Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Rusia Peringatkan Barat Gunakan ISIS untuk Menyerang Iran

Published

on

Militan ISIS
Aleksandr Bortnikov memperingatkan Barat yang akan menggunakan militan ISIS sebagai kekuatan proksi untuk menyerang Iran. (Dok. Press TV)

Ahlulbait Indonesia | 27 Mei 2026 — Kepala Dinas Keamanan Federal Rusia atau Federal Security Service, Aleksandr Bortnikov, memperingatkan adanya rencana badan intelijen Barat untuk menggunakan militan yang berafiliasi dengan Daesh (ISIS) sebagai kekuatan proksi melawan Iran.

Menurut laporan Press TV pada Rabu, 27 Mei 2026, dalam pertemuan para kepala badan keamanan negara-negara anggota Commonwealth of Independent States di wilayah Irkutsk, Rusia, pada Selasa, Bortnikov mengatakan militan yang sebelumnya bertempur bersama Daesh dan kelompok teroris lainnya dipindahkan dari pusat penahanan di Suriah ke kamp-kamp khusus di Irak.

Baca juga: 150 Ulama Syiah dan Sunni Desak Al-Azhar Bersikap Adil atas Konflik Iran

“Sejarah kelompok Daesh dimulai dari kompleks penjara serupa di Irak di bawah perlindungan badan intelijen koalisi Barat,” kata Bortnikov seperti dikutip RT.

Ia juga memperingatkan bahwa agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran merupakan bagian dari perang Barat yang lebih luas terhadap negara-negara Muslim.

“Eskalasi konflik Iran dan keterlibatan semakin banyak pihak di dalamnya mengancam destabilisasi seluruh dunia Islam,” ujarnya.

Bortnikov mengatakan militan-militan tersebut tidak hanya dapat digunakan di Asia Barat, tetapi juga di negara asal mereka masing-masing.

Menurut dia, langkah badan intelijen Barat itu menimbulkan ancaman bagi negara-negara anggota CIS karena sejumlah militan yang dibebaskan berasal dari negara-negara anggota persemakmuran tersebut dan sebelumnya bergabung dengan Daesh maupun kelompok ekstremis lainnya sebelum ditahan di Suriah.

Baca juga: Manifesto Perlawanan dan Kebangkitan Umat dalam Pesan Haji Ayatullah Mujtaba Khamenei

Commonwealth of Independent States dibentuk pada 1991 setelah bubarnya Uni Soviet untuk memperkuat kerja sama ekonomi, politik, dan keamanan antarnegara anggota. Organisasi itu saat ini beranggotakan Armenia, Azerbaijan, Belarus, Kazakhstan, Kirgizstan, Rusia, Tajikistan, Moldova, dan Uzbekistan.

Laporan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional setelah Amerika Serikat, Israel, dan sekutu-sekutunya dituduh mendukung kelompok-kelompok bersenjata guna mengguncang stabilitas Iran menjelang eskalasi konflik pada akhir Februari lalu.

Di saat bersamaan, sumber-sumber lokal di Kota Raqqah, Suriah, juga melaporkan kemunculan kembali sejumlah komandan senior Daesh di tengah memburuknya situasi keamanan di wilayah tersebut. []

Baca juga: Media Ibrani: Negara-Negara Arab Mulai Mencari Aliansi dengan Iran