Internasional
Konferensi Internasional di Qom Perkuat Ikhtiar Mengkaji Warisan Pemikiran Syahid Imam Ali Khamenei

Qom, 5 Juli 2026 — Auditorium Rektorat Al Musthafa International University (MIU), Kota Suci Qom, menjadi tempat berkumpulnya sekitar 100 alumni dan intelektual Muslim dari 15 negara dalam Konferensi Internasional yang digelar pada Minggu (5/7), bertepatan dengan rangkaian penghormatan dan pemakaman Imam Syahid Ali Khamenei.
Delegasi dari berbagai negara, di antaranya Indonesia, Lebanon, Suriah, Afghanistan, Burkina Faso, Pakistan, India, Turkiye, dan Azerbaijan, hadir untuk memperdalam kajian atas warisan pemikiran dan kepemimpinan Imam Ali Khamenei. Dari Indonesia, konferensi diikuti antara lain oleh Ustadz Zahir Yahya, Ustadz Husain Syahab, Ustadz Abdullah Beik, Ustadz Ammar Fauzi Heryadi, Ustadz Miqdad, serta sejumlah alumni MIU lainnya.
Baca juga: Diplomasi Al-Qur’an: Membaca Pesan di Balik Pemilihan Ayat bagi Delegasi Asing

Forum tersebut menegaskan komitmen dunia Islam untuk mengkaji dan mengembangkan warisan pemikiran Syahid Imam Ali Khamenei sebagai bagian dari khazanah intelektual Islam kontemporer. (Dok. ABI)
Membuka konferensi, Rektor MIU, Ayatullah Dr. Ali Abbasi, menyampaikan apresiasi kepada para peserta yang datang dari berbagai negara untuk menghadiri prosesi penghormatan kepada Imam Syahid Ali Khamenei. Menurutnya, kehadiran mereka menunjukkan bahwa pemikiran Imam Ali Khamenei telah menjadi perhatian dunia Islam dan layak terus dikaji secara akademik.
Ayatullah Abbasi menegaskan bahwa warisan intelektual Imam Ali Khamenei mencakup berbagai bidang, mulai dari tafsir Al-Qur’an yang telah diterbitkan dalam berbagai bahasa hingga pemikiran mengenai sistem politik Islam. Menurutnya, gagasan tersebut tidak berhenti sebagai teori, tetapi dibuktikan melalui kepemimpinan beliau selama sekitar empat dekade.
Ia menjelaskan bahwa Imam Ali Khamenei memandang Islam sebagai agama pembangun peradaban yang tidak hanya mengarahkan manusia menuju kehidupan akhirat, tetapi juga menghadirkan pedoman bagi kehidupan sosial, politik, dan peradaban manusia.
Baca juga: Melampaui Air Mata Duka: Ketika Kematian Menjelma Menjadi Roh Identitas Nasional
Rektor MIU juga menilai pengalaman Republik Islam Iran di bawah kepemimpinan Imam Ali Khamenei membantah pandangan Francis Fukuyama yang menyebut liberalisme Barat sebagai bentuk final sistem politik dunia. Menurutnya, berbagai krisis yang terjadi dewasa ini memperlihatkan kelemahan mendasar sistem liberal Barat yang sarat dengan ketidakadilan dan dominasi kekuasaan.

Ayatullah Dr. Ali Abbasi mengajak para intelektual Muslim dunia memperdalam kajian terhadap tafsir Al-Qur’an, pemikiran politik Islam, dan visi peradaban Imam Syahid Ali Khamenei. (Dok. ABI)
Ayatullah Abbasi menggambarkan Imam Ali Khamenei sebagai sosok yang memadukan keluasan ilmu, integritas, dan keteguhan dalam bertindak. Di bawah kepemimpinannya, Iran dinilai berhasil mencatat berbagai kemajuan dalam ilmu pengetahuan, riset, teknologi, serta produksi nasional.
Menutup sambutannya, Ayatullah Abbasi menegaskan bahwa kesyahidan Imam Ali Khamenei tidak akan menghentikan perjuangan bangsa Iran. Menurutnya, rakyat Iran akan tetap melanjutkan cita-cita yang telah dibangun serta memegang teguh komitmen dan ikrar kesetiaan yang telah mereka nyatakan.
Konferensi di Qom tersebut tidak hanya menjadi forum penghormatan kepada seorang pemimpin, tetapi juga menegaskan komitmen para intelektual Muslim dari berbagai negara untuk terus mengkaji dan mengembangkan warisan pemikiran Imam Syahid Ali Khamenei sebagai bagian dari khazanah pemikiran Islam kontemporer dan ikhtiar membangun peradaban Islam. []
Baca juga: Imam Khomeini kepada Sayyid Ali Khamenei, “Engkau Akan Menjadi Yusuf”







