Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

JD Vance Bongkar Koneksi Epstein dengan Intelijen AS dan Israel

Published

on

Kasus Jeffrey Epstein kembali menjadi sorotan setelah JD Vance menyinggung dugaan koneksi dengan badan intelijen.
Kasus Jeffrey Epstein kembali menjadi sorotan setelah JD Vance menyinggung dugaan koneksi dengan badan intelijen AS dan Israel. (Foto: Farsnews Agency)

Ahlulbait Indonesia, 17 Juli 2026 – Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengungkapkan bahwa terpidana kasus kejahatan seksual Jeffrey Epstein memiliki hubungan dengan komunitas intelijen Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara bersama podcaster Joe Rogan yang dipublikasikan pada Rabu (16/7), sebagaimana dilaporkan Al Jazeera.

Menanggapi spekulasi yang selama bertahun-tahun mengaitkan Epstein dengan badan intelijen Israel, Mossad, Vance menyatakan Epstein “jelas memiliki hubungan dengan tingkat tertinggi komunitas intelijen Amerika Serikat” dan “jelas memiliki hubungan dengan tingkat tertinggi intelijen Israel.”

Baca juga: Parlemen Iran: Tak Ada Batasan Respons terhadap “Geng Epstein”

Dalam wawancara yang sama, Vance juga mengakui pemerintahan Presiden Donald Trump gagal mengelola komunikasi publik terkait dokumen Epstein. Kesalahan penyampaian informasi, menurutnya, justru memicu ketidakpercayaan publik terhadap komitmen pemerintah untuk membuka seluruh berkas perkara tersebut.

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance berbicara dalam wawancara yang kembali memunculkan kontroversi mengenai hubungan Jeffrey Epstein dengan komunitas intelijen AS dan Israel.

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance berbicara dalam wawancara yang membongkar hubungan Jeffrey Epstein dengan komunitas intelijen AS dan Israel. (Foto: Farsnews Agency)

Vance secara khusus menyinggung mantan Jaksa Agung Pam Bondi, yang sebelumnya menyatakan daftar klien Epstein telah berada di mejanya. Di bawah kepemimpinan Bondi, Departemen Kehakiman bahkan sempat membagikan berkas bertajuk The Epstein Files: Phase 1 kepada sejumlah komentator dan influencer konservatif sebelum Trump memberhentikannya pada April lalu.

Meski demikian, Vance menilai persoalan tersebut lebih merupakan kegagalan komunikasi daripada upaya menutupi fakta. Bondi, katanya, terlalu melebih-lebihkan informasi yang dimiliki pemerintah sehingga menimbulkan ekspektasi publik yang akhirnya tidak terpenuhi.

“Kami benar-benar gagal dalam penyampaian informasi mengenai dokumen Epstein. Tetapi saya tidak percaya kami melakukannya karena ingin menyembunyikan sesuatu,” kata Vance.

Kasus Jeffrey Epstein telah lama menjadi salah satu skandal terbesar di Amerika Serikat karena menyeret nama sejumlah politikus, pebisnis, dan tokoh publik Barat. Di Inggris, perkara tersebut turut memaksa Pangeran Andrew mundur dari tugas-tugas resmi kerajaan setelah namanya dikaitkan dengan Epstein.

Baca juga: Ali Larijani Sebut Jaringan Epstein Rencanakan Serangan Mirip 9/11 untuk Menyalahkan Iran

Nama Donald Trump juga tercantum dalam sejumlah dokumen perkara Epstein. Presiden Amerika Serikat itu sempat berupaya menunda publikasi sebagian dokumen sebelum akhirnya mengubah sikap di tengah tekanan publik. Meski demikian, sejumlah pengamat menilai berkas perkara tersebut hingga kini belum dibuka secara menyeluruh.

Kontroversi pun belum mereda. Sejumlah politikus dan analis Amerika masih mempertanyakan sejauh mana hubungan Trump dengan Epstein. Anggota Kongres Thomas Massie, misalnya, menyebut Trump berupaya melindungi sejumlah orang dekatnya dari kemungkinan terungkap dalam dokumen perkara Epstein. Hingga kini, tuduhan tersebut belum dibuktikan melalui proses hukum. []

Baca juga: Cyber Handala dan Runtuhnya Mitos Benteng Digital Israel