Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Menteri Pertahanan Inggris Mundur setelah Berselisih dengan Starmer

Published

on

Pengunduran diri Healey mengungkap ketegangan berkepanjangan antara Kementerian Pertahanan dan pemerintah Inggris.
Pengunduran diri Healey mengungkap ketegangan berkepanjangan antara Kementerian Pertahanan dan pemerintah Inggris. (Foto IRNA)

Ahlulbait Indonesia, 12 Juni 2026 — Menteri Pertahanan Inggris John Healey mengundurkan diri dari jabatannya setelah berselisih dengan pemerintahan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer terkait anggaran pertahanan. Pengunduran diri tersebut memperlihatkan ketegangan yang berkembang di dalam kabinet mengenai pembiayaan sektor pertahanan di tengah meningkatnya tekanan fiskal.

Dalam surat pengunduran diri yang dipublikasikan pada Kamis (11/6/2026) dan dilaporkan Kantor Berita IRNA pada Jumat, Healey menyatakan tidak dapat melanjutkan tugasnya karena anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk program investasi pertahanan dinilai tidak memadai untuk menjawab tantangan keamanan yang dihadapi Inggris.

Baca juga: Juru Bicara Militer Yaman Umumkan Larangan Penuh Pelayaran Israel di Laut Merah

Healey menilai rencana keuangan terbaru pemerintah berpotensi mengurangi kesiapan tempur angkatan bersenjata, meningkatkan risiko bagi personel militer dalam operasi, serta melemahkan kemampuan pertahanan nasional.

“Saya menerima rincian lengkap program investasi pertahanan pada Senin lalu dan nilainya jauh di bawah kebutuhan yang diperlukan untuk pertahanan negara pada situasi yang berisiko seperti saat ini,” tulis Healey dalam surat tersebut.

Menurut Healey, sebagian besar tambahan pendanaan baru dijadwalkan pada tahun-tahun berikutnya, sementara kebutuhan operasional dan peningkatan kesiapan militer justru mendesak dalam dua tahun pertama pelaksanaan program.

Media Inggris melaporkan perbedaan pandangan mengenai anggaran pertahanan telah memicu ketegangan antara Kementerian Pertahanan, Kementerian Keuangan, dan kantor perdana menteri selama beberapa bulan terakhir.

The Guardian melaporkan rencana pemerintah hanya akan meningkatkan belanja pertahanan dari 2,6 persen produk domestik bruto menjadi 2,68 persen pada 2030. Healey sebelumnya mendorong peningkatan hingga 3 persen pada periode yang sama.

Reuters melaporkan pengunduran diri Healey terjadi setelah serangkaian pembicaraan yang tidak menghasilkan kesepakatan dengan Starmer dan Menteri Keuangan Rachel Reeves mengenai kebutuhan pendanaan sektor pertahanan.

Ketidakpuasan juga dilaporkan muncul di kalangan militer. Sky News menyebut Kepala Staf Angkatan Darat Inggris telah menyurati perdana menteri untuk menyampaikan kekhawatiran mengenai kecukupan tambahan anggaran sekitar 13 miliar poundsterling yang disiapkan dalam program tersebut.

Baca juga: Rudal Yaman Susul Serangan Iran, Sirene Bahaya Berbunyi di Tel Aviv dan Yerusalem

Pengunduran diri Healey terjadi ketika Inggris berupaya memperkuat perannya dalam berbagai agenda keamanan internasional, termasuk dukungan militer untuk Ukraina, komitmen dalam NATO, penguatan kemampuan maritim, dan keterlibatan dalam pengaturan keamanan di Timur Tengah.

Di sisi lain, pemerintah Inggris menghadapi tekanan ekonomi domestik berupa keterbatasan fiskal, meningkatnya kebutuhan belanja publik, dan tingginya beban utang negara. Kondisi tersebut memunculkan perdebatan mengenai keseimbangan antara ambisi kebijakan pertahanan dan kemampuan keuangan pemerintah untuk membiayainya.

Sejumlah pengamat di Inggris menilai pengunduran diri Healey menjadi salah satu ujian politik terbesar bagi pemerintahan Starmer sejak Partai Buruh kembali berkuasa. Peristiwa ini juga menambah tekanan terhadap pemerintah yang tengah menghadapi perdebatan internal mengenai arah kebijakan ekonomi dan pertahanan negara. []

Baca juga: IRGC: Pangkalan Udara Ramat David Jadi Sasaran Rudal Balistik Iran