Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Perang Iran Kuras Anggaran Angkatan Laut AS

Published

on

Kerusakan pangkalan AS di Bahrain memaksa Washington memindahkan pusat logistik dan memperpanjang jalur pasokan bagi armadanya.
Kapal perang Angkatan Laut AS dalam operasi militer. Perang dengan Iran disebut meningkatkan tekanan terhadap anggaran dan persediaan militer Amerika Serikat.

Media ABI, 28 Agustus 2026 – Perang Amerika Serikat dengan Iran mulai menekan keuangan Angkatan Laut AS. Dokumen rahasia Pentagon dan wawancara yang diperoleh The Guardian menunjukkan dana untuk membiayai operasi perang telah diambil dari pos gaji personel dan kebutuhan lainnya.

Menurut Tasnim News Agency pada Jumat (28/8/26), dokumen tersebut memperlihatkan rekening pembayaran gaji personel Angkatan Laut mengalami kekurangan setelah dananya digunakan untuk kebutuhan operasi perang. Sejumlah mantan pejabat dan pakar pertahanan juga memperingatkan kondisi keuangan Angkatan Laut semakin memburuk.

“Celengan Angkatan Laut Amerika Serikat sudah pecah,” kata Harlan Ullman, pensiunan perwira Angkatan Laut AS sekaligus anggota National Commission on the Future of the Navy.

Perang yang dimulai pada 28 Februari menurut kalender Iran segera menambah beban anggaran militer. Angkatan Laut terlibat dalam gelombang awal serangan dan kemudian mengambil tanggung jawab atas blokade laut dalam skala luas.

Operasi tersebut turut menguras persediaan amunisi Amerika Serikat. Serangan balasan Iran juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah pangkalan strategis AS di Timur Tengah.

Gedung Putih telah meminta Kongres mengucurkan anggaran tambahan untuk membiayai perang. Namun, permintaan itu diperkirakan sulit mendapat persetujuan karena penolakan publik terhadap perang.

Seorang pejabat Angkatan Laut yang mengetahui pengelolaan defisit anggaran mengatakan dana untuk gaji personel telah dialihkan guna membiayai kebutuhan tak terduga di luar negeri. Kekurangan tersebut kemudian ditutup menggunakan dana yang belum terpakai agar pembayaran gaji tetap berjalan.

“Uang untuk gaji dan upah dicuri untuk membiayai pengeluaran tak terduga di luar negeri, kemudian diganti dengan uang yang belum terpakai agar gaji personel tetap dibayarkan,” kata pejabat tersebut.

Dalam sidang Komite Alokasi Anggaran Senat pada 21 Juli, Senator Susan Collins memperingatkan bahwa sejumlah cabang militer menghadapi persoalan likuiditas serius. Staf komite mengonfirmasi bahwa Angkatan Laut termasuk di dalamnya.

Angkatan Laut membantah bahwa anggaran pemeliharaan dan operasional telah dikosongkan. Juru bicaranya mengatakan Angkatan Laut sedang mengatur sumber daya yang tersedia agar gaji personel tetap dibayarkan tepat waktu.

Sejumlah pakar mempertanyakan penjelasan tersebut dan menilainya tidak terlepas dari kepentingan politik. Menurut mereka, pejabat Pentagon tidak ingin menunjukkan persoalan kemampuan militer ketika Amerika Serikat sedang menjalani perang yang tidak populer.

Peringatan tentang tekanan anggaran sebenarnya telah muncul sejak beberapa bulan sebelumnya. Pada pertengahan Mei, Kepala Operasi Angkatan Laut Laksamana Daryl Caudle mengatakan kepada Kongres bahwa anggaran 2026 tidak memperhitungkan biaya perang. Dia memperingatkan Angkatan Laut harus mulai membatasi latihan dan operasi rutin pada Juli.

Pada Juli, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan biaya perang dengan Iran telah mencapai 35,7 miliar dolar AS. Tanpa tambahan anggaran, menurut Hegseth, militer akan menghadapi kekurangan dana yang kritis.

Pemerintahan Trump meminta tambahan 67 miliar dolar AS untuk Pentagon. Di sisi lain, DPR telah mengesahkan rancangan undang-undang pertahanan senilai 1,15 triliun dolar AS. Kedua langkah tersebut masih menghadapi hambatan politik sehingga peluangnya menjadi undang-undang dinilai kecil.

Seorang mantan perwira militer yang kini bekerja untuk perusahaan kontraktor Angkatan Laut menggambarkan kondisi tersebut secara lebih keras.

“Mereka sudah tidak berdaya. Semua amunisi mereka telah ditembakkan, kapal-kapal mereka tidak beroperasi, dan uang mereka sudah habis,” katanya. []