Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Dari Ketergantungan hingga Bavar 373: Jalan Panjang Iran dalam Menjaga Langitnya

Published

on

Komandan pertahanan udara Iran menilai penguasaan pengetahuan dan teknologi menjadi dasar kemandirian pertahanan negara.
Komandan pertahanan udara Iran menilai penguasaan pengetahuan dan teknologi menjadi dasar kemandirian pertahanan negara.

Media ABI, 1 September 2026 — Ketika peralatan militer tidak tersedia, suku cadang sulit diperoleh, dan pengetahuan teknis berada di tangan negara pembuat, sebuah kekuatan pertahanan menghadapi persoalan yang jauh lebih besar daripada kekurangan senjata. Dalam keadaan seperti itu, kemampuan untuk mempertahankan diri pun dapat bergantung pada keputusan pihak lain.

Pengalaman inilah yang, menurut Komandan Pusat Pendidikan Khusus Pertahanan Udara Angkatan Darat Republik Islam Iran, Brigadir Jenderal Farzad Faridouni, mendorong Iran menempuh jalan panjang membangun kemampuan pertahanan udara di dalam negeri.

Baca juga: Iran Tidak Akan Diam terhadap Agresi dari Mana Pun

Dalam wawancara mendalam dengan Kantor Berita Mehr yang diterbitkan menjelang Hari Pertahanan Udara Iran pada 1 September 2026, Faridouni mengulas perjalanan tersebut, mulai dari lahirnya gerakan jihad kemandirian pada masa perang Iran-Irak hingga pengembangan sistem pertahanan udara dalam negeri seperti Bavar 373 dan 15 Khordad.

Baginya, hasil dari perjalanan itu tidak dapat dilihat hanya dari jumlah sistem radar atau rudal yang berhasil dibuat. Yang lebih menentukan adalah lahirnya pengetahuan, pengalaman, dan sumber daya manusia yang mampu memahami, mengoperasikan, mengembangkan, serta membangun kembali kemampuan pertahanan ketika diperlukan.

“Peralatan mungkin dapat hilang, tetapi pengetahuan tidak dapat dihilangkan,” katanya.

Pandangan itu berangkat dari pengalaman Iran menghadapi keterbatasan serius pada tahun-tahun awal setelah Revolusi Islam dan selama perang Iran-Irak. Faridouni mengatakan akses terhadap sejumlah peralatan yang dibutuhkan untuk operasi militer pada masa itu sangat terbatas. Masalahnya tidak berhenti pada ketersediaan peralatan. Sekalipun sebuah negara berhasil memperoleh teknologi militer dari luar negeri, pengetahuan tentang cara kerja, pengembangan, dan pemeliharaan teknologi tersebut tetap berada pada pihak pembuat.

Dalam situasi krisis, ketergantungan seperti itu dapat menjadi persoalan tersendiri. “Suatu negara dapat tetap mandiri apabila kuat,” ujar Faridouni.

Menurutnya, negara yang memiliki kekuatan dapat menentukan arah dan aturan permainannya sendiri. Sebaliknya, negara yang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan strategisnya akan bergerak dalam batas-batas yang ditentukan pihak lain.

Baca juga: Trump: Perang Melawan Iran Hanya Konflik Kecil bagi Amerika

Dari kebutuhan itulah gagasan kemandirian berkembang. Tujuannya bukan hanya memproduksi peralatan di dalam negeri, melainkan menguasai teknologi sehingga Iran mampu menjaga informasi dan kemampuan pertahanannya, memastikan peralatan tetap berfungsi pada saat dibutuhkan, serta mengembangkan teknologi baru sesuai kebutuhan.

Keputusan yang Mengubah Arah

Dalam perjalanan pertahanan udara Iran, Faridouni menempatkan keputusan untuk menjadikan pertahanan udara sebagai kekuatan mandiri sebagai salah satu langkah strategis yang menentukan.

Keputusan tersebut, menurutnya, memberi ruang bagi pertahanan udara Iran untuk merancang kebutuhan berdasarkan kondisi geografis, jenis ancaman, dan tuntutan operasional yang dihadapi negara itu.

Setelah melalui waktu, kata Faridouni, keputusan tersebut menunjukkan relevansinya. Di tengah perubahan cepat dalam teknologi militer dan karakter ancaman, kemampuan mengambil keputusan secara mandiri menjadi penting. Para komandan tidak hanya harus merespons ancaman yang muncul, tetapi juga menentukan sistem apa yang diperlukan dan bagaimana kemampuan tersebut harus dikembangkan.

“Jika sebuah negara kehilangan langitnya, bidang-bidang lain juga pasti akan terpengaruh,” katanya.

