Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Araghchi: Musuh Mengira Iran Lemah dan Kehilangan Daya Tangkal Regional

Published

on

Abbas Araghchi menyatakan musuh salah menghitung kekuatan Iran dan keliru menilai daya tangkal regional Teheran.
Abbas Araghchi menyatakan musuh salah menghitung kekuatan Iran dan keliru menilai daya tangkal regional Teheran. (Foto: Mehrnews Agency)

Ahlulbait Indonesia, 20 Juli 2026 – Menteri Luar Negeri Iran, Sayyid Abbas Araghchi, menyatakan bahwa pihak lawan melakukan kesalahan perhitungan strategis karena tidak memperkirakan Iran mampu bertahan menghadapi tekanan militer dan politik. Menurutnya, perang justru ditempuh setelah upaya memaksa Teheran menghentikan pengayaan uranium melalui jalur diplomasi tidak membuahkan hasil.

Dalam wawancara dengan program Majaraye Jang (Kisah Perang) yang dikutip Mehr News Agency pada Minggu (19/726), Araghchi menegaskan bahwa tim perunding Iran tidak pernah menjadikan kepentingan politik pribadi sebagai dasar pengambilan keputusan.

“Kami tidak bekerja demi menjaga reputasi atau masa depan politik kami. Mengambil keputusan hanya untuk menyelamatkan citra pribadi adalah sebuah pengkhianatan,” ujarnya.

Baca juga: MQ-9 Berguguran, Langit Iran Jadi Neraka bagi Drone-drone Super Mahal AS

Araghchi mengungkapkan bahwa selama proses perundingan dibentuk sebuah komite khusus di bawah Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang menangani seluruh pembahasan terkait negosiasi nuklir. Komite yang kemudian dikenal sebagai Komite Enam Orang itu awalnya dipimpin syahid Ali Shamkhani dan selanjutnya berada di bawah kepemimpinan Ali Larijani ketika menjabat Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.

Ia menuturkan bahwa meskipun fasilitas nuklir Iran mengalami kerusakan akibat perang selama 12 hari sehingga aktivitas pengayaan praktis memasuki masa penghentian sementara secara paksa, pemerintah tetap mendapat mandat untuk menolak tuntutan penghentian permanen pengayaan uranium.

Menurut Araghchi, menerima tuntutan tersebut tidak menjamin perang dapat dihindari. Sebaliknya, langkah itu justru akan menjadi kerugian yang lebih besar karena berarti Iran menyerahkan kehormatan dan kedaulatannya di bawah tekanan militer.

Menanggapi pandangan bahwa Iran sebaiknya menerima penghentian sementara hingga berakhirnya pemerintahan Donald Trump dan Benjamin Netanyahu, Araghchi menilai langkah itu hanya akan mendorong lawan menjadikan perang sebagai instrumen untuk memaksakan tuntutan politik.

“Jika kami menerimanya, musuh akan belajar bahwa mereka bisa mencapai tujuan melalui perang. Itulah kekalahan yang sesungguhnya, bukan kerusakan fasilitas negara,” katanya.

Baca juga: CENTCOM Akui Dua Personel Militer AS Tewas dalam Serangan Balasan Iran di Yordania

Araghchi juga mengungkapkan bahwa meskipun putaran perundingan sebelumnya tidak menghasilkan kesepakatan, Iran tetap menyetujui pertemuan tim teknis di Wina. Namun, pada malam menjelang pecahnya konflik, ia mengaku telah melihat situasi berkembang ke arah konfrontasi militer.

Menurutnya, Benjamin Netanyahu meyakinkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menyeret Washington ke dalam perang dengan keyakinan bahwa Republik Islam Iran dapat dijatuhkan. Namun, Araghchi menilai strategi tersebut gagal karena Iran tetap bertahan.

Ia mengatakan, tuntutan awal pihak lawan berupa “penyerahan tanpa syarat” pada akhirnya berubah menjadi kesediaan menandatangani nota kesepahaman dengan Iran, yang menurutnya menunjukkan pengakuan terhadap kedaulatan Republik Islam.

Araghchi menambahkan bahwa setelah gagal memaksa Iran menerima kebijakan nol pengayaan uranium melalui perundingan, pihak lawan memilih jalur militer. Namun, menurutnya, mereka kembali melakukan kesalahan perhitungan karena tidak memperkirakan tingkat perlawanan Iran dan akhirnya harus meningkatkan kesiapan serta pengerahan peralatan militernya.

Ia menegaskan bahwa keputusan untuk berperang sepenuhnya berasal dari pihak lawan, sementara Iran berupaya mengarahkan dinamika krisis agar tetap diselesaikan melalui jalur selain perang.

Menurut Araghchi, seluruh rangkaian konflik berawal dari asumsi bahwa Iran berada dalam posisi lemah dan kehilangan daya tangkal regional, sehingga diyakini akan terpaksa mengandalkan kemampuan nuklir sebagai pengganti kekuatan pencegahnya. []

Baca juga: Analis Israel: Tak Ada yang Mampu Menghantam AS Seefektif Iran Sejak Perang Vietnam