Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Mayjen Hatami: Militer Iran Kuasai Pesisir dan Laut Sebelah Timur Selat Hormuz

Published

on

Mayor Jenderal Amir Hatami, Panglima Angkatan Darat Republik Islam Iran, saat mengunjungi pusat produksi drone tempur milik Angkatan Darat Iran.
Mayor Jenderal Amir Hatami, Panglima Angkatan Darat Republik Islam Iran, saat mengunjungi pusat produksi drone tempur milik Angkatan Darat Iran.

Media ABI, 23 Oktober 2026 – Panglima Angkatan Darat Republik Islam Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami, menyatakan bahwa Angkatan Darat Iran memiliki kesiapan peralatan, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, untuk menghadapi perang asimetris.

Dilansir Kantor Berita Tasnimnews pada Jumat (23/10/2026), Hatami menyampaikan hal tersebut saat mengunjungi salah satu pusat produksi drone tempur serang milik Angkatan Darat Iran. Ia menyinggung tingkat kesiapan dan kelincahan pasukan saat ini. Menurutnya, Iran memperoleh pengalaman penting dalam dua perang yang dipaksakan terhadap negara itu baru-baru ini. Salah satu pelajaran utamanya adalah bahwa Iran tidak boleh menaruh kepercayaan sedikit pun kepada musuh dan harus terus meningkatkan kesiapan.

Baca juga: 70 Persen Pemilih AS Desak Kongres Baru Akhiri Perang dengan Iran

Mengenai peran senjata nirawak dalam peperangan modern, Hatami mengatakan bahwa berbagai jenis senjata nirawak, mulai dari drone udara, drone permukaan laut (USV), hingga pesawat nirawak berukuran kecil, kini memiliki cakupan penggunaan dan misi yang semakin luas. Senjata-senjata tersebut, ujarnya, menempati posisi penting dalam pendekatan pertahanan Republik Islam Iran.

Kemampuan Drone Iran Kian Matang

Hatami menjelaskan bahwa pengembangan drone Angkatan Darat, khususnya drone Arash, dimulai melalui kerja sama dengan Kementerian Pertahanan dan kemudian berkembang menjadi nota kesepahaman besar antara kedua institusi. Kini, pengembangan tersebut dilakukan dalam skala industri dengan dukungan infrastruktur yang kuat serta pemanfaatan potensi para pakar, perguruan tinggi, dan perusahaan berbasis ilmu pengetahuan. Ia menyebut sebagian besar peralatan Angkatan Darat kini dirancang untuk mendukung pengerahan kekuatan dalam perang asimetris dengan memanfaatkan drone-drone tersebut.

Ia menambahkan bahwa Angkatan Darat saat ini aktif dalam produksi, distribusi, dan pemeliharaan senjata nirawak. Pelatihan penggunaan senjata tersebut juga telah diberikan kepada para personel tempur yang, menurutnya, memiliki keterampilan sangat baik. “Kami dapat mengatakan bahwa kami telah mencapai tingkat kematangan yang baik dalam bidang drone dan sistem nirawak secara umum,” ujarnya.

Hatami mengakui bahwa sebagian peralatan dan fasilitas Iran mengalami kerusakan dalam perang-perang terakhir. Namun, menurutnya, musuh mengira Iran tidak membedakan antara perang simetris dan asimetris. Ia menjelaskan bahwa sebagian peralatan Angkatan Darat Iran memang diperuntukkan bagi perang simetris, sedangkan sebagian besar peralatan dan kemampuan yang dimiliki dirancang untuk menghadapi perang asimetris. Jenis peperangan ini, katanya, membutuhkan kesiapan khusus. Karena itu, Angkatan Darat telah berupaya membangun kesiapan dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Baca juga: Moskow Kritik Sikap Barat yang Mengabaikan Keamanan Nuklir Iran

Siapkan Pasukan dan Peralatan untuk Perang Asimetris

Hatami menegaskan bahwa seluruh empat matra Angkatan Darat Republik Islam Iran berada dalam kondisi siap. Ia mengatakan, dalam perang asimetris sebelumnya, pasukan Iran menggunakan peralatan yang mengejutkan musuh hingga memberikan pukulan keras. Menurutnya, Iran telah mengevaluasi kemampuan lawan dan memahami bahwa pihak tersebut memiliki kapasitas yang signifikan. Meski demikian, dengan mempertimbangkan seluruh faktor itu, Iran telah mempersiapkan diri menghadapi perang asimetris beserta kebutuhan peralatannya.

Ia mengatakan bahwa saat ini Iran berada dalam kondisi yang lebih baik, baik dari segi kuantitas maupun kualitas peralatan yang dibutuhkan untuk perang asimetris. “Kami mengetahui bagaimana musuh akan bertindak dan telah mempersiapkan diri untuk memberikan respons dari titik-titik yang digunakannya,” kata Hatami. Ia juga meyakinkan masyarakat Iran bahwa negaranya berada dalam kondisi yang baik. Menurutnya, para personel Angkatan Darat memiliki semangat yang sangat baik dan terus memproduksi peralatan yang dibutuhkan.

Musuh Hanya Memahami Bahasa Kekuatan

Mengenai perkembangan mendatang dan kemungkinan terjadinya berbagai peristiwa, Hatami mengatakan bahwa tugas utama angkatan bersenjata, khususnya Angkatan Darat Republik Islam Iran, adalah menjamin keamanan dan menghadapi ancaman. Merujuk pada pesan mendiang Pemimpin Revolusi Iran, ia mengatakan bahwa setiap ancaman, meskipun kemungkinan terjadinya hanya satu persen, diperlakukan sebagai ancaman seratus persen sehingga pasukan harus mempersiapkan diri sepenuhnya.

Hatami menyebut musuh Iran saat ini sebagai pihak yang sama sekali tidak dapat dipercaya. “Musuh tidak memahami bahasa selain bahasa paksaan dan kekuatan. Setiap bentuk kelonggaran dianggap sebagai kemunduran, lalu mereka melangkah maju satu langkah,” ujarnya.

Baca juga: Qalibaf Peringatkan AS tentang Mahalnya Biaya Perang dengan Iran

Perkuat Kehadiran di Pesisir dan Laut Sebelah Timur Selat Hormuz

Hatami juga menyinggung aktivitas Angkatan Darat Iran di sebelah timur Selat Hormuz. Ia menegaskan bahwa Angkatan Laut Angkatan Darat Iran memiliki kehadiran yang kuat di laut dan kawasan pesisir dalam wilayah tugasnya di sebelah timur selat tersebut. Menurutnya, kehadiran itu efektif. Ia menyatakan bahwa pihak musuh tidak berani memasuki Laut Oman karena telah memahami bahwa kekuatan yang tangguh menguasai situasi di kawasan tersebut.

Hatami mengatakan bahwa Iran terus memantau perkembangan di wilayah itu dan memperingatkan bahwa setiap kapal musuh yang memasuki kawasan tersebut pasti akan menjadi sasaran. Ia juga menyatakan bahwa Iran memandang blokade laut sebagai bagian dari peperangan dan menganggap pihak yang memberlakukan blokade sebagai musuh.

Terkait aturan yang telah diumumkan Republik Islam Iran mengenai lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, Teluk Persia, dan Laut Oman, Hatami mengatakan bahwa Iran menggunakan berbagai peralatan untuk menerapkan ketentuan tersebut, termasuk ranjau laut dan sejumlah sistem kendali otomatis. Ia menegaskan bahwa Iran senantiasa meminta berbagai negara memahami kondisi yang diberlakukan oleh pihak yang disebutnya sebagai penjahat Amerika Serikat. Menurut Hatami, demi mencegah kerugian terhadap diri mereka sendiri, negara-negara tersebut harus menjalin koordinasi penuh dengan angkatan bersenjata Republik Islam Iran. []

Baca juga: Karhutla Tembus 1,92 Juta Hektare, Api Ancam Permukiman di Kalteng