Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Middle East Forum: Dinasti Al Saud di Ambang Skenario Terburuk

Published

on

Analis Middle East Forum menilai tekanan eksternal dan ketidakpuasan internal dapat memperbesar ancaman terhadap stabilitas Arab Saudi.
Analis Middle East Forum menilai tekanan eksternal dan ketidakpuasan internal dapat memperbesar ancaman terhadap stabilitas Arab Saudi.

Media ABI, 24 Oktober 2026 – Tekanan eksternal akibat kemajuan perlawanan Yaman terhadap kepentingan Arab Saudi dinilai dapat memperbesar kerentanan politik di dalam kerajaan. Persaingan elite, ketidakpuasan di lingkungan keluarga kerajaan, serta berbagai persoalan domestik berpotensi memperumit posisi Mohammed bin Salman (MBS). Jika tekanan tersebut bertemu dengan gejolak internal, kekuasaan Al Saud dapat menghadapi ancaman yang lebih serius.

Demikian analisis Michael Rubin, mantan pejabat Kementerian Pertahanan Amerika Serikat sekaligus pakar senior residen Middle East Forum, yang dilaporkan Farsnews Agency pada Jumat (23/10/2026). Rubin menilai tekanan terhadap kepentingan Riyadh dan kelompok-kelompok proksinya di Yaman telah membebani pemerintahan Al Saud. Namun, menurutnya, skenario terburuk bagi rezim tersebut belum terjadi.

Baca juga: Tekanan Netanyahu Menguji Posisi Politik Al-Joulani di Suriah

Ia juga menilai kemampuan militer Saudi jauh lebih lemah daripada gambaran yang disampaikan para petingginya kepada MBS. Aliansi keamanan Riyadh dengan Turki, Pakistan, dan negara-negara lain pun dinilai tidak akan bekerja seefektif yang diharapkan.

Michael Rubin, analis senior Middle East Forum, menilai Provinsi Timur menyimpan kerentanan strategis yang berpotensi mengancam stabilitas pemerintahan Arab Saudi.

Michael Rubin, analis senior Middle East Forum, menilai Provinsi Timur menyimpan kerentanan strategis yang berpotensi mengancam stabilitas pemerintahan Arab Saudi.

Keputusan Bin Salman Dinilai Menguntungkan Perlawanan Yaman

Rubin menyebut Arab Saudi selama bertahun-tahun berusaha membatasi ancaman Ansarullah melalui pendekatan akomodatif dan menghindari konfrontasi. Namun, Riyadh kini justru menghadapi tekanan yang kian besar.

Pelemahan Dewan Transisi Selatan oleh MBS, tulis Rubin, turut menggeser keseimbangan konflik sehingga lebih menguntungkan perlawanan Yaman. Ia menyebut kelompok tersebut sebagai kekuatan tempur paling efektif dalam koalisi anti-Ansarullah.

Rubin juga menyoroti posisi strategis Mokha di pesisir Bab al-Mandab. Menurutnya, penguasaan pelabuhan tersebut meningkatkan kemampuan Ansarullah menekan Saudi. Ancaman terhadap pelayaran di Bab al-Mandab, ditambah kehadiran Ansarullah yang disebutnya meluas hingga Pelabuhan Sudan, berpotensi mengganggu jalur pipa Timur-Barat yang menyalurkan minyak Saudi ke terminal Yanbu di Laut Merah.

Jalur tersebut memungkinkan Riyadh mengekspor minyak tanpa melewati Selat Hormuz. Rubin menilai konsesi kepada Ansarullah demi menjaga kelancaran ekspor belum tentu menghasilkan stabilitas, bahkan berpotensi mendorong lawan meningkatkan tekanan.

Kekuatan Militer Saudi Dinilai Lebih Lemah daripada Klaim Pejabatnya

Rubin menilai aliansi regional Saudi belum menjamin dukungan militer yang efektif. Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah, yang semula dirancang membentuk kerangka serupa NATO, belum terbukti menghadirkan kemampuan operasi bersama. Pengerahan pasukan Pakistan ke Saudi, misalnya, tidak serta-merta berarti keterlibatan langsung dalam operasi militer melawan Yaman.

Sejumlah pejabat Saudi, tulis Rubin, telah membicarakan operasi darat dengan 100.000 personel untuk merebut kembali Mokha dan bergerak menuju Hudaydah. Namun, rencana tersebut menghadapi kendala serius.

Ia menggambarkan struktur militer Saudi sebagai tidak terkoordinasi dan tanpa strategi terpadu. Kesenjangan antara kemampuan pasukan dan gambaran yang disampaikan para petinggi militer kepada MBS, menurutnya, berisiko menyeret kerajaan ke dalam konflik berkepanjangan yang menguras sumber daya.

