Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Hati-Hati Swafoto: AI Kini Bisa Mengekstraksi Sidik Jari

Published

on

Ilustrasi pemindaian biometrik dan kecerdasan buatan yang digunakan untuk merekonstruksi sidik jari dari foto swafoto beresolusi tinggi.
Teknologi AI mampu merekonstruksi sidik jari dari swafoto beresolusi tinggi. (Dok. Farsnews Agency)

Ahlulbait Indonesia | 28 Mei 2026 — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) memunculkan ancaman baru dalam keamanan digital. Para pakar keamanan siber memperingatkan bahwa sidik jari seseorang kini berpotensi direkonstruksi hanya dari foto swafoto biasa yang diunggah ke internet atau media sosial.

Baca juga: Iran Kembangkan Teknologi Nano untuk Regenerasi Tulang

Dilaporkan Desk Sains dan Teknologi Kantor Berita Fars pada Rabu, 27 Mei 2026 mengutip TechSpot, foto beresolusi tinggi yang menampilkan jari tangan dalam jarak kurang dari 1,5 meter dari kamera dinilai mampu menyimpan detail yang cukup untuk merekonstruksi pola sidik jari pengguna.

Kekhawatiran ini kembali mencuat setelah sejumlah laporan di China menyoroti kemampuan teknologi pemrosesan citra dan kecerdasan buatan dalam mengekstraksi data biometrik dari gambar biasa. Para ahli memperingatkan bahwa peretas dapat memanfaatkan perangkat lunak pemrosesan citra untuk mengekstraksi dan memperjelas alur serta lekukan sidik jari yang sebelumnya nyaris tak terlihat.

Jika proses tersebut berhasil, data biometrik hasil rekonstruksi berpotensi digunakan untuk mengecoh sebagian sistem autentikasi sidik jari pada ponsel, laptop, sistem pembayaran digital, hingga akun online.

Li Chang, seorang pakar di bidang keuangan, mengatakan bahwa perangkat penyunting gambar dan sistem berbasis AI kini mampu menampilkan detail visual yang sebelumnya sulit dikenali dalam foto sehari-hari.

Baca juga: Postkolonialisme Digital dan Tantangan Kemerdekaan Teknologi

Sementara itu, Jing Jiuwu, profesor dari University of Chinese Academy of Sciences, menyebut sejumlah faktor teknis seperti pencahayaan, getaran gambar, dan fokus kamera masih menjadi hambatan dalam proses rekonstruksi sidik jari. Meski demikian, ia menegaskan bahwa foto dengan kualitas sangat tinggi atau kumpulan beberapa gambar dapat meningkatkan peluang keberhasilan ekstraksi data biometrik.

Perdebatan mengenai risiko ini dengan cepat meluas di media sosial China. Salah satu pemicunya adalah populernya pose tanda “V” atau simbol kemenangan dalam swafoto, terutama di berbagai negara Asia, yang tanpa disadari sering memperlihatkan detail jari tangan secara jelas ke kamera.

Para peneliti keamanan sebenarnya telah lebih dari satu dekade memperingatkan potensi serangan berbasis rekonstruksi sidik jari. Namun, peningkatan kualitas kamera ponsel pintar dan kemajuan teknologi pemrosesan citra membuat ancaman tersebut kini jauh lebih realistis dibanding sebelumnya.

Pada 2021, para peneliti juga mendemonstrasikan bahwa hanya dengan satu gambar sidik jari, perangkat lunak pengolah gambar, printer laser, dan lem kayu, seseorang dapat membuat replika sidik jari palsu untuk mengecoh sebagian sistem keamanan biometrik.

Baca juga: Duta Besar RI Tekankan Perluasan Kerja Sama Ilmiah dan Teknologi dengan Iran

Meski demikian, autentikasi biometrik masih menjadi standar keamanan utama pada laptop, tablet, dan ponsel pintar modern. Selain praktis dan cepat, metode ini tetap dianggap memiliki tingkat keamanan yang memadai terhadap sebagian besar ancaman siber konvensional.

Kasus ini menunjukkan bahwa di era kecerdasan buatan, data pribadi tidak lagi terbatas pada informasi yang sengaja dibagikan pengguna. Detail visual yang tampak sepele dalam sebuah foto kini dapat berubah menjadi jejak biometrik bernilai tinggi. []

Baca juga: Iran Nano 1404: Lompatan Besar Iran Menuju Kekuatan Baru Melalui Nanoteknologi