Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Araghchi: Iran Tak Takut Ancaman dan Tak Akan Tunduk pada Tekanan

Published

on

Menteri Luar Negeri Iran, Sayyid Abbas Araghchi, menyampaikan pernyataan kepada media usai pertemuan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO).
Menteri Luar Negeri Iran, Sayyid Abbas Araghchi, menyampaikan pernyataan kepada media usai pertemuan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO).

Ahlulbait Indonesia, 25 Juli 2026 – Menteri Luar Negeri Iran, Sayyid Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk pada intimidasi maupun tekanan Amerika Serikat. Menurutnya, menjaga kepentingan serta hak-hak rakyat Iran di Selat Hormuz dan Teluk Persia merupakan prinsip yang akan terus dipertahankan.

Menurut laporan Tasnim News pada Jumat malam (24/7), pernyataan itu disampaikan Araghchi usai menggelar serangkaian pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, Menteri Luar Negeri China Wang Yi, dan Menteri Luar Negeri Pakistan di sela-sela pertemuan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO).

Baca juga: Wall Street Journal: Trump Marah dan Frustrasi Hadapi Iran

Araghchi mengatakan SCO menghimpun negara-negara yang menolak kebijakan sepihak Amerika Serikat dan Barat. Organisasi itu juga menjadi forum untuk membahas tata kelola global yang lebih adil serta menghadapi dominasi Barat dalam hubungan internasasional.

“Pembahasan utama dalam pertemuan hari ini juga berfokus pada cara menghadapi kebijakan sepihak Amerika Serikat dan Barat,” ujarnya.

Mengenai pertemuannya dengan Lavrov, Wang Yi, dan Menteri Luar Negeri Pakistan, Araghchi menjelaskan bahwa konsultasi dengan Moskow dan Beijing berlangsung secara rutin dan berkesinambungan.

“Kami terus berkoordinasi dengan Rusia dan China melalui berbagai saluran. Hari ini kami juga memanfaatkan kesempatan untuk melakukan pembahasan yang panjang dan mendalam dengan Wang Yi dan Sergey Lavrov,” katanya.

Terkait Pakistan, Araghchi mengatakan kedua pihak membahas sejumlah inisiatif diplomatik. Namun, ia menegaskan persoalan utama antara Iran dan Amerika Serikat bukan terletak pada mediasi, melainkan pada pendekatan koersif yang terus ditempuh Washington.

“Saluran mediasi tersedia dan pesan kedua pihak dapat disampaikan. Persoalan sebenarnya adalah pendekatan Amerika yang mengandalkan intimidasi dan pemaksaan,” ujarnya.

Araghchi kembali menegaskan bahwa Iran telah membuktikan tidak akan tunduk pada tekanan Washington.

Baca juga: Digempur Rudal dan Drone Iran, Pangkalan Al Udeid Kosong dari Pesawat Militer AS

“Iran telah menunjukkan bahwa kami tidak akan menyerah pada aksi perundungan Amerika. Kami tidak akan pernah merespons bahasa ancaman, tekanan, dan pemaksaan.”

Ia juga menyinggung sikap Presiden Amerika Serikat yang, menurutnya, kerap mengubah pernyataannya dalam waktu singkat.

“Presiden Amerika telah berkali-kali menguji pendekatan ini. Hari ini ia menulis sesuatu, esok ia mengatakan hal yang berbeda. Kami tidak takut terhadap ancaman, tidak akan tunduk pada tekanan, dan tidak akan mentoleransi bahasa ancaman seperti itu. Kami memiliki prinsip yang akan terus kami pegang. Menjaga kepentingan dan hak-hak rakyat Iran di Selat Hormuz dan Teluk Persia merupakan bagian dari tujuan utama kami.”

Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak gentar menghadapi ancaman apa pun.

“Kami tidak takut kepada siapa pun dan tidak akan mundur menghadapi ancaman apa pun.”

Ia menambahkan, selama tujuan nasional dan hak-hak rakyat Iran belum terpenuhi, negaranya akan terus melanjutkan langkah yang telah ditempuh.

Menutup pernyataannya, Araghchi menekankan bahwa kekuatan militer, diplomasi, masyarakat, dan media saling melengkapi dalam menghadapi tekanan terhadap Iran.

“Angkatan bersenjata menjalankan tugasnya di medan tempur, para diplomat menjalankan tugasnya di arena diplomasi. Keduanya saling melengkapi. Selama perang maupun setelahnya, kami menyaksikan sinergi penuh antara medan tempur dan diplomasi. Kini masyarakat dan media juga menjalankan perannya. Dengan persatuan dan solidaritas, Iran akan terus berdiri teguh menghadapi musuh-musuhnya.” []

Baca juga: IRGC: Jet Tempur, Sistem Patriot, dan Balon Mata-mata AS Luluh Lantak