Menurut Faridouni, dalam konflik modern, kekuatan udara sering menjadi salah satu instrumen awal untuk menekan atau menyerang sebuah negara. Karena itu, pertahanan udara ditempatkan di garis depan dalam menjaga keamanan dan keberadaan negara. Kemandirian, dalam konteks tersebut, bukan hanya persoalan struktur organisasi. Kemampuan itu memungkinkan pengembangan sistem pertahanan yang disesuaikan dengan kebutuhan sendiri dan memperpendek proses pengambilan keputusan.

“Jika tidak memiliki kemandirian, siklus pengambilan keputusan menjadi panjang. Ketika siklus keputusan memanjang, waktu respons juga meningkat, dan peningkatan waktu respons pasti akan menimbulkan kerugian,” ujarnya.

Perjalanan itu kemudian melahirkan sejumlah sistem pertahanan udara buatan dalam negeri. Bavar 373 dan 15 Khordad disebut Faridouni sebagai bagian dari hasil proses panjang yang berakar pada upaya membangun kemampuan teknologi dan industri pertahanan nasional.

Baca juga: Iran Gulung Separatis dan Hantam Delta Force Amerika Secara Bersamaan

Namun, menurutnya, keberadaan sistem-sistem tersebut bukan akhir dari proses. Ancaman berubah dan kemampuan pertahanan juga harus berubah bersamanya.

Pelajaran dari Perang Terbaru

Pengalaman perang terbaru kembali mengingatkan Iran pada arti penting kemampuan yang dapat dibangun dan dipulihkan dari dalam negeri. Faridouni mengatakan peralatan dapat mengalami kerusakan atau keluar dari siklus operasional dalam konflik. Namun, kerusakan terhadap peralatan tidak selalu berarti hilangnya kemampuan secara permanen apabila negara memiliki pengetahuan, pengalaman, serta kapasitas untuk memproduksi dan membangunnya kembali.

Menurutnya, pengetahuan dan pengalaman yang terkumpul selama bertahun-tahun harus menjadi dasar bagi peningkatan kemampuan pertahanan pada masa mendatang.

“Itulah makna sebenarnya dari kemandirian, yakni tidak bergantung kepada pihak lain untuk melanjutkan misi,” katanya.

Dari pengalaman tersebut, pertahanan udara tidak dapat dipandang sebagai kekuatan yang selesai dibangun setelah sebuah sistem diproduksi. Sistem harus terus diperbarui, personel harus terus dilatih, dan pemahaman terhadap ancaman harus berubah mengikuti perkembangan teknologi. Di titik inilah Faridouni menempatkan pendidikan sebagai salah satu bagian utama dari kekuatan pertahanan.

Ketika Pendidikan Menjadi Bagian dari Pertahanan

Sistem pertahanan udara tidak bekerja sendiri. Di belakang radar, rudal, dan jaringan komando terdapat personel yang harus mampu mengenali ancaman dan mengambil keputusan dalam waktu singkat. Menurut Faridouni, pusat pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan operasional. Personel yang kelak menjalankan tugas di lapangan merupakan hasil dari pendidikan dan pelatihan yang diterima sebelumnya.

“Jika ingin menciptakan kekuatan dalam sebuah negara, kita harus memulainya dari pendidikan,” katanya.

Pendidikan, menurutnya, memberikan kemampuan nyata kepada personel dan membuat peralatan dapat digunakan secara efektif. Seorang personel yang telah menerima pelatihan dengan baik dapat membuat keputusan yang berbeda dibandingkan seseorang yang belum dipersiapkan menghadapi situasi kompleks.

Baca juga: Puluhan Drone Iran Serang Pangkalan Al Minhad di Uni Emirat Arab

Karena itu, waktu menghadapi ancaman bukanlah saat untuk mulai belajar. “Hari ini adalah waktu untuk berlatih, karena ketika bahaya datang, waktunya bukan lagi untuk belajar,” ujarnya.

Faridouni mengatakan pendidikan bagi personel pertahanan udara harus mengikuti kebutuhan nyata di lapangan. Mereka tidak hanya dituntut memahami teknologi, tetapi juga harus mampu melakukan pengamatan secara tepat, mengelola informasi, mengenali bentuk ancaman, dan mengambil tindakan sesuai situasi yang dihadapi.

Perubahan ancaman juga membuat tuntutan terhadap pertahanan udara semakin kompleks. Pesawat tanpa awak yang semakin murah dan mudah diproduksi, rudal jelajah yang memiliki kemampuan manuver, serta rudal balistik dengan karakteristik berbeda telah mengubah lanskap ancaman udara.

Menurut Faridouni, perubahan tersebut menuntut pertahanan udara yang terintegrasi, memiliki kesatuan komando, mampu berdiri di atas kemampuan sendiri, dan siap beroperasi sepanjang waktu.

