Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Media AS Lanjutkan Operasi Psikologis Terkait Kemungkinan Perang dengan Iran

Published

on

Laporan media AS mengenai kemungkinan perang baru dengan Iran memunculkan sorotan terhadap peran pemberitaan dalam tekanan psikologis dan politik.
Media AS kembali mengulas kemungkinan serangan terhadap Iran, mulai dari skenario sebelum pemilu hingga operasi militer setelah pemungutan suara.

Media ABI, 23 Oktober 2026 – Media-media Amerika Serikat terus memublikasikan laporan mengenai kemungkinan serangan terhadap Iran, mulai dari skenario sebelum pemilihan hingga perang setelah pemungutan suara, demikian menurut laporan Farsnews Agency, Jumat (23/10/2026). Meski berbeda dalam memperkirakan waktu serangan, rangkaian pemberitaan tersebut dinilai berpotensi menjadi bagian dari operasi psikologis untuk meningkatkan tekanan politik dan mental terhadap Iran.

Baca juga: Yaman: Arab Saudi Harus Menanggung Konsekuensi Militerisasi Laut Merah

Majalah Amerika Serikat, The Atlantic, dalam laporan terbarunya menyebut bahwa kemungkinan serangan militer AS terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu Kongres AS tengah dikaji. Laporan ini menyusul pemberitaan The New York Times, Axios, NBC News, dan sejumlah media AS lainnya dalam beberapa hari terakhir yang menyoroti berlanjutnya ancaman militer terhadap Iran.

Mengutip sejumlah pejabat AS, The Atlantic mengklaim bahwa Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan dimulainya kembali kampanye militer terhadap Iran melalui serangkaian serangan selama beberapa hari. Menurut laporan itu, serangan berpotensi dilancarkan segera setelah pemilihan paruh waktu Kongres AS pada 3 November 2026.

Para pejabat yang dikutip menyebut sejumlah sasaran potensial, antara lain persenjataan rudal dan drone Iran, infrastruktur energi, serta fasilitas nuklir. The Atlantic juga mengutip pernyataan para pejabat tersebut bahwa tekanan ekonomi telah membawa Iran mendekati ambang keruntuhan dan serangan militer baru dapat menyebabkan kejatuhannya.

Beragam Skenario tentang Waktu Serangan

Laporan The Atlantic terbit setelah The New York Times pada Kamis dini hari, 22 Oktober 2026, melaporkan bahwa Washington dan Tel Aviv telah menyusun rencana konkret untuk melanjutkan serangan terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu. Laporan tersebut mengutip sejumlah pejabat AS dan pihak-pihak yang mengetahui pembahasan terkait.

Menurut laporan itu, militer AS dan Israel meningkatkan latihan militer serta melakukan penerbangan di atas wilayah Irak untuk berlatih manuver serangan. The New York Times menyebut bahwa operasi singkat tetapi intensif berpotensi menargetkan infrastruktur energi, fasilitas nuklir, serta persenjataan rudal dan drone Iran.

Baca juga: Mayjen Hatami: Militer Iran Kuasai Pesisir dan Laut Sebelah Timur Selat Hormuz

Surat kabar itu juga mengutip sejumlah pejabat yang berharap gelombang serangan baru dapat menekan perekonomian Iran sehingga Teheran bersedia memberikan konsesi dalam perundingan. Meski demikian, laporan tersebut tidak menyatakan bahwa Trump telah memutuskan untuk memerintahkan serangan. Trump juga disebut masih berpeluang membatalkan opsi militer.

Laporan tentang Kemungkinan Serangan Sebelum Pemilu

Sementara itu, Axios dan NBC News pada 7 Oktober 2026 menerbitkan laporan mengenai pertimbangan opsi serangan terhadap Iran sebelum pemilihan. Mengutip pejabat AS, Axios melaporkan bahwa Pentagon telah memerintahkan Komando Pusat AS (CENTCOM) untuk merampungkan persiapan guna melanjutkan serangan militer berskala besar terhadap Iran. Media tersebut menegaskan bahwa perintah itu tidak menetapkan waktu tertentu untuk memulai serangan dan Trump belum mengambil keputusan akhir. Meski demikian, sumber-sumber AS dan Israel mengemukakan kemungkinan serangan sebelum pemilihan paruh waktu AS, bahkan sebelum pemilihan di Israel.

