Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Iran: Kapal Perang Eropa di Selat Hormuz Target Sah

Published

on

Wakil Menlu Iran Kazem Gharibabadi menegaskan Teheran tidak menggelar perundingan dengan Amerika Serikat.

Ahlulbait Indonesia, 29 Juli 2026 — Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi, memperingatkan bahwa setiap kapal perang Eropa yang mendekati Selat Hormuz akan diperlakukan sebagai target sah oleh Iran. Menurutnya, kebijakan Republik Islam Iran adalah memastikan selat strategis tersebut tidak pernah kembali ke kondisi sebelum perang.

Dalam wawancara yang disiarkan televisi nasional Iran pada Selasa malam (28/7/2026), Gharibabadi menegaskan bahwa mempertahankan kondisi baru di Selat Hormuz merupakan bagian dari kebijakan strategis Iran pascaperang.

“Setiap kapal perang Eropa yang berusaha mendekati Selat Hormuz merupakan target sah bagi kami.”

Ia menilai bahwa apabila Selat Hormuz kembali ke kondisi sebelum perang, kemenangan Iran belum dapat dianggap sempurna.

Lebih lanjut, Gharibabadi menjelaskan bahwa keputusan Iran untuk tidak membuka jalur pelayaran di sisi selatan Selat Hormuz didasarkan pada upaya menjaga dan meneguhkan kedaulatan negara atas jalur strategis tersebut.

“Jika kami membuka jalur selatan Selat Hormuz, kami tidak akan lagi mampu menjalankan kedaulatan secara efektif di selat itu.”

Menurutnya, Iran tidak mengkhawatirkan konsekuensi apa pun dalam mempertahankan kedaulatannya atas Selat Hormuz, termasuk kemungkinan pecahnya kembali perang.

Ia menambahkan bahwa Selat Hormuz kini dipandang sebagai bagian integral dari keamanan nasional sekaligus menjadi salah satu kapasitas pertahanan baru Iran.

“Dunia harus mengetahui bahwa Republik Islam Iran telah meningkatkan instrumen pertahanannya.”

Iran Ajukan Formula Baru Pengelolaan Selat Hormuz

Dalam kesempatan yang sama, Gharibabadi mengungkapkan bahwa Iran dan Oman tengah membahas kemungkinan pembentukan jalur pelayaran sementara di Selat Hormuz sebagai pengganti jalur utara dan selatan yang selama ini digunakan.

Ia menjelaskan bahwa Oman mengusulkan jalur pelayaran yang berada 50 persen di bawah yurisdiksi Iran dan 50 persen di bawah yurisdiksi Oman. Namun, menurut Teheran, formula tersebut belum mampu menjawab kekhawatiran Iran terkait aspek kedaulatan.

Sebagai alternatif, Iran mengusulkan agar jalur masuk ke Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah kendali Iran. Apabila usulan tersebut diterima, pembahasan dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya.

Gharibabadi kembali menegaskan bahwa Iran tidak akan mengakui jalur pelayaran di sisi selatan Selat Hormuz, bahkan untuk sementara waktu.

Ia menambahkan bahwa apabila Oman tidak menerima usulan Iran mengenai pengaturan jalur pelayaran di Selat Hormuz, selat tersebut akan tetap ditutup. Dalam kondisi demikian, Iran juga menyatakan kesiapan untuk menghadapi kemungkinan pecahnya kembali perang.

Menutup pernyataannya, Gharibabadi menegaskan bahwa satu jalur pelayaran di Selat Hormuz harus sepenuhnya berada di bawah kendali Iran, sementara sebagian jalur lainnya juga harus berada dalam kendali Teheran. Menurutnya, formula tersebut merupakan posisi final Republik Islam Iran dan tidak ada alternatif lain yang akan diterima. []