Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Dari Mushala Imam Khomeini Teheran: Mengiringi Perjalanan Terakhir Ayatullah Ali Khamenei

Published

on

Lautan pelayat memadati kompleks Musala Teheran untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Prosesi yang dihadiri jutaan warga Iran serta delegasi dari berbagai negara menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan Republik Islam Iran. (Foto: Tangkapan layar/Maula TV)
Lautan pelayat memadati kompleks Musala Teheran untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Prosesi yang dihadiri jutaan warga Iran serta delegasi dari berbagai negara menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan Republik Islam Iran. (Foto: Tangkapan layar/Maula TV)

Disarikan dari laporan langsung Idrus Al-Hamid dan Abbas Al-Hasni untuk Maula TV dari Mushala Imam Khomeini Teheran, Iran.

Teheran, 5 Juli 2026 — Matahari musim panas belum sepenuhnya meninggi ketika halaman luas Mushala Imam Khomeini Teheran menjelma menjadi lautan manusia. Dari berbagai penjuru Republik Islam Iran, warga terus berdatangan tanpa henti untuk mengantarkan penghormatan terakhir kepada Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Dengan berjalan kaki, membawa bendera, dan mengenakan pakaian serba hitam, mereka memenuhi setiap sudut kompleks Mushala Teheran hingga nyaris tak menyisakan ruang kosong.

Duka dan keteguhan hadir dalam ruang yang sama. Di tengah kerumunan, slogan-slogan politik sesekali menggema, sementara iring-iringan tamu dari berbagai negara terus memasuki kawasan pemakaman. Bagi banyak pelayat, hari itu bukan sekadar prosesi penghormatan terakhir, melainkan peneguhan ikatan antara rakyat, negara, dan pemimpin mereka.

Dari jantung Teheran, Maula TV melaporkan secara langsung suasana tersebut melalui dua reporternya, Idrus Al-Hamid dan Abbas Al-Hasni, yang berada di lokasi sejak pagi hari.

Menurut Abbas Al-Hasni, masyarakat yang hadir tidak hanya berasal dari Teheran, tetapi juga dari berbagai provinsi di Iran, bahkan dari sejumlah negara lain yang datang untuk mengikuti prosesi penghormatan terakhir.

Di sepanjang prosesi, massa beberapa kali meneriakkan slogan “Maut bagi Amerika” dan “Maut bagi Israel”. Dalam pandangan Abbas Al-Hasni, slogan-slogan tersebut mencerminkan cara sebagian peserta memaknai wafatnya Ayatullah Ali Khamenei sebagai bagian dari sejarah panjang perlawanan Republik Islam Iran terhadap tekanan eksternal.

Menurut Abbas Al-Hasni, besarnya kehadiran masyarakat tidak dapat dipisahkan dari cara rakyat Iran memandang sosok Ayatullah Ali Khamenei. Dalam pandangannya, pemimpin tersebut bukan hanya dipersepsikan sebagai kepala negara, melainkan juga simbol kehormatan nasional dan keteguhan dalam mempertahankan kedaulatan Iran selama puluhan tahun.

Baca juga: Peti Jenazah Imam Sayyid Ali Khamenei Ditampilkan Jelang Pemakaman, Tangis Pelayat Pecah!

Ia menilai masyarakat datang bukan semata untuk mengantar jenazah seorang pemimpin, tetapi juga untuk memperbarui kesetiaan terhadap nilai-nilai yang mereka yakini telah diperjuangkan selama ini.

“Di tengah cuaca yang sangat panas, mereka tetap memilih bertahan. Menurut saya, itu menunjukkan adanya hubungan emosional yang kuat antara rakyat dan pemimpinnya,” ujarnya.

Laporan Maula TV juga menyebut prosesi tersebut dihadiri lebih dari 30 delegasi dari berbagai negara. Sementara itu, Pemerintah Iran menyatakan jumlah delegasi asing yang hadir mencapai sekitar 100 delegasi. Kehadiran para tamu internasional itu menunjukkan bahwa prosesi penghormatan terakhir tidak hanya menjadi perhatian masyarakat Iran, tetapi juga memiliki dimensi diplomatik dan geopolitik yang melampaui batas-batas nasional.

Di tengah suasana penghormatan itu, percakapan kemudian bergeser pada isu yang beberapa bulan terakhir menjadi salah satu perdebatan mengenai Iran. Idrus Al-Hamid mengangkat narasi yang berkembang di sejumlah media Barat yang mengaitkan demonstrasi di Iran dengan menurunnya dukungan publik terhadap pemerintah dan kepemimpinan negara. Ia kemudian meminta tanggapan Abbas Al-Hasni mengenai apakah besarnya kehadiran masyarakat pada prosesi pemakaman ini mencerminkan realitas sosial yang berbeda dari narasi tersebut.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Abbas Al-Hasni menyampaikan pandangannya bahwa demonstrasi dan penyampaian aspirasi merupakan bagian dari dinamika politik yang tetap berlangsung di Iran. Namun, menurutnya, situasi berbeda terjadi ketika negara menghadapi ancaman dari luar.

Ia berpendapat bahwa masyarakat Iran tetap dapat mengkritik kebijakan pemerintah, tetapi akan bersatu ketika menyangkut persoalan kedaulatan negara dan intervensi asing. Dalam pandangannya, besarnya kehadiran masyarakat di Mushala Teheran menjadi salah satu gambaran mengenai solidaritas nasional yang mereka tampilkan pada momentum tersebut.

Menjelang akhir siaran, kamera Maula TV mengarah ke panggung utama di kompleks Mushala Teheran. Lima peti jenazah berjajar di hadapan ribuan pelayat. Dalam siaran langsung tersebut dijelaskan bahwa peti-peti itu merupakan jenazah Ayatullah Ali Khamenei beserta beberapa anggota keluarganya yang turut menjadi korban.

Pemandangan itu menjadi salah satu momen paling hening sepanjang prosesi. Ribuan pasang mata tertuju pada simbol pengorbanan yang, bagi para pelayat, melampaui kehilangan seorang pemimpin semata. Idrus Al-Hamid menilai pemandangan tersebut menghadirkan pesan simbolik tentang pengorbanan yang, menurut pandangan masyarakat yang hadir, tidak hanya dipikul oleh seorang pemimpin, tetapi juga oleh keluarganya dalam perjalanan panjang Republik Islam Iran.

Baca juga: Dari Jakarta hingga Seoul, Media Asia Soroti Prosesi Penghormatan Imam Sayyid Ali Khamenei

Menurut informasi yang disampaikan Maula TV, prosesi penghormatan terakhir dijadwalkan berlangsung selama beberapa hari. Setelah rangkaian acara di Teheran pada 3–6 Juli 2026, iring-iringan jenazah akan melanjutkan perjalanan menuju Qom pada 7 Juli, kemudian ke Najaf dan Karbala pada 8 Juli, sebelum akhirnya dibawa ke Mashhad untuk dimakamkan pada 9 Juli 2026.

Empat bulan setelah syahidnya Ayatullah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026, Teheran masih dipenuhi gelombang penghormatan yang belum surut. Di bawah terik musim panas, jutaan warga tetap memadati ibu kota Iran untuk mengiringi perjalanan terakhir pemimpin mereka. Bagi masyarakat yang hadir, prosesi ini bukan hanya menjadi penghormatan terakhir kepada seorang pemimpin negara, tetapi juga penegasan bahwa nilai-nilai yang mereka yakini diperjuangkan Ayatullah Ali Khamenei tetap hidup dalam ingatan kolektif bangsa Iran.

Prosesi yang masih akan berlanjut menuju Qom, Najaf, Karbala, hingga Mashhad menunjukkan bahwa penghormatan kepada Ayatullah Ali Khamenei tidak dipahami semata sebagai penutupan sebuah perjalanan hidup, melainkan sebagai bagian dari narasi yang oleh para pelayat diyakini akan terus hidup dalam sejarah Republik Islam Iran.

Dari Mushala Teheran, Idrus Al-Hamid dan Abbas Al-Hasni mengakhiri laporan mereka dengan memastikan bahwa Maula TV akan terus mengikuti seluruh rangkaian prosesi penghormatan hingga pemakaman di Mashhad, menghadirkan perkembangan setiap tahapan perjalanan terakhir Ayatullah Ali Khamenei kepada para pemirsanya. []

Baca juga: Ayatullah Javadi Amoli Akan Pimpin Salat Jenazah Imam Ali Khamenei di Qom