Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Al Jazeera: Israel Tak Mampu Menggulingkan Pemerintahan Iran

Published

on

Al Jazeera mengutip sejumlah analis yang menilai Israel tidak memiliki kemampuan dan strategi yang memadai untuk menggulingkan pemerintahan Iran.
Al Jazeera mengutip sejumlah analis yang menilai Israel tidak memiliki kemampuan dan strategi yang memadai untuk menggulingkan pemerintahan Iran.

Media ABI, 23 Oktober 2026 – Sejumlah analis menilai Israel tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk menggulingkan pemerintahan Iran. Dalam analisis yang diterbitkan pada Kamis (22/10/2026), jaringan berita Al Jazeera mengutip sejumlah pakar yang menyatakan bahwa Israel tidak memiliki kapasitas untuk mewujudkan tujuan tersebut, menanggapi pernyataan terbaru Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai penggulingan pemerintahan Iran.

Netanyahu menyatakan bahwa penggulingan pemerintahan Iran masih menjadi “tujuan utama” Israel. Pernyataan itu disampaikan menjelang pemilihan umum nasional pekan depan, ketika tingkat dukungannya dalam berbagai jajak pendapat tengah menurun.

Baca juga: 70 Persen Pemilih AS Desak Kongres Baru Akhiri Perang dengan Iran

Para analis mengatakan kepada media Qatar tersebut bahwa Israel tidak memiliki strategi yang jelas untuk mengubah serangan militer menjadi hasil strategis, seperti penggulingan pemerintahan. Menurut mereka, serangan udara saja kecil kemungkinannya mencapai tujuan tersebut, sedangkan invasi darat membutuhkan komitmen militer yang jauh lebih besar.

Al Jazeera menulis bahwa serangan baru terhadap Iran berarti menghadapi negara yang telah melewati dua putaran serangan, tetapi masih memiliki kemampuan untuk membalas Israel maupun negara-negara tetangga di kawasan Teluk yang menjadi tuan rumah bagi pasukan dan peralatan militer Amerika Serikat.

Di sisi lain, dukungan Washington terhadap serangan baru masih belum jelas. Para pakar meragukan kesediaan AS untuk kembali terlibat dalam perang, terlebih karena belum ada prospek meyakinkan untuk memaksa Iran menyerah dan memenuhi tuntutan Washington. Netanyahu sendiri pada Maret mengakui keterbatasan kekuatan udara. “Hal ini tidak dapat dilakukan hanya melalui udara,” katanya. Ia menambahkan, “Harus ada pula komponen darat,” tetapi tidak menjelaskan bentuk maupun skala operasi darat yang dimaksud.

Al Jazeera juga menyoroti bahwa Israel tidak lagi dapat memastikan metode-metode rahasia yang digunakan dalam serangan sebelumnya akan sama efektifnya jika kembali diterapkan.

Baca juga: Qalibaf Peringatkan AS tentang Mahalnya Biaya Perang dengan Iran

Orban Cunningham, peneliti di Royal United Services Institute (RUSI), Inggris, menggambarkan sumber daya intelijen dan jaringan mata-mata sebagai instrumen yang penggunaannya berisiko membongkar keberadaan jaringan tersebut. Menurutnya, aparat keamanan Iran dapat mengidentifikasi dan melumpuhkannya setelah jaringan itu digunakan. Cunningham menilai operasi rahasia dan serangan siber tidak menawarkan jalan yang jelas untuk menggulingkan pemerintahan Iran. Ia juga meragukan kemampuan kelompok bersenjata Kurdi maupun Baluchi untuk menjadi kekuatan darat yang diperlukan guna menantang pemerintahan Iran.

Pada Maret, CNN, mengutip pejabat Kurdi dan Amerika Serikat, melaporkan bahwa pemerintahan Trump tengah serius mempertimbangkan rencana mempersenjatai kelompok oposisi Kurdi. Namun, rencana tersebut tidak sampai dilaksanakan.

“Kelompok-kelompok Kurdi tidak memiliki kemampuan militer yang diperlukan untuk menghadapi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC),” kata Cunningham.

Iran Masih Memiliki Kemampuan untuk Membalas

Menurut para pakar, Iran tidak perlu menyamai jumlah pesawat tempur Israel untuk meningkatkan biaya yang harus ditanggung dalam serangan baru. Siddharth Kaushal, peneliti senior di RUSI, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Iran kemungkinan masih memiliki persediaan rudal dalam jumlah signifikan.

Baca juga: IRGC Tembak Jatuh Drone MQ-9 Reaper AS ke-54 di Selat Hormuz

“Persediaan rudal antikapal yang sebenarnya kemungkinan masih cukup besar. Hal ini karena rudal-rudal tersebut relatif mudah diproduksi dan Iran memproduksi sendiri sebagian besar rudal antikapal model lama buatan China. Pegunungan di wilayah selatan Iran juga menyediakan perlindungan alami dari serangan udara,” ujarnya.

Cunningham menambahkan bahwa Israel akan menghadapi kesulitan lebih besar dalam mempertahankan kemampuan pertahanannya. Sebagian persediaan rudal pencegat negara itu telah terkuras dalam pertukaran serangan sebelumnya. Serangan berkepanjangan juga berpotensi membebani Israel secara finansial. Untuk mencegat drone-drone Iran yang relatif murah, Israel harus menggunakan persenjataan pertahanan dengan biaya jauh lebih tinggi.

Jika konflik terus berlangsung, ketimpangan biaya tersebut dapat semakin menekan persediaan rudal pencegat Israel. Sementara itu, Iran dinilai masih mampu mempertahankan produksi massal persenjataan berbiaya rendah untuk jangka waktu lebih panjang.

Baca juga: Bloomberg: Ketergantungan pada Payung Keamanan AS,Titik Lemah Arab Saudi

Akankah Washington Terlibat dalam Serangan Baru?

Menurut Al Jazeera, para analis menilai keterlibatan Amerika Serikat dalam serangan baru terhadap Iran kecil kemungkinannya. Mereka menunjuk perbedaan kepentingan politik antara Tel Aviv dan Washington sebagai salah satu faktor yang memengaruhi kemungkinan tersebut.

Trump juga menghadapi tekanan menjelang pemilihan paruh waktu di AS untuk mencegah kembali meningkatnya ketegangan. Dalam laporan yang diterbitkan pekan ini, surat kabar Financial Times menulis bahwa usulan Israel untuk melanjutkan serangan belum berhasil memperoleh persetujuan Trump. []

Baca juga: Anggota Parlemen Turki: Erdogan Bekerja Bahu Membahu dengan Netanyahu