Baca juga: Demokrat DPR AS Buru Saksi Pelapor untuk Selidiki Menteri Perang Trump

Kerentanan Internal, dari Persaingan Elite hingga Ketidakpuasan Domestik

Bagi Rubin, kerentanan Saudi tidak semata-mata berada di medan konflik Yaman, tetapi juga bersumber dari persoalan internal kerajaan.

Dengan merujuk pada sejarawan Inggris Malcolm Yapp, Rubin menyoroti sejarah pembentukan politik Arab Saudi yang menyatukan sejumlah entitas, termasuk Kerajaan Hijaz, Kesultanan Najd, Keamiran Jabal Shammar, dan wilayah Asir. Ia juga menyinggung hubungan keluarga Al Saud dengan lembaga keagamaan serta terbatasnya ruang pembahasan mengenai identitas dan regionalisme.

Dalam pandangannya, Provinsi Timur merupakan salah satu titik rawan strategis. Wilayah ini memiliki populasi Syiah yang besar sekaligus menyimpan sebagian besar cadangan minyak dan gas Saudi. Kombinasi kepentingan energi dan dinamika sosial-politik menjadikannya penting dalam perhitungan keamanan kerajaan.

Namun, potensi kerentanan internal Saudi tidak terbatas pada wilayah atau komunitas tertentu. Pemusatan kekuasaan di tangan MBS, persaingan di lingkungan keluarga kerajaan, serta tersisihnya sejumlah elite dari lingkaran pengambilan keputusan turut menjadi dimensi politik yang patut diperhatikan.

Konsolidasi kekuasaan MBS beriringan dengan menyempitnya ruang pengaruh sejumlah pangeran yang sebelumnya memiliki posisi dan akses politik. Dinamika tersebut berpotensi memperbesar ketegangan di kalangan elite, meskipun tidak serta-merta menunjukkan adanya perlawanan terorganisasi atau kesamaan kepentingan di antara mereka.

Di luar keluarga kerajaan, ketidakpuasan domestik juga memiliki latar belakang yang beragam. Rubin menyoroti komunitas Syiah sebagai salah satu unsur dalam dinamika tersebut, terutama di Provinsi Timur. Ia mengingatkan bahwa aparat Saudi pernah melakukan penindasan preventif terhadap perlawanan komunitas ini selama gelombang protes Kebangkitan Arab (Arab Spring).

Eksekusi ulama Syekh Nimr Baqir al-Nimr pada 2016, menurut Rubin, masih membekas dalam ingatan komunitas Syiah Saudi. Namun, ketenangan yang tampak di wilayah tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa seluruh persoalan politik dan sosial telah terselesaikan.

Baca juga: Media AS Lanjutkan Operasi Psikologis Terkait Kemungkinan Perang dengan Iran

Rubin juga mengemukakan kemungkinan bahwa Iran dan kelompok-kelompok yang bersekutu dengannya melihat perpecahan internal Saudi sebagai peluang untuk memperbesar ketidakstabilan. Penilaian ini menempatkan dinamika domestik sebagai salah satu faktor yang dapat dimanfaatkan aktor eksternal, bukan bukti bahwa seluruh kelompok penentang di dalam kerajaan berada dalam satu koordinasi.

Ia bahkan memperingatkan kemungkinan sabotase terhadap infrastruktur energi atau serangan terhadap insinyur asing yang bekerja untuk Aramco. Menurutnya, aksi semacam itu dapat menciptakan ketidakamanan dan mendorong warga asing meninggalkan Saudi. Ancaman, dalam pandangannya, tidak terbatas pada rudal dan pesawat nirawak.

Skenario Terburuk bagi Al Saud Belum Terjadi

Rubin menilai gangguan pelayaran di Selat Hormuz dan Laut Merah dapat berdampak serius terhadap Saudi maupun pasar energi global. Namun, ancaman yang lebih mendasar, menurutnya, adalah pertemuan tekanan eksternal dengan ketidakstabilan politik di dalam negeri.

Persaingan elite, ketidakpuasan domestik, dan tekanan keamanan yang berkembang secara bersamaan dapat memperberat beban pemerintahan MBS. Jika gejolak meluas ke wilayah strategis seperti Provinsi Timur, stabilitas domestik sekaligus kelangsungan ekspor energi Saudi berpotensi terpukul.

Dalam skenario tersebut, tekanan dari luar yang berpadu dengan perpecahan internal dapat mengancam kelangsungan kekuasaan Al Saud di Semenanjung Arab.

Bagi Rubin, itulah skenario terburuk bagi dinasti Al Saud yang hingga kini belum terwujud. []

Baca juga: Gejolak Hormuz Mengguncang Wall Street