan keluar dari siklus operasional.

Laporan itu menilai dampak serangan tidak hanya diukur dari kerugian material yang mencapai puluhan juta dolar, tetapi juga hilangnya salah satu aset paling strategis milik militer Amerika Serikat dalam bidang intelijen, pengintaian, dan dukungan operasi di kawasan.

Baca juga: IRGC Hancurkan Radar Peringatan Dini dan Hanggar Drone MQ-9 AS di Kuwait

Tulang Punggung Operasi Udara AS

MQ-9 Reaper yang mulai dioperasikan Angkatan Udara Amerika Serikat sejak 2007 telah menjadi salah satu platform nirawak paling penting dalam berbagai operasi militer Washington, khususnya di Asia Barat. Selain menjalankan misi pengintaian dan pengumpulan intelijen, drone ini juga dirancang untuk melaksanakan serangan presisi terhadap sasaran darat.

Salah satu keunggulan utama MQ-9 adalah kemampuannya menggabungkan fungsi intelijen dan tempur dalam satu sistem. Dengan bobot lepas landas sekitar 4,76 ton, drone ini mampu membawa hingga 1,7 ton persenjataan berpemandu, termasuk rudal, bom, dan roket presisi, sembari melakukan pengawasan, pemantauan, dan transmisi data secara berkelanjutan selama berjam-jam.

Drone buatan General Atomics ini ditenagai mesin turboprop yang memungkinkannya melaju hingga lebih dari 480 kilometer per jam. Dengan panjang 10,97 meter, bentang sayap hampir 20 meter, jangkauan operasional sekitar 1.800 kilometer, ketinggian terbang hingga 7.500 meter saat bersenjata, serta daya tahan terbang mencapai 14 jam, MQ-9 menjadi salah satu platform utama Amerika Serikat untuk misi pengintaian jarak jauh dan serangan presisi.

Karena dilengkapi sistem sensor, komunikasi, dan persenjataan canggih, MQ-9 dipandang sebagai salah satu aset udara paling bernilai bagi militer Amerika Serikat. Kehilangan satu unit drone ini, tidak hanya mengurangi jumlah armada operasional, tetapi juga memengaruhi kemampuan intelijen, pengawasan, serta respons cepat pasukan AS di kawasan.

Baca juga: IRGC Tangkap Drone Mata-Mata yang Mengintai Wilayah Operasi Militer

Kerugian Puluhan Juta Dolar

Selain nilai strategisnya, MQ-9 juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Biaya produksi setiap unit diperkirakan mencapai sekitar US$32 juta. Oleh karena itu, menurut Farsnews Agency, penghancuran setiap drone MQ-9 tidak hanya mengurangi kemampuan tempur dan intelijen Amerika Serikat, tetapi juga menimbulkan kerugian finansial yang besar.

Media Iran itu menyebut serangan terhadap hanggar MQ-9 dalam gelombang ke-22 Operasi Nasr 2 bukan merupakan kejadian pertama. Sebelumnya, dalam Operasi Janji Sejati 4 maupun sejumlah tahapan Operasi Nasr, Iran telah menghancurkan sejumlah drone MQ-9 hingga keluar dari siklus operasional.

Menurut laporan tersebut, berulangnya serangan terhadap drone MQ-9 menunjukkan bahwa pelemahan kemampuan intelijen dan pengintaian Amerika Serikat telah menjadi salah satu sasaran utama operasi-operasi Iran. Strategi ini dinilai tidak hanya bertujuan menimbulkan kerugian finansial bernilai puluhan juta dolar, tetapi juga mengurangi sebagian kapasitas intelijen dan operasional militer Amerika Serikat di kawasan. []

Baca juga: MQ-9 Berguguran, Langit Iran Jadi Neraka bagi Drone-drone Super Mahal AS