Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Komandan Militer Iran Peringatkan AS atas Kontradiksi Ancaman dan Diplomasi

Published

on

Mural raksasa di Teheran, Iran, menampilkan wajah Presiden AS Donald Trump dengan mulut yang ditutup oleh ilustrasi Selat Hormuz
Iran menegaskan akan memberikan respons lebih kuat jika kembali menjadi sasaran serangan Amerika Serikat.

Ahlulbait Indonesia, 13 Juni 2026 — Komandan Markas Pusat Khatam al-Anbiya Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, memperingatkan Amerika Serikat agar tidak melanjutkan ancaman maupun serangan terhadap Iran. Menurutnya, kontradiksi antara tekanan militer dan klaim diplomasi Washington menjadi salah satu faktor yang memperburuk ketidakstabilan di kawasan.

Dalam pernyataan yang dirilis Kamis (11/6/2026) dan dilaporkan Press TV pada Jumat, Abdollahi mengkritik kebijakan Amerika Serikat yang di satu sisi berbicara mengenai kesepakatan dan perundingan, tetapi di sisi lain melontarkan ancaman militer terhadap Iran.

Baca juga: Pejabat AS Klaim Dua Drone Iran Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

“Amerika Serikat di satu sisi berbicara tentang kesepakatan dan negosiasi, tetapi di sisi lain melakukan tindakan permusuhan. Kontradiksi yang jelas antara tindakan dan pernyataan ini menjadi salah satu penyebab utama ketidakamanan di kawasan serta mengancam perdagangan dan perekonomian internasional, khususnya di Selat Hormuz,” kata Abdollahi.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengancam akan menyerang infrastruktur energi Iran dan mengambil alih Pulau Kharg. Namun beberapa jam kemudian, Trump mengumumkan pembatalan rencana serangan tersebut dan mengklaim proses negosiasi dengan Iran telah mencapai tingkat tertinggi kepemimpinan negara itu.

Sementara itu, sumber yang dekat dengan tim perunding Iran mengatakan kepada Kantor Berita Fars bahwa tidak ada naskah nota kesepahaman awal dengan Amerika Serikat yang telah disetujui sebagaimana diklaim sejumlah pihak.

Abdollahi menilai para pemimpin Amerika Serikat tidak memiliki pemahaman yang tepat mengenai rakyat Iran dan kemampuan angkatan bersenjatanya. Dia juga menuduh Washington menggunakan propaganda dan perang media untuk menutupi apa yang disebutnya sebagai kegagalan dan kekalahan berulang dalam konfrontasi dengan Iran.

Komandan militer Iran itu memperingatkan bahwa setiap serangan baru terhadap Iran akan memicu konflik yang lebih luas serta meningkatkan ketidakamanan di kawasan.

“Jika Amerika Serikat kembali melakukan serangan terhadap Iran, mereka akan menerima respons yang lebih kuat dibandingkan sebelumnya,” ujarnya.

Terkait ancaman terhadap fasilitas energi Iran, Abdollahi menegaskan bahwa akses terhadap ekspor minyak dan gas harus berlaku bagi semua pihak.

“Ekspor minyak dan gas harus tersedia bagi semua pihak, atau tidak seorang pun akan dapat mengaksesnya,” katanya.

Pernyataan itu disampaikan di tengah sensitivitas keamanan Selat Hormuz yang menjadi jalur transit sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.

Baca juga: Al-Nujaba: Senjata Perlawanan Merupakan Kebutuhan Strategis

Abdollahi juga menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran berada dalam kondisi siaga penuh dan siap merespons setiap ancaman terhadap keamanan, kemerdekaan, dan integritas wilayah negara itu.

Secara terpisah, Kementerian Pertahanan Iran memperingati satu tahun perang 12 hari yang oleh Teheran disebut sebagai “Perang Pemaksaan Kedua”, yaitu konflik yang menurut Iran dimulai melalui agresi bersama Amerika Serikat dan Israel pada Juni 2025.

Dalam pernyataannya, kementerian tersebut menyebut tujuan perang itu adalah melemahkan kemerdekaan, keamanan, dan eksistensi Republik Islam Iran. Namun, Teheran mengklaim pihak lawan gagal mencapai tujuan yang diinginkan.

Kementerian Pertahanan Iran menegaskan setiap tindakan yang mengancam keamanan dan integritas wilayah negara itu akan direspons secara tegas dan menentukan. []

Baca juga: Menteri Pertahanan Inggris Mundur setelah Berselisih dengan Starmer