Internasional
Media AS: Iran Seret Trump ke Posisi Jimmy Carter

Ahlulbait Indonesia, 29 Juli 2026 — Media Amerika Serikat MS NOW menilai Presiden Donald Trump kini menghadapi situasi politik yang mengingatkan pada mantan Presiden Jimmy Carter saat krisis penyanderaan Kedutaan Besar AS di Teheran pada 1979. Menurut media tersebut, Iran kembali menerapkan pola tekanan serupa untuk melemahkan posisi politik presiden Amerika.
Fars News Agency melaporkan pada Rabu (29/7) bahwa dalam artikelnya, Joe Scarborough menulis Trump selama ini kerap mengkritik Carter atas penanganan krisis Iran. Namun, kini ia justru menghadapi situasi yang dahulu dijadikannya sebagai simbol kelemahan pendahulunya itu.
Baca juga: Pentagon Manipulasi Data Korban Perang dengan Iran
Scarborough menjelaskan, pada krisis 1979 para pejabat Iran memahami kebutuhan Carter untuk segera mencapai kesepakatan sehingga menunda pembebasan para sandera hingga masa jabatannya berakhir, yang pada akhirnya memperburuk posisi politiknya.
Menurut Scarborough, pola serupa kini diterapkan terhadap Trump. Tehran dinilai memahami kebutuhan Trump, terutama menjelang pemilu, untuk mengakhiri konflik. Dengan mempertahankan tuntutannya dan memperlambat proses penyelesaian, Iran berupaya menempatkan Trump di hadapan publik sebagai pemimpin yang lemah dan tidak mampu memaksakan kehendaknya.
Scarborough juga mengutip pernyataan Trump yang pernah berkata, “Saya tidak ingin menjadi Jimmy Carter,” saat ditanya mengapa tidak mengirim pasukan khusus AS ke Iran. Namun, menurutnya, justru kini Trump berada pada posisi yang selama ini ia identikkan dengan kelemahan Carter.
Pada akhir artikelnya, MS NOW menyimpulkan bahwa dinamika hubungan Iran–Amerika kembali memperlihatkan pola yang mengingatkan pada krisis 1979, dengan Trump menghadapi tantangan politik yang pernah dialami Carter. []
Baca juga: Jenderal Iran: Gencatan Senjata Trump Hanya Kedok Rebut Selat Hormuz