Ancaman, katanya, tidak pernah benar-benar berhenti.

Menjaga Langit Selama 24 Jam

Bagi pertahanan udara, kesiapan bukan kondisi yang hanya dibangun ketika perang pecah. Faridouni mengatakan pengawasan dan kesiapan harus berlangsung selama 24 jam, baik dalam situasi damai maupun perang. Sebuah operasi dapat dimulai dari pemantauan dan pendeteksian, kemudian berkembang sesuai dengan ancaman yang ditemukan.

Namun, prinsipnya tetap sama, pertahanan udara harus siap merespons setiap saat.

“Pada setiap saat kami harus mampu memberikan respons yang tepat, cepat, dan memadai,” katanya.

Baca juga: Gharibabadi: AS Harus Mengambil Pelajaran agar Tak Ceroboh terhadap Iran

Kesiapan tersebut, menurutnya, bukan hanya berkaitan dengan keberadaan peralatan. Sistem komunikasi harus tetap berfungsi, radar harus mampu menjalankan tugasnya, dan personel harus berada dalam kondisi siap untuk bertindak.

Keamanan wilayah udara pada akhirnya memiliki hubungan langsung dengan kehidupan masyarakat.

Faridouni menggambarkan situasi ketika seorang petani dapat bekerja di lahannya, pelaku industri menjalankan kegiatan ekonomi, dan berbagai unsur pertahanan melaksanakan tugasnya dalam kondisi normal. Semua kegiatan itu, menurutnya, membutuhkan lingkungan yang aman.

“Ketika seorang petani bekerja dengan tenang di lahannya, ketika seorang pelaku industri menjalankan kegiatan ekonominya, dan ketika pasukan darat melaksanakan tugasnya, semua itu berlangsung karena adanya payung keamanan di langit negara,” katanya.

Masyarakat mungkin tidak selalu melihat langsung aktivitas pertahanan udara, tetapi keberadaan sistem tersebut dirasakan melalui kondisi keamanan yang memungkinkan kehidupan berlangsung tanpa ancaman serangan udara yang terus-menerus.

Pengetahuan yang Ditinggalkan untuk Generasi Berikutnya

Wawancara tersebut kemudian kembali pada satu persoalan yang menjadi benang merah pembicaraan Faridouni, yakni keberlanjutan pengetahuan. Personel dapat berganti. Peralatan dapat rusak. Kondisi politik dan keamanan dapat berubah.

Namun, menurutnya, pengetahuan dan pengalaman yang telah dibangun harus terus dipelihara dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Ketika ditanya mengenai warisan terbesar bagi generasi baru perwira pertahanan udara, Faridouni merangkumnya dalam dua ungkapan.

“Kami bisa” dan “Kami telah berhasil.”

Menurutnya, pengetahuan yang telah terbentuk dalam struktur angkatan bersenjata tidak berhenti pada satu generasi.

“Pengetahuan tidak dapat dihancurkan. Pengetahuan itu setiap hari berkembang, meluas, dan ditransfer kepada generasi berikutnya,” katanya.

Pesan yang sama disampaikan kepada para perwira muda yang akan memikul tanggung jawab pertahanan udara pada tahun-tahun mendatang. Mereka, menurut Faridouni, tidak boleh berhenti meningkatkan kemampuan. Pendidikan, kesiapan, pengembangan pengetahuan, dan kepercayaan terhadap kemampuan dalam negeri harus terus dijaga.

Baca juga: CNN: Enam Bulan Perang Iran Seret Dunia ke Krisis yang Lebih Luas

Pengalaman di medan menunjukkan bahwa kesiapan harus dibangun sebelum ancaman datang.

“Ketika bahaya telah tiba, tidak ada lagi kesempatan untuk membangun kemampuan,” ujarnya.

Bagi Iran, perjalanan dari ketergantungan terhadap peralatan asing menuju pembangunan sistem pertahanan udara dalam negeri masih terus berlangsung. Bavar 373 dan sistem-sistem lain merupakan bagian dari perjalanan itu, tetapi bukan satu-satunya ukuran.

Di balik setiap sistem yang dibangun, terdapat proses panjang penguasaan teknologi, pendidikan personel, pengalaman konflik, dan upaya menjaga kemampuan agar tidak berhenti pada satu generasi.

Itulah alasan mengapa, dalam wawancara panjang tersebut, Faridouni berulang kali kembali pada satu hal yang sama. Peralatan dapat berubah dan kondisi perang dapat berganti, tetapi kemampuan sebuah negara untuk mempertahankan dirinya akan selalu bergantung pada pengetahuan yang dimiliki dan orang-orang yang mampu menggunakannya. []

Baca juga: The Economist Mengulas Alasan Ansharullah Sulit Ditundukkan