NBC News juga melaporkan bahwa Trump dan tim keamanan nasionalnya tengah mempertimbangkan opsi untuk melanjutkan serangan militer berskala besar terhadap Iran dalam beberapa pekan mendatang, termasuk kemungkinan serangan sebelum pemilu.

Menurut situs jaringan televisi tersebut, setelah pertemuan tim keamanan nasional di Camp David, militer AS telah menyiapkan sejumlah opsi operasi baru untuk disampaikan kepada Trump. Laporan itu juga menegaskan bahwa belum ada keputusan final. Namun, pada 8 Oktober 2026, Axios melaporkan bahwa Trump menyatakan AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu. The Washington Post turut memberitakan pernyataan tersebut pada hari yang sama.

Dalam laporan lain pada 13 Oktober 2026, Axios menyebut bahwa meskipun Trump telah menyampaikan pernyataan itu, militer AS dan Israel tetap bersiap menghadapi kemungkinan perubahan keputusan dan dimulainya kembali operasi. Gedung Putih, bagaimanapun, menegaskan bahwa serangan tidak akan dilakukan sebelum pemilu.

Reuters: Perang Berpotensi Meningkat Setelah Pemilu

Dalam laporan pada 2 September 2026, Reuters, dengan mengutip empat sumber yang mengetahui persoalan tersebut, menyebut bahwa para pembantu senior Trump berupaya mencegah eskalasi perang dengan Iran sebelum pemilihan paruh waktu. Langkah itu dimaksudkan untuk menghindari membesarnya dampak politik dan elektoral perang terhadap Partai Republik.

Baca juga: Al Jazeera: Israel Tak Mampu Menggulingkan Pemerintahan Iran

Menurut laporan tersebut, para pejabat Gedung Putih tengah mengkaji kemungkinan peningkatan operasi militer setelah pemungutan suara pada 3 November 2026, meskipun kembalinya perang skala penuh belum dapat dipastikan. Reuters juga melaporkan bahwa pada periode tersebut, pemerintah AS berencana meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran, alih-alih segera mengintensifkan operasi militer, dengan harapan Teheran bersedia memberikan konsesi dalam perundingan.

Pada 17 September 2026, Axios, dengan mengutip sejumlah pejabat AS, juga melaporkan bahwa jika kesepakatan dengan Iran tidak tercapai, Trump berpotensi kembali melancarkan operasi militer berskala besar setelah pemilihan paruh waktu.

Operasi Psikologis di Balik Pemberitaan

Rangkaian laporan tersebut menunjukkan bahwa media-media AS dalam beberapa pekan terakhir telah mengemukakan beragam skenario mengenai kemungkinan serangan terhadap Iran, mulai dari serangan sebelum pemilu hingga operasi selama beberapa hari setelah pemungutan suara. Sasaran potensial yang disebut dalam banyak laporan itu pun relatif serupa, yakni fasilitas nuklir, infrastruktur energi, serta persenjataan rudal dan drone Iran.

Pengulangan berbagai skenario tersebut, terutama dengan mengandalkan kutipan pejabat anonim dan di tengah belum adanya pengumuman keputusan pasti mengenai serangan, berpotensi menciptakan suasana ancaman, meningkatkan kekhawatiran akan pecahnya perang, serta menambah tekanan psikologis terhadap Iran. Dalam perspektif ini, pemberitaan tersebut juga dapat dikaji sebagai bagian dari operasi psikologis dan perang media.

Namun, laporan-laporan tersebut, meskipun memuat perincian mengenai opsi militer dan sasaran potensial, tidak dengan sendirinya membuktikan adanya keputusan final pemerintah AS untuk melancarkan gelombang serangan baru. Bahkan, The Atlantic dan The New York Times juga menyinggung kemungkinan Trump membatalkan rencana serangan.

Dan perkembangan yang sejauh ini dapat diamati adalah berlanjutnya publikasi berbagai skenario serangan dan penonjolan ancaman militer terhadap Iran, bukan pengumuman resmi mengenai dimulainya perang baru. []

Baca juga: Trump dan Dahaga Penghargaan: “Berikan Pulitzer kepada Saya!”