Internasional
Rincian Kesepakatan Rahasia Trump untuk Mengeruk Minyak Venezuela

Media ABI, 23 Oktober 2026 – Amerika Serikat memperoleh pasokan minyak Venezuela dengan harga diskon melalui sebuah kesepakatan rahasia. Melalui perjanjian yang sama, Washington juga mendapatkan 35 persen saham perusahaan minyak swasta yang terkait dengan miliarder Venezuela, Alejandro Betancourt.
Menurut laporan Kantor Berita Fars pada Jumat (23/10/2026), majalah investigasi Amerika Serikat, ProPublica, pada Kamis mengungkap sejumlah rincian kesepakatan minyak antara pemerintahan Presiden AS Donald Trump dan pemerintah Venezuela. Trump mengumumkan kesepakatan tersebut pada akhir Agustus dan menyebutnya sebagai “kontrak minyak terbesar dalam sejarah dunia”.
Baca juga: Teheran Tak Bedakan Netanyahu dan Trump jika Eskalasi Militer Terjadi
Perjanjian itu ditandatangani atas nama Washington oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Perang Pete Hegseth. Naskah lengkap kesepakatan tersebut lama dirahasiakan hingga akhirnya ProPublica berhasil memperoleh dan memeriksa salinannya.
Menurut laporan ProPublica, perjanjian setebal 18 halaman itu memberikan hak kepada pemerintah AS untuk membeli 20 persen minyak yang diproduksi North American Blue Energy Partners (NABEP) dengan harga 30 dolar AS per barel. Harga tersebut jauh di bawah harga pasar pada periode yang dilaporkan.
Kesepakatan itu juga memberikan AS hak prioritas untuk membeli sisa produksi perusahaan selama 50 tahun. Dalam keadaan darurat nasional, Washington bahkan berhak membeli seluruh minyak yang dihasilkan perusahaan tersebut. Berdasarkan ketentuan perjanjian, pemerintah AS akan menguasai 35 persen saham NABEP melalui pembelian saham perusahaan induknya yang terdaftar di Barbados. NABEP merupakan perusahaan yang terkait dengan Betancourt.
Perusahaan tersebut akan dikelola oleh dewan direksi beranggotakan tujuh orang dengan masa jabatan awal selama 15 tahun. Mayoritas anggota dewan harus merupakan warga negara AS. Perjanjian itu tidak mewajibkan keterwakilan pemerintah Venezuela dalam susunan dewan direksi. Mitra swasta utama dalam kesepakatan kontroversial tersebut adalah Alejandro Betancourt, miliarder Venezuela yang aktivitas bisnisnya di sejumlah negara pernah menjadi objek penyelidikan terkait dugaan pencucian uang.
Baca juga: Yaman Serang Gedung Kementerian Pertahanan Arab Saudi di Riyadh
Sebelumnya, Gedung Putih menyatakan bahwa kesepakatan itu berpotensi menghasilkan sekitar 200 miliar dolar AS bagi Venezuela melalui royalti dan penerimaan pajak. Namun, perjanjian tersebut tidak menjamin realisasi penerimaan sebesar itu. Dokumen yang diklasifikasikan sebagai dokumen sensitif pemerintah tersebut juga memuat klausul kerahasiaan yang melarang perusahaan mengungkap keberadaan maupun isi kesepakatan.
Gedung Putih membela perjanjian itu dengan menyatakan bahwa kesepakatan tersebut akan membantu “menstabilkan perekonomian Venezuela dan menciptakan manfaat berkelanjutan bagi kedua negara”.
Kesepakatan ini berlangsung dalam konteks intervensi AS yang lebih luas di Venezuela. Pada awal Januari, dalam sebuah operasi militer berskala besar, Amerika Serikat menculik Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, dan membawa keduanya ke AS untuk menghadapi dakwaan pidana.
Kesepakatan Minyak dalam Kelanjutan Intervensi AS di Venezuela
Setelah operasi tersebut, Trump menyatakan bahwa Washington akan memainkan peran sentral dalam pemerintahan Venezuela tanpa batas waktu yang ditentukan, hingga kondisi untuk peralihan kekuasaan secara resmi terpenuhi. Ia juga mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan minyak AS akan masuk ke Venezuela untuk memulihkan industri perminyakan negara tersebut.
Saat itu, Trump menyatakan, “Kami akan mengambil kembali minyak yang, sejujurnya, seharusnya sudah kami ambil sejak lama.” Ia menambahkan bahwa AS akan mengganti biaya operasi militernya menggunakan kekayaan minyak Venezuela.
Baca juga: Trump dan Dahaga Penghargaan: “Berikan Pulitzer kepada Saya!”
Pernyataan tersebut menempatkan sumber daya minyak Venezuela sebagai bagian penting dalam kalkulasi kepentingan Washington. Venezuela memiliki lebih dari 300 miliar barel cadangan minyak terbukti, menjadikannya negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia.
Sebagian besar cadangan tersebut berada di Sabuk Minyak Orinoco dan terdiri atas minyak mentah berat dengan kandungan sulfur tinggi. Dibandingkan minyak yang lebih ringan, jenis minyak ini lebih sulit dan mahal untuk diekstraksi maupun diolah.
Pemanfaatan cadangan tersebut membutuhkan investasi besar dan teknologi khusus. Dengan demikian, kekayaan minyak Venezuela merupakan aset strategis yang sangat besar, sekaligus sumber daya yang memerlukan biaya pengembangan dan produksi yang signifikan.
Meski memiliki cadangan minyak melimpah, Venezuela pada masa pemerintahan Maduro hanya memproduksi sekitar 1,25 juta barel minyak per hari. Angka tersebut jauh di bawah potensi produksinya setelah bertahun-tahun menghadapi kekurangan investasi dan sanksi Amerika Serikat. []
Baca juga: Pentagon Bentuk Lembaga Rahasia untuk Menyabotase Teknologi Negara Lain







