Internasional
Puluhan Pesawat Tempur dan Pengebom AS Tinggalkan Asia Barat

Ahlulbait Indonesia, 8 Juli 2026 – Puluhan pesawat tempur, pesawat pengebom strategis, dan pesawat pendukung milik militer Amerika Serikat dilaporkan telah meninggalkan kawasan Asia Barat dalam beberapa hari terakhir. Informasi tersebut disampaikan pengamat keamanan kawasan, Morteza Simiyari, berdasarkan hasil pemantauan terhadap pergerakan militer Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM).
Dalam wawancara dengan Kantor Berita Mehr, Selasa malam (7/7/2026), Simiyari menyebut penarikan aset udara tersebut terjadi menjelang prosesi penghormatan terakhir bagi Pemimpin Syahid Revolusi Islam.
Data yang dipaparkannya menunjukkan sedikitnya 24 pesawat tempur F-16, 12 pesawat tempur F-15, dan 12 pesawat tempur F-35 telah keluar dari wilayah operasi CENTCOM.
Baca juga: Megawati: Ayatullah Ali Khamenei Penjaga Api Perjuangan Dunia Ketiga
Penarikan juga mencakup delapan pesawat pengebom strategis B-52 yang sebelumnya ditempatkan di kawasan setelah diterbangkan dari Pangkalan Angkatan Udara Minot, Dakota Utara.
Selain armada tempur dan pengebom, tiga pesawat perang elektronik EA-18G Growler turut meninggalkan kawasan. Pesawat yang merupakan varian peperangan elektronik dari F/A-18 Super Hornet itu selama ini dinilai memiliki peran penting dalam mendukung operasi peperangan elektronik militer Amerika Serikat.
Simiyari juga mengungkapkan bahwa dua pesawat peringatan dini dan pengendali udara (AWACS) E-3 telah ditarik dari wilayah operasi. Tingginya tingkat kerentanan pesawat tersebut disebut menjadi salah satu alasan utama penarikan lebih awal.
Menurut Simiyari, proses pengurangan kekuatan militer Amerika Serikat sebenarnya telah berlangsung sejak beberapa waktu lalu. Sebelumnya, 11 pesawat pengisian bahan bakar di udara juga dilaporkan telah meninggalkan Asia Barat. Laju penarikan berbagai aset itu, menurutnya, berlangsung cukup cepat dan memiliki makna strategis.
Simiyari juga mengklaim bahwa kapal induk bertenaga nuklir Prancis, Charles de Gaulle, meninggalkan kawasan lebih cepat dari rencana semula setelah memperoleh persetujuan dari Amerika Serikat.
Baca juga: Kementerian Pertahanan Iran: Setiap Agresi Akan Dibalas dengan Respons Tegas dan Proporsional
Menganalisis perkembangan tersebut, Simiyari berpendapat bahwa penarikan berbagai aset militer itu mencerminkan perubahan perhitungan Washington terhadap situasi di Iran. Ketahanan masyarakat Iran serta kehadiran jutaan warga dalam prosesi pemakaman Pemimpin Syahid Revolusi Islam dinilai menjadi faktor yang memengaruhi perubahan tersebut.
Menurut analisisnya, apabila pihak lawan memutuskan melanjutkan opsi konfrontasi, pendekatan militer yang digunakan kemungkinan tidak lagi sama dengan sebelumnya. Berbagai skenario itu, kata Simiyari, telah dianalisis dan dievaluasi oleh angkatan bersenjata Iran sebagai bagian dari langkah antisipatif terhadap dinamika keamanan di kawasan. []
Baca juga: Dubes Iran: Teheran Belum Pastikan Kehadiran Menlu Sugiono di Pemakaman Syahid Imam Ali Khamenei







