Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Langit Iran Jadi Medan Perburuan Drone Amerika dan Israel

Published

on

Iran mengandalkan radar dan sensor elektro-optik untuk mendeteksi serta melacak berbagai jenis drone di wilayah udaranya.
Iran mengandalkan radar dan sensor elektro-optik untuk mendeteksi serta melacak berbagai jenis drone di wilayah udaranya.

Media ABI, 19 September 2026 – Sebuah drone MQ-9 milik Amerika Serikat ditembak jatuh di atas Pulau Qeshm, Iran, pada Kamis (17/9/2026). Peristiwa tersebut menambah rangkaian konfrontasi antara pertahanan udara Iran dan drone Amerika Serikat di kawasan selatan Iran.

Fars News Agency melaporkan, drone MQ-9 ke-53 Amerika Serikat ditembak jatuh setelah dilacak oleh sistem pertahanan udara terbaru Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC yang terhubung dengan jaringan pertahanan udara terpadu Iran.

Baca juga: Media AS Tunjukkan Kerusakan Berat Pangkalan AS di Kuwait

Penembakan di Qeshm terjadi dua hari setelah Iran mengumumkan jatuhnya drone MQ-1 Amerika Serikat di atas Selat Hormuz pada Selasa (15/9/2026). Dua kejadian tersebut menambah daftar insiden yang melibatkan drone Amerika Serikat di kawasan strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman.

Drone pengintai dan serang menjadi bagian penting dalam operasi udara karena dapat bertahan lama di wilayah misi, mengumpulkan informasi mengenai pergerakan sasaran dan, pada varian tertentu, membawa persenjataan untuk melakukan serangan.

Juru bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akrami-Nia, sebelumnya mengatakan dalam program “Sobhe Bekheir Iran” pada 20 April 2026 bahwa 170 drone canggih Amerika Serikat telah ditembak jatuh selama perang 40 hari. Angka tersebut merupakan pernyataan pihak Iran dan belum disertai rincian independen mengenai seluruh kasus yang disebutkan.

Radar, Sensor Termal, dan Perburuan Sasaran

Bagi operatornya, kehilangan sebuah drone bukan hanya berarti hilangnya satu pesawat. Drone pengintai membawa sensor dan sistem komunikasi yang digunakan untuk mengawasi wilayah, mencari sasaran, mengirimkan data serta dalam kondisi tertentu mendukung serangan.

Kemampuan pertahanan udara untuk menghadapi drone bergantung pada proses deteksi dan pelacakan. Radar bekerja dengan memancarkan gelombang elektromagnetik dan membaca pantulannya untuk menentukan posisi serta pergerakan sasaran. Informasi tersebut kemudian dapat diteruskan ke jaringan komando dan pengendalian.

Baca juga: Inggris Terlibat Kejahatan Perang AS terhadap Iran, Kata Aktivis

Sementara itu, perangkat elektro-optik menggunakan kamera dan sensor termal untuk menemukan serta mengikuti sasaran berdasarkan citra visual atau jejak panas. Sistem ini dapat digunakan tanpa memancarkan gelombang radar, meskipun sebagian perangkat dilengkapi pengukur jarak berbasis laser.

Penggabungan berbagai perangkat memberi pertahanan udara lebih dari satu pilihan untuk menemukan dan mengikuti sasaran. Namun, informasi terbuka biasanya tidak cukup untuk memastikan metode yang digunakan dalam setiap penembakan. Karena itu, cara sebuah drone dilacak dan dihancurkan tidak dapat disamakan untuk seluruh kasus.

Dari Reaper Amerika hingga Hermes Israel

Di antara drone yang disebut dalam rangkaian pertempuran tersebut terdapat MQ-9 Reaper Amerika Serikat dan Hermes 900 Israel. Keduanya termasuk kelompok Medium Altitude Long Endurance atau MALE, yang dirancang untuk menjalankan misi pengawasan dalam waktu lama.

MQ-9 Reaper dilengkapi perangkat optik dan sensor termal serta dapat membawa persenjataan berpemandu, termasuk rudal Hellfire. Kemampuan tersebut memungkinkan drone digunakan untuk pengintaian sekaligus serangan.

Hermes 900 buatan Israel juga dirancang untuk misi pengawasan dan pengumpulan informasi dengan kemampuan bertahan lama di udara. Selain kedua jenis tersebut, laporan mengenai drone yang menjadi sasaran dalam pertempuran ini menyebut Lucas, RQ-21 Blackjack, Heron, Eitan dan Orbiter.

Baca juga: Teheran Tuntut Perlawanan terhadap Militerisasi Ruang Angkasa AS

Jenis-jenis tersebut memiliki ukuran, karakteristik penerbangan dan fungsi yang berbeda. Daftar itu menunjukkan bahwa drone yang digunakan dalam operasi pengintaian dan pengawasan memiliki beragam kemampuan dan karakteristik.

Ketika Drone Jatuh, Rantai Pengintaian Terganggu

Kehilangan drone pengintai dapat mengurangi kemampuan memperoleh informasi mengenai suatu wilayah, terutama ketika perangkat tersebut digunakan untuk mencari sasaran bergerak seperti peluncur rudal. Informasi mengenai posisi sasaran dapat kehilangan nilai apabila target berpindah sebelum serangan dilakukan.

Baca juga: AS Tembakkan 80 Rudal Pencegat Hadapi Serangan Iran

Pihak yang kehilangan drone masih dapat menggunakan platform lain untuk menggantikan fungsi tersebut. Drone lain, pesawat berawak, satelit dan berbagai sensor darat dapat menjadi bagian dari jaringan pengintaian. Karena itu, dampak dari jatuhnya satu drone bergantung pada fungsi perangkat yang hilang, nilai informasi yang dibawanya dan kemampuan menggantikannya.

Penembakan MQ-9 di Qeshm dan MQ-1 di Selat Hormuz memperlihatkan bahwa ruang udara di sekitar kawasan tersebut menjadi salah satu titik konfrontasi antara pertahanan udara Iran dan drone Amerika Serikat. Bagi Iran, kemampuan mendeteksi dan menghadapi pesawat tanpa awak menjadi bagian dari upaya mempertahankan wilayah udara dan membatasi ruang gerak operasi udara lawan.

Seberapa jauh penembakan tersebut memengaruhi keseluruhan kemampuan pengintaian dan serangan Amerika Serikat belum dapat ditentukan hanya dari jumlah drone yang diumumkan telah ditembak jatuh. Peran masing-masing drone, misi yang dijalankan, nilai informasi yang dibawa serta kemampuan menggantinya menjadi faktor yang ikut menentukan dampaknya di medan operasi. []

Baca juga: Iran “Panen” Drone MQ-1 Predator AS di Selat Hormuz

Views